11/06/2017
TUNJUKKAN AKU PASAR
Abdul Rahman bin Auf adalah antara sahabat yang terkenal dalam sirah. Dia adalah seorang pengusaha yang sangat terkenal. Ia adalah saudagar tersohor di Makkah sebelum hijrah ke Madinah.
Abdul Rahman bin Auf ikut berhijrah ke Madinah, dalam keadaan sehelai sepinggang. Semua harta beliau ditinggalkan di Makkah, dibawah perawatan partner beliau, Umayyah bin Khalaf. Ironisnya Umayyah adalah penentang hebat Islam dalam era jahiliyah Makkah.
Ketika tiba di Madinah, beliau bertanya, "Tunjukkan kepadaku di mana pasar". Dari pertanyaan hebat bermanfaat ini, kita dapat membaca mindset Abdul Rahman bin Auf. Pengusaha yang orientasinya pasar.
Meskipun beliau tidak ada modal dan belum ada networking saat sampai di Madinah, apa yang beliau ada adalah pengalaman bisnis dan itulah yang akan ia gunakan. Dia ingin melihat dan mempelajari pasar.
Abdul Rahman bin Auf adalah model orang bisnis yang tidak ada modal uang. Dia juga tidak berpikir macam kebanyakan orang, "aku ingin jual apa?"
Dia ingin ke pasar. Dia ingin memulai bisnisnya di Madinah. Dimulai kembali saat kehilangan segala galanya.
Setelah dia tahu pasar di situ, baru lah dia mulai berpikir, apa produk yang dapat dijual oleh beliau dalam lingkungan pasar di Madinah.
Kelainan ini nyata dengan mayoritas pengusaha sekarang. Belum apa apa lagi, sudah memikirkan produk apa yang ingin dijual. Belum apa apa lagi sudah mau jual produk terkilang ledakan ratus ribu ringgit.
Belum apa apa lagi, sudah memikirkan ingin buat pinjaman sebagai modal untuk buka bisnis. Kita selalu parkir modal kewanagan di tempat nomor satu dalam daftar prioritas.
Faktanya ia berada di tempat kelima dalam urutan lima modal bisnis. Ketika Nabi Muhammad (baca selawat) mengatakan Abdul Rahman itu, ketika dia menjual batu sekalipun, batu akan lakujual.
Ini menunjukkan Abdul Rahman Auf itu adalah seorang yang memiliki bakat menjual yang tinggi. Bakat menjual adalah antara tiga bakat yang bisa ada pada pengusaha dimulai dari bakat buat, bakat jual dan bakat bisnis.
Begitupun untuk catatan, Nabi Muhammad (baca selawat) sepanjang perjalanan kewirausahaan, tidak ada bukti Baginda Rasul membuat produk sendiri kecuali ada dicatat dalam usia 36 tahun, ada buat pabrik kulit. Itupun seketika sebelum Baginda Rasul pensiun terus dari setiap transaksi, untuk mulai bersunyi di Gua Hirah.
Nabi Muhammad (baca selawat) tahu bakat jual itu ada dalam diri Abdul Rahman bin Auf. Kisah paling masyhur, bagaimana ia jual unta dengan harga biaya, namun ia dapat buat keuntungan.
Jual dengan harga biaya. Cuma pindah lokasi sehingga depan sikit pada pintu masuk pasar dan dapat untung dari talinya.
Dalam sejarah, Abdul Rahman bin Auf juga mementingkan transaksi tunai. Biar untung sedikit asalakan tunai. Begitukah prinsip Abdul Rahman bin Auf.
Fakta nyata, mulailah dengan kenal pasti apa yang pasar inginkan. Abdul Rahman bin Auf membuktikan upaya niaga bakat luar biasa apabila dapat menguasai pasar di Madinah dengan cepat dan mulai mengembangkan bisnis ke tempat lain p**a.
Meski Abdul Rahman bin Auf memulai bisnis dengan sehelai sepinggang ia tidak berutang dan akhirnya beliau menguasai pasar dalam dan luar Madinah.