“Pak Tugiman, 35 tahun beternak sapi asal Bantul, Yogyakarta. Bukan hanya Pak Tugiman, ternyata banyak peternak di Indonesia yang bernasib serupa seperti beliau.”
Bertolak belakang dari kisah Pak Tugiman, lahirlah sebuah ide berupa aplikasi yang bernama Bantuternak. Bantuternak adalah aplikasi yang menghubungkan antara peternak dengan pemodal serta memberikan pendampingan. Usaha start-up ini terc
etus dari beberapa mahasiswa yang mengikuti program Innovative Academy, sebuah inkubasi level kampus yang dikelola Universitas Gadjah Mada (Direktorat Pengembangan Usaha dan Inkubasi Universitas Gadjah Mada) dengan Kibar. Cara kerja Bantuternak:
1. Menunggu peternak terbantu dengan nominal yang tersedia di aplikasi.
2. Setelah terpenuhi, tim Bantuternak akan langsung membelikan sapi jantan untuk digemukkan (estimasi waktu 4 bulan).
3. Bantuternak akan mendampingi peternak dan akan ada update tiap minggunya, mulai dari perkembangan berat badan.
4. Setelah pemeliharaan selama 4 bulan, diperlukan waktu 1 bulan untuk proses penjualan sapi tersebut.
5. Tepat bulan ke-5, uang akan kembali melalui saldo virtual yang ada di aplikasi.
6. Terdapat sistem bagi hasil keuntungan penjualan sapi: 70% untuk peternak, 20% untuk pemodal, dan 10% untuk Bantuternak.
6. Setelah uang kembali, pemodal bisa membantu kembali peternak yang lain atau mencairkan dana tersebut. Bantuternak kini hadir untuk membantu Pak Tugiman dan peternak sapi lainnya. Tetapi, Bantuternak tidak mampu berdiri sendiri. Anda ingin membantu Pak Tugiman dan peternak lain?
1. Minimal membantu Rp.10.000. Tujuannya Bantuternak ingin membuat kebiasaan kepada sesama manusia untuk tolong menolong. Mungkin uang yang dikeluarkan tidak terlalu banyak, tetapi manfaat yang dirasakan sangat besar sekali.
2. Pemodal bisa memantau mulai dari uang terkumpul, proses pembelian sapi, perkembangan berat badan, penjualan, hingga pengembalian dana. bit.ly/bantuternak
Salam hangat,
Bantuternak
Sejahterakan peternak Indonesia