09/06/2019
~Rejeki ada takarannya.
Tadi malam sedang berkumpul bersama teman sambil kuliner, tiba-tiba seorang ibu menceletuk:
Ibu: mendapatkan uang banyak kok sulit ya... Padahal aku tidak pernah berhenti cari uang. Memang takaran rejeki ku cuma segini.
Saya: maaf ibu, memang rejeki itu ada takarannya?
Ibu: ya ada to mas, buktinya aku sudah berusaha sangat keras tapi keuanganku cuma segini-gini aja
Saya: terus takaran rejeki keungan ibu seberapa?
Ibu: kalau aku ibaratkan hanya segelas mas, jadi ya tumpah terus..
Saya: ibu hebat ya tau takaran rejeki..
Saya: ibu sejak kapan punya keyakinan bahwa rejeki ibu hanya satu gelas?
Ibu: sejak kecil mas, karena sejak kecil aku sering mendengar orang tuaku, tetanggaku membicarakan bahwa rejeki itu sudah diatur ama Tuhan, kalau Tuhan sudah menentukan rejeki seseorang itu kecil ya akan terus kecil.
Saya: ibu yakin dg paham seperti itu?
Ibu: ya buktinya rejekiku cuma segini terus mas..
Saya: ibu sadar gak bahwa anda itu sekarang sama juga mengatakan bahwa Tuhan itu tidak adil. Kalau memang benar paham ibu tentang rejeki itu seperti itu, kenapa diluaran sana ada banyak orang yg sukses, punya banyak uang, punya keluarga bahagia..
Ibu: ah.. Itu kan mereka mas, itu memang nasib mereka.
Saya: berarti nasib ibu?
Ibu ini langsung terdiam..
Sahabat yg baik, apa benar rejeki itu sudah diatur oleh Tuhan dan apa banar Tuhan sudah memberi takaran rejeki kita? Mari kita simak dan perhatikan Firman Tuhan ini:
“Engkau masukkan malam ke dalam
siang dan Engkau masukkan siang ke
dalam malam. Engkau keluarkan yang
hidup dari yang mati, dan Engkau
keluarkan yang mati dari yang hidup.
Dan Engkau beri rezeki siapa yang
Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)”
(QS al-‘Imran [3]:27)
Dari firman Tuhan diatas sudah jelas bahwa Alloh memberikan rejeki kepada kita itu tanpa batas. Terus siapa yg membatasi rejeki itu, ya pikiran manusia itu sendiri. Seperti paham ibu diatas, kalau di telusuri lebih jauh sebenarnya paham itu tidak ada ujung pangkalnya yaitu KATANYA, KATANYA dan KATANYA. Pertanyaannya sekarang, kalau memang Tuhan memberikan rejeki ke hambanya itu tanpa batas kenapa ibu diatas merasa selalu mendapatkan rejeki kecil?
Baik kita simak hadits ini:
Artinya: Aku menuruti prasangka hamba
terhadapKu, jika Ia berprasangka baik terhadapKu, maka baginya kebaikan, maka jangan berprasangka terhadap Allah kecuali kebaikan. ( Bukhori Muslim).
Sudah jelas kan sekarang.... Tuhan selalu mengabulkan apapun yg menjadi prasangka kita kepada Tuhan. Bicara mengenai perasaan itu adalah hati=pikiran bawah sadar. Dan pikiran bawah sadar itu adalah bagian dari pikiran. Lagi-lagi kembali ke PIKIRAN kita masing-masing. Dan mulai sekarang kita harus jeli mengenai pemahaman dari luar. Dan belum tentu paham itu BENAR. Dan pikiran kita (pikiran bawah sadar) tidak akan pernah perduli apakah informasi itu benar atau tidak. Intinya kalau kita sering mendengar informasi atau pahan dari luar kalau kita tidak bisa mengontrol pikiran kita, paham itu walau blm tentu benar akan membuat kita yakin. Dan kalau kita sudah yakin, tau kan akibatnya.... Semua menjadi kenyataan.
Terus bagaimana mengenai rejeki itu sudah diatur oleh Tuhan? Ya, rejeki sudah diatur oleh Tuhan sesuai dg prasangka kita. Sudah jelaskan semuanya....