13/02/2020
Sholawat BURDAH
Muhammad Abdul Mun’im al-Khafaji dalam kitabnya al-Adab fi at-Turats as-Sufi mengemukakan kisah yang melatar belakangi penyusunan Burdah yang pada awalnya berjudul al-Kawakib al-Durriyah yang berarti bintang-bintang yang bergemerlap. Kasidah ini dikarang oleh seorang sya’ir dan juga sufi dari Busir yang dikenal dengan nama Maulana al-Busiri. Wafat pada tahun 696 H, beliau hidup di dua masa kekuasaan Islam di Mesir yaitu Dinasti Ayyubiyah dan kekuasaan Mamalik. Sya’ir bagi al-Busiri merupakan karya seni yang tidak dapat dipisahkan darinya. Syair gubahannya banyak bercorak pujian (madh) atas Nabi sehingga ia dijuluki Madih ar-Rasul.
Kasidah Burdah merupakan kasidah terpopuler dibandingkan kasidah beliau yang lainnya. Kasidah ini disusun ketika beliau sedang menderita sakit stroke yang menyebabkan setengah badannya lumpuh.
Pada suatu malam, ia berdo’a dan bertawassul dengan kasidah ini seraya memohon syafa’at dan pertolongan dari Allah swt agar penyakitnya hilang. Setelah menangis dan tertidur, beliau bermimpi bertemu Rasulullah saw. dan langsung membacakan kasidah Burdah ini dihadapan sang Rasul.
Rasulullah saw. sangat senang dan mengusap-usap badannya kemudian memberi hadiah berupa Burdah (baju besar yang dapat dijadikan selimut). Ketika terbangun, penyakitnya diangkat oleh Allah swt dan beliau merasa sehat kembali, namun peristiwa dalam mimpinya tadi tidak beliau ceritakan pada siapapun.
Di pagi harinya saat keluar rumah, beliau bertemu seorang fakir miskin seraya berkata padanya; “Tuanku, aku ingin agar sekiranya tuan memberikan padaku kasidah yang tuan sampaikan pada baginda Rasul tadi malam”. Dengan penuh tanya al-Busiri berkata “Kasidah yang mana yang engkau maksud?” Si fakir tadi menjawab “Kasidah yang awal baitnya berbunyi…
أَمِنْ تَذَكُّرِ جِيْرَانٍ بِذِيْ سَــــلَــمٍ ۞ مَزَجْتَ دَمْعًا جَرَيْ مِنْ مُقْلَةٍ بِـــدَمِ
Imam Albushiry adalah pribadi terkemua seorang seorang yang alim lagi mengamalkan ilmunya, seorang shaleh yang tenggelam dalam mencintai Allah dan Rasulullah...