15/03/2018
Saya memulai bisnis ini saat berusia tujuh belas tahun.
Saya baru saja mendapatkan SIM dan suatu hari Ayah memanggil saya dan berkata, "Sanjay, Ayah ingin membelikanmu mobil baru!"
Karena sudah paham perangai ayah saya, jika beliau memutuskan membelikan saya sesuatu, pasti ada udang di balik batu.
Beliau berkata, "Sanjay, Ayah ingin membelikanmu mobil baru!"
Saya membalas, "Kenapa, Yah?"
Beliau mengatakan betapa bangganya beliau pada saya karena lulus SMA dengan nilai sangat bagus, dan beliau ingin membelikan saya mobil sebagai hadiah kelulusan.
"Sungguh? Tidak ada alasan lain?" balas saya, sedikit curiga.
Seperti yang sudah saya duga… beliau akhirnya menceritakan kondisinya.
"Satu hal lagi, Sanjay! Ada banyak agen baru yang bergabung dengan perusahaan kita, jadi tugasmu hanya mengantar ke tempat pelatihan dan menjemput mereka!" katanya.
"Sudah? Itu saja?" saya terperangah tak percaya.
"Ada lagi, Sanjay! Kau juga harus duduk di ruang pelatihan untuk memastikan para agen tidak melarikan diri selama pelatihan berlangsung! Tugasmu adalah menghadiri pelatihan, memastikan mereka mengikuti pelatihan itu dan antarkan mereka pulang. Itu saja!" katanya.
Saya menjabat tangan Ayah, menyepakati perjanjian itu dan selama 6 bulan berikutnya, saya menghadiri pelatihan demi pelatihan.
Bayangkan: Saya mengikuti pelatihan, setiap hari selama enam bulan. Setiap hari! Menurut Anda, apa yang akan terjadi setelah enam bulan? Saya mengetahui lebih banyak hal dibanding sang pelatih.
Jadi, saya mendatangi ayah saya lagi dan berkata, "Ayah, sepertinya aku bisa menjual asuransi jiwa."
"Sanjay, kau bahkan bukan sarjana. Tahu apa kau tentang asuransi? Kau baru lulus SMA dan bahkan tidak memiliki lisensi agen asuransi. Siapa yang akan mau mendengarmu?" balas ayah saya.
"Ayah, percayalah, menjual asuransi jiwa itu sangat mudah," kata saya penuh percaya diri.
Setelah diskusi yang cukup panjang, ayah saya akhirnya menyetujui niat saya untuk menjual asuransi jiwa, dengan satu syarat. Arghh… Lagi-lagi, syarat dari beliau.
"Saran apa pun yang kauberikan harus diperiksa oleh penasihat senior," kata beliau dengan nada sangat serius.
Saya menyetujui syarat ini dan begitulah awal dimulainya perjalanan saya di bisnis asuransi jiwa. Saat itu, saya tidak pernah berharap bahwa dalam waktu singkat saya bisa menjadi salah satu penjual terbaik di industri ini…
Jujur saja, saya tidak menduganya…
Tahun Pertama Saya yang Sulit.
Seperti agen baru lainnya, saya harus menghadapi masalah terbesar di industri kami.
*Memprospek!*
Menemukan klien-klien yang bisa diprospek. Begitu Anda menemukan klien, pasti Anda bisa mudah menjual. Bagaimanapun juga, menemukan klien adalah bagian tersulitnya.
Jadi, beginilah cara saya memprospek.
Saya mendatangi teman baik ayah saya dan berkata, "Paman, saya akan mengajari putri Paman cara menabung!"
Beliau berkata, "Sanjay, seberapa baik kau mengenal putriku?"
Saya menjawab, "Saya sangat mengenalnya!"
"Apa kau tidak tahu SATU-SATUNYA hal yang dia tahu cuma cara menghambur-hamburkan uang? Setiap bulan dia akan berbelanja produk terbaru Prada, Gucci atau Chanel! Dia hanya tahu cara menggesek kartu kredit," ujarnya sedih.
Saya pun berkata, "Jangan khawatir, Paman. Saya akan mengajarinya cara menabung. Dengan satu syarat, berapa pun uang yang bisa dia simpan, Paman harus menabung dalam jumlah yang sama. Jadi, jika dia bisa menabung $500, Paman akan menabung $500 untuknya."
"Jangankan $500, aku akan memberimu $1,000!" balas beliau.
YES!!! Saya mendapatkan komitmen ribuan dolar ini dan saya pun pergi menemui teman baik saya yang bernama Z.
Saya berkata, "Z, ayahmu setuju untuk menggandakan uang sakumu. Tetapi ada syaratnya: Kau harus membuka tabungan bersamaku. Di akhir hari, kau akan menabung $500, sementara ayahmu akan menabung $1,000 untukmu!"
Dia berkata, "Sanjay, kau ini tidak tahu ayahku. Dia itu orang yang sangat pelit! Dia tidak akan mau memberimu satu dolar pun!"
Saya meyakinkannya untuk tidak khawatir dan yang dia harus lakukan hanya membuka tabungan bersama saya.
"Jangan khawatir, itu akan kuurus. Kau hanya perlu membuka tabungan bersamaku, kau menabung $500 setiap bulan dan aku akan memastikan dia memberimu $1,000."
Ini cara saya memenangkan kasus penjualan pertama! Mengagumkan, kan?
Dalam tahun pertama, saya menjual *60 case*. Semuanya teman sekelas saya. Inilah cara saya mendapatkan pengakuan dari *MDRT*. Saya berusia *19 tahun* saat pertama kali memenuhi syarat menjadi anggota MDRT dan itu kehormatan yang sangat besar bagi saya!
Namun, ada masalah besar. Teman-teman sekelas saya sama, orang tua mereka juga sama, jadi bagaimana cara saya mendapatkan prospek baru? Bagaimana saya mencapai target saya di tahun kedua?
Jadi, saya kembali ke Paman pertama tadi (ayah teman sekelas saya) dan berkata, "Paman, putri Paman punya tabungan pensiun, tetapi Paman tidak! Paman menabung $1,500 untuknya, jadi Paman setidaknya harus menyimpan $3,000 untuk tabungan pensiun Paman, kan? Karena Paman lebih tua!"
Cukup adil, di tahun kedua, saya mendapatkan 180 kasus dan itulah cara saya meraih gelar Top of the Table.
Setelah itu muncul masalah lagi. Bagaimana Anda mengulang kesuksesan yang sama di tahun ketiga?
Karena teman-teman kelas saya tetap sama dan orang tua mereka pun pasti tidak akan berubah, saya harus menjual pada siapa?
Sangat sederhana! Saya pindah ke pasar perguruan tinggi!
Jadi, saya berganti kampus. Hingga hari ini, saya telah mendapatkan 2 gelar sarjana, 3 master, dan saat ini sembari menulis buku ini, saya sedang menyelesaikan gelar PhD. Semua ini demi satu tujuan, memprospek!
Nah, jika ada salah satu dari Anda yang mengalami masalah memprospek, Anda kini tahu solusinya! Kembali saja berkuliah.
Menariknya, teman sekelas saya di level PhD adalah menteri-menteri senior di pemerintahan. Ini membuka lebih banyak peluang bagi saya untuk bekerja sama dengan pemerintah dalam proyek-proyek yang berpotensi yang memengaruhi banyak nyawa. Saya sangat bersyukur mendapatkan kesempatan-kesempatan ini.
Jadi, seperti yang bisa Anda duga, saya bertemu banyak orang baru setiap kali berpindah universitas. Beginilah cara jaringan saya berkembang.
Saya yakin saya hanya bekerja bersama orang-orang yang saya pedulikan atau saya sayangi. Saya tidak akan membuang energi untuk orang yang tidak saya pedulikan/cintai atau yang tidak penting.
Coba pikirkan hal ini. Berapa banyak orang meninggal dunia tiap harinya? Mungkin jauh lebih banyak dari yang bisa kita hitung. Namun, tanyailah diri Anda sendiri dengan jujur, apakah kita peduli tentang hal itu? Jawabannya tentu tidak karena kita tidak mengenal orang-orang yang meninggal itu.
Lagipula, itulah realitas! Hanya untuk *orang-orang yang kita pedulikanlah* kita harus mengabdikan waktu kita. Jadi, saya hanya akan bekerja *bersama Anda jika saya peduli pada Anda*. Inilah cara *saya memulai di bisnis ini,* memakai prinsip mendasar ini, yaitu *membantu orang-orang yang benar-benar saya pedulikan.*
Anda lihat, presentasi saya sangat sederhana. Saya bukan pembicara atau pelatih profesional. Saya hanya praktisi. Saya menjual asuransi setiap hari dalam hidup saya. Saya berhasil menjual satu produk asuransi kemarin malam, dan berusaha menjual lagi pagi berikutnya. Ini yang saya lakukan setiap hari.
Saya bangga menjadi agen asuransi! Anda pun bangga, kan?