29/03/2016
MENGAPA PERLU PELUNASAN KARTU KREDIT ? (Tulisan 1)
(Edisi Back To Basic)
Saat kita memiliki kartu kredit baru yg kita gunakan untuk diputarkan dananya untuk usaha, sering kali kita kurang mengerti caranya mengelola dana dan tagihan kartu-kartu tersebut.
Cara yang umumnya dilakukan adalah sekedar melakukan penarikan uang lewat jasa gesek tunai, lalu menunggu sampai tagihan kartu kredit muncul, dan tagihan dibayarkan. Sayangnya cara ini kelihatannya simple tapi memiliki banyak kesalahan mendasar :
1. Si pemilik kartu tidak mengerti cara kerja billing tagihan kartu kredit dan sering berakibat tidak memeriksa tagihannya lewat billing tagihan, tapi langsung dibayarkan saja.
2. Si pemilik kartu tidak mengerti cara management kartu kredit yang baik, apalagi administrasinya tidak ditata secara baik alias berantakan, akibatnya akan tidak akuratnya data-data yang diperlukan seperti sisa limit, total pemakaian dan lain-lainnya. Inilah yang menyebabkan kualitas transaksi di billing kartu kredit terlihat sangat buruk dan transaksi nya monoton, sehingga beresiko terkena “Indikasi Gestun / gesek tunai”.
Pada dasarnya secara umum, pengguna kartu kredit walaupun tahu tentang pentingnya bertransaksi yang baik dan natural, tapi tetap hanya mengandalkan transaksi gesek tunai saja.
Masalahnya banyak hal yang diperlu diketahui tentang transaksi gesek tunai yang baik dan natural yang terdiri dari 4 Element Penting, yaitu sbb :
1. NOMINAL TRANSAKSI.
Kesalahan terbesar yang umumnya terjadi karena kurang pahamnya logika bahwa transaksi gesek tunai adalah transaksi yang cenderung abnormal. Misalnya kartu kredit limit Rp 20 juta, tapi digesek sampai Rp 19 juta sekaligus. Secara teknis, limit menunjukan kemampuan belanja kita yang didasarkan dari kemampuan bayar.
Tetapi secara logika perbankan, alangkah aneh seseorang yang memiliki kemampuan bayar Rp 20 juta tapi langsung menghabiskannya dalam 1 kali transaksi. Sudah jelas cara ini sangat diharamkan, karena beresiko terkena “Indikasi gestun”. Indikasi gestun dalam kondisi yang ekstrim (pada bank-bank penerbit tertentu) bisa mengakibatkan penurunan limit kartu, penolakan thp permohonan kenaikan limit atau penambahan kartu baru, bahkan diblokir.
2. VARIASI MERCHANT.
Ini juga masalah klasik. Artinya jangan melakukan gesek tunai dgn merchant yang itu-itu saja (dalam kondisi tertentu ada beberapa bank yang mudah sekali mendeteksi perilaku ini).
3. TIMING TRANSAKSI.
Ini yang sering sekali dilupakan. Bertransaksi di tempat “A” lalu bertransaksi di tempat “B” hanya dalam waktu 5 atau 10 menit. Padahal jarak tempat “A” dan tempat “B” cukup jauh (misalnya 10 km di daerah jabodatabek) : apa mungkin belanjanya pakai helicopter ? ha..ha..ha..ha..
4. FREKWENSI TRANSAKSI.
Jumlah transaksi gesek tunainya harus cukup aktif, misalnya minimum 3 atau 4 kali transaksi per bulan. Dalam banyak kasus, kita sendiri menghadapi kondisi karena sibuk dan tidak punya waktu, transaksi hanya 1 – 2 kali per bulan. Hasilnya kami sendiri pernah limitnya diturunkan menjadi 50% gara-gara transaksi yang monoton ini.
Jadi definisi transaksi yang baik dan benar adalah harus merangkum 4 elemen tersebut : Nominal transaksi + Variasi merchant + Timing transaksi + frekwensi transaksi. Inilah yang disebut variasi transaksi yang sesungguhnya. Tidak bisa hanya bergantung pada 1 elemen saja.
Harus diakui cara ini adalah sulit untuk dipenuhi terutama untuk orang awam (belum memiliki pengetahuan kartu kredit yang baik) dan orang yang sibuk.
Jadi, kalau mau melakukan transaksi yang cantik dan aman itu ternyata tidak mudah dan tidak mungkin murah. Mengapa ?? Karena membutuhkan konsentrasi, biaya, tenaga, dan sistem adminitrasi yang baik. Tidak semua orang memiliki ketrampilan dan sumber daya ini.
Salah satu solusi yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan transaksi pelunasan / Cuci / Rolling. Mengapa ?
Tunggu jawabannya di tulisan kami ke-2.