31/08/2021
Bagaimana Menjadi Guru Hebat dus Dahsyat?
: om Sukamoto, guruekstrakurikuler.-
Pertanyaan ini dan semacam itu, sering saya dengar dan simak, dan juga pernah dipertanyakan kepada diri saya.
Menurut saya, pertanyaan itu jauh lebih penting ditanyakan oleh seorang guru kepada dirinya sendiri, ketimbang diajukan kepada kepada orang lain. Sebab jika diajukan kepada orang lain, --sepanjang pengalaman saya, Anda hanya akan memperoleh tricks and tips perihal bagaimana menjadi guru [: menjalankan kerja sebagai guru] secara sedikit lebih baik, efektif atau efisien.
Akan tetapi jika pertanyaan: Bagaimana Menjadi Guru Hebat dus Dahsyat itu Anda ajukan kepada diri Anda sendiri dengan sungguh-sungguh, Anda buka saja bakal memperoleh tricks and tips dalam menjalankan profesi keguruan, namun Anda sudah satu langkah menuju menjadi seorang Guru Hebat nan Dahsyat. Dan itu adalah pertanyaan yang bisa mengubah hidup Anda, cara pandang, serta seluruh sikap lahir-batin Anda sebagai seorang Guru.
PERCAYA-lah!
Saya mengatakan hal itu dengan sepenuh hati, sebab saya sendiri sudah mengalami dan merayakannya; mempertanyakannya kepada diri sendiri, mencoba menjawabnya, mempraktikkan, dan melihat menyaksikan hasil-hasilnya.
Saya mempertanyakan pertanyaan itu kepada diri saya sendiri, kala belum lama lulus dari SGA [: Kulliyatul Muallimin] dan memulai menjalani tugas mengajar [: widya bhakti]—sekarang disebut Guru wiyata Bhakti yang lalu kepleset diartikan sebagai Guru Honorer, dengan rentang minimal 1 tahun secara sukarela di manapun di wilayah Nusantara. Setelah menjalani pengabdian mengajar minimal setahun itulah, saya diperbolehkan kembali ke almamater untuk menagih hak ijazah saya. Alumni yang mengambil hak ijazahnya itu bakal diwawancarai dan dievaluasi oleh Direktur almamater. Apabila ia dianggap patut dan layak, ia diberi hak ijazahnya dan ditentukan grade kelulusannya [: Tammat, Baik, Baik Sekali, Cumlaude]. Hingga sekarang, hak atas ijazah itu tak pernah saya ambil, sekalipun saya tergolong siswa yang telah menyelesaikan seluruh pelajaran di almamater saya itu dengan predikat Cumlaude.
Apa tidak eman-eman... Sudah sekolah kok malah ijazah tidak diambil?
Tentu saja TIDAK! Saya bahkan melaksanakan widya bhakti saya empat [4] tahun lamanya di tiga [3] institusi pendidikan sekaligus. Hampir berbareng dengan masa kelulusan dari SGA, saya mengikuti ujian persamaan [: Ekstranei/Paket A] dan lulus dengan nilai pas-pasan. So, dengan modal ijazah level SMA [: Sekolah Menengah Aliyah] itu, dan sambil menjalani pengabdian mengajar, saya bisa berkuliah di IKIP Negeri Loenpia, dan lalu memperoleh ijazah Sarjana plus Akta IV. Lalu, bagaimana dengan ijazah SGA almamater saya itu? BIARIN aja! Toh saya tak sepenuhnya merasa telah “Tammat” dari sana. Kurikulum almamater saya itu terlampau dahsyat: «Kurikulum Kehidupan». SAYA merasa belum tammat dan belum pantas ...
Saya mempertanyakan: «Bagaimana Menjadi Guru Hebat» itu kepada diri sendiri, kala menghadapi kenyataan murid pertama saya cuma lima [5] bocil laki-laki dan 10 bocil perempuan. Saat itu, saya staf Pengajar BTQ merangkap sebagai Kepala TPQ dan takmir masjid yang berada di lereng bukit di satu perkampungan mardjinal. Umur saya bahkan belum genap 20 tahun [19+2 bulan] ketika menjadi Kepala Madrasah. Bersamaan dengan itu, saya juga diminta oleh kawan saya Ir. Nurimawan Ahmad, M.Sc. untuk membantunya mendirikan pondok pesantren. Alhasil, orang bisa menduga kalau saya mengalami kehilangan «masa muda». Ah tidak juga! Nyatanya sambil mengajar, kuliah, dus mengurus ponpes, masih saja bisa nge-band, dugem, jalan-jalan, hura-hura, dsb.
Menghadapi kenyataan bahwa murid pertama saya cuma lima [5] bocil: tiga [3] lumayan rajin berangkat dan dua [2] lebih sering bolos, saya bertekad: 1-2 tahun ke depan, murid-murid ini bakal menjadi 150 orang jumlahnya. Tapi bagaimana caranya?
Saya harus menjadi Guru Hebat! Saya merenung, berrefleksi, dus kontemplasi tiga hari-tiga malam diselingi menguras bak, membersihkan kamar mandi, menyapu masjid, dan mengumandankan adzan. Sebagai Guru Widya Bhakti di desa mardjinal itu, saya memperoleh fasilitas tinggal satu petak kamar berdempet di sisi masjid.
Saya renungkan bahwa pelajaran keguruan yang saya terima dari IKIP Negeri Loenpia ternyata masih kurang memadai untuk membantu saya dengan cepat menjadi Guru Hebat. Saya lalu renungi kembali pelajaran-pelajaran yang sudah saya terima dari almamater saya. Saya renungi keadaan murid-murid saya yang cuma lima [5] biji itu, kondisi masyarakat tempat saya berdomisili, serta aspek-aspek yang melingkupi TPQ dan pesantren yang saya kelola bersama beberapa kawan Guru lainnya.
Selepas merenung tiga hari-tiga malam itu, saya berkesimp**an bahwa untuk bisa mengatasi tantangan dan problematika yang saya hadapi dalam mengelola pendidikan adalah: Saya harus menjadi Guru Hebat!
***
Setahun enam bulan kemudian, tekad saya dikabulkan Tuhan. Santri di ponpes sudah 2x lipat jumlahnya. Sementara jumlah siswa TPQ ada 152 santri. Santri-santri bukan saja datang dari warga sekitar TPQ berlokasi, tetapi juga dari mereka yang jauh letak rumahnya. Rupanya, reputasi TPQ kami sudah mulai menggema sampai keluar kampung. Kami bahkan terpaksa harus menolak sejumlah calon siswa yang hendak mendaftar. Hal itu sebab, kapasitas tampung sekolah; kelas sudah overloaded. Pengajaran BTQ dilaksanakan dengan menerapkan sistem shifting per jam. La, bagaimana bisa itu terjadi?!
Begitulah. Meskipun saya setengah berhasil-setengah gagal menjadi “Guru Hebat”, setidaknya saya sudah mengisahkan dan memaparkan kepada Anda bahwa pertanyaan: “Bagaimana Menjadi Guru Hebat dus Dahsyat” itu akan lebih bermakna jika diajukan oleh diri Anda kepada diri Anda sendiri. – Lalu, bagaimana dalam 1.5 tahun keadaan bisa berubah sedemikian signifikan?
Kami menerapkan: “Kurikulum Kegembiraan” dan merayakannya bersama para siswa. *