08/03/2018
'MUSIC TEACHER VS PARENTS' by Ignatia Karina. Dalam proses belajar mengajar musik, seorang murid akan ditempatkan dalam kondisi dimana ia dapat mempelajari musik dengan seoptimal mungkin. Beberapa syarat dan kondisi tertentu (minimal standard), seperti suasana belajar yang kondusif, guru dengan kualifikasi yang tepat, instrumen musik yang memadai (practicing in grandma’s house doesn’t count!), menyiapkan diri sebaik mungkin dengan berlatih setiap hari, merupakan hal-hal yang sepatutnya dilakukan. Tanpa suatu syarat dan kondisi minimal sebuah kelas musik akan menjadi tidak efektif, tidak produktif, dan sia-sia.
Termasuk di dalamnya adalah sikap yang sepantasnya dan sebagaimana mestinya ditunjukkan oleh seorang murid kepada gurunya, seperti: tepat waktu, membawa buku pelajaran yang diperlukan, disiplin dalam berlatih, sopan santun/etika, saling menghormati, membuat PR, dsb. Tentunya hal ini tidak mungkin terwujud tanpa dukungan sang orang tua. Celakanya trend parenting yang salah akan berdampak negatif terhadap perilaku anak dan membuka celah bagi anak untuk memanipulasi kelas musik. Hal ini terjadi berulang kali sehingga orang tua akan secara tidak langsung mengajarkan dan mendukung, bahwa it’s ok untuk memanipulasi guru dan being so “tricky” terhadap pelajaran musiknya. Toh ini cuma musik. Jangan sampai perilaku manipulatif ini menjadi kebiasaan dan mempengaruhi karakter anak.
Hal ini sangat bertentangan dengan konsep dimana orang tua seharusnya menjadi partner dengan guru dalam pendidikan musik anaknya. Komunikasi guru dan orang tua adalah salah satu bentuk perencanaan dalam menyikapi perkembangan dan mengarahkan perilaku anak. Apabila terjadi masalah, orang tua dan guru sangat tahu apa yang harus dilakukan oleh mereka. That way, orang tua terhindar dari rasa malu, guru tidak menjadi marah, dan anak pun menjadi lebih terkontrol dan diharapkan mengalami perubahan yang positif.