Darul Iman - DRI Cikuya / Jatiluhur

Darul Iman  - DRI Cikuya / Jatiluhur Pusat Rehabilitasi Akidah, Ahlak dan Mental
Dzikir 66 solution
Ismul A'dzom. Pimpinan Ust. Didin Syihabudin

09/11/2020
26/08/2020

Update Ashar....
Lanjut lagi ba'da Ashar...

26/08/2020

Pengecoran lantai 3...

Barokalloh...
26/08/2020

Barokalloh...

06/12/2019
*بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم**Kisah "HANDUK BASAH"**Inspirasi kebahagiaan Rumah tangga*Seorang istri memiliki su...
15/11/2019

*بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم*

*Kisah "HANDUK BASAH"*
*Inspirasi kebahagiaan Rumah tangga*

Seorang istri memiliki suami yg cukup menjengkelkan dan punya kebiasaan yg kurang baik.

Yakni meletakan handuk basah begitu saja di atas kasur.

Kadang sering menaruh apa saja yang tidak pada tempatnya.

Belum lagi kalau saat sedang marah...suka membanting barang2 yg ada.

Si istri sering ngomel pada suaminya. Suaminya tak berubah.

Cape marah-2, si istri mulai ganti cara dgn menyindirnya....

*“Bagus sekali ya...handuk basah di tempat tidur..!!!”* ujarnya dgn suara sinis.

Atau menyindir, *“Kapan ya.. handuk bisa jalan sendiri ke jemuran....???”*

Apakah suaminya berubah.... ?

*NO....!!!*

Bahkan suami makin sebel sama si istri.....tingkahnya malah makin menjengkelkan...

Padahal niat sang istri mengajak untuk kebaikan..saling menghargai, supaya rumah tangga bisa bahagia...

*Akhirnya si istri merasa capek...*

*😔 Capek bertengkar, capek bersedih, capek mengeluh...*

😔 *marah sudah... nyindir sudah... tapi tak ada hasilnya....*
Hufff....😔

*Mengubah orang lain susah, apalagi untuk hal yg sudah jadi kebiasaan sejak kecil.*

Tiba2 dia ingat ayat dlm Al-Qur'an:
*"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan mendapatkan (balasan)nya.*
*Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan mendapatkan (balasan)nya pula” (QS. Az Zalzalah: 7-8).*

*Akhirnya... ia mengubah pikirannya sendiri...!!*

*“Baiklah, handuk basah ini akan menjadi permadaniku di surga nanti"*

*"Makin banyak aku memindahkan handuk basah ke jemuran, makin banyak permadani indahku di surga nanti..”* pikirnya.

*Setiap hari ia melihat handuk basah di kasur iapun tersenyum dan bergegas menjemurnya.*
*Dan Perasaannya pun bahagia.*

Apakah handuknya berubah..??
Tidak! Handuk basah tetap ada di kasur.

*Yang berubah cara pandang dirinya terhadap Handuk basah tersebut.*
*Ternyata handuk basah di kasur bisa membuat hatinya bahagia...*

Waktu berlalu... si istri kaget. Tak ada lagi handuk basah di kasurnya. Ia sudah lupa sejak kapan ia tak lagi melakukannya.

*Rupanya melihat keikhlasan istrinya...sang suami tergerak untuk melakukannya sendiri.*

*Dan bukan itu saja karena istrinya tiap hari selalu menampilkan wajah ceria tersenyum berseri, 😊 *membuat suami semakin perhatian, dan menyayangi istrinya...*

*💝 Ternyata bahagia itu bukan dicari..tapi harus diciptakan dari diri sendiri...*

💧 *Bahagia, sedih, syukur, mengeluh, semua adalah tergantung diri kita...* 💧

*Kitalah yang memilih...!*

*NIAT BAIK, caranya harus baik....Selalu berprasangka baik insyaAlloh HASILNYA juga BAIK (HASANAH).*

Allah Ta’ala berfirman,
💖 *“Aku sesuai sangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Dan Aku bersamanya, jika dia mengingat-Ku.”*
(HR. Bukhari 7405 & Muslim 6981)

*Semoga kita Hasanah dunia...Hasanah akherat...*
🤲🤲🤲
*Aaamiin.*
🙏🙏🙏
*Wallohu a'lam.*

Suatu hari, Syaidina Umar sedang duduk di bawah pohon kurma dekat Masjid Nabawi. Di sekelilingnya, para sahabat sedang a...
09/11/2019

Suatu hari, Syaidina Umar sedang duduk di bawah pohon kurma dekat Masjid Nabawi. Di sekelilingnya, para sahabat sedang asyik mendiskusikan sesuatu.

Tiba-tiba datanglah 3 orang pemuda. Dua pemuda memegangi seorang pemuda lusuh yang diapit oleh mereka.
Ketika sudah berhadapan dengan Umar, kedua pemuda yang ternyata kakak beradik itu berkata :
"Tegakkanlah keadilan untuk kami, wahai Amirul Mukminin!"
"Qishashlah pembunuh ayah kami sebagai had atas kejahatan pemuda ini !".

Umar segera bangkit dan berkata :
"Bertakwalah kepada Allah, benarkah engkau membunuh ayah mereka, wahai anak muda?"
Pemuda lusuh itu menunduk sesal dan berkata :
"Benar, wahai Amirul Mukminin."
"Ceritakanlah kepada kami kejadiannya.", tukas Umar.

Pemuda lusuh itu kemudian memulai ceritanya :
"Aku datang dari pedalaman yang jauh, kaumku memercayakan aku untuk suatu urusan muammalah untuk kuselesaikan di kota ini. Sesampainya aku di kota ini, ku ikat untaku pada sebuah pohon kurma lalu kutinggalkan dia (unta). Begitu kembali, aku sangat terkejut melihat seorang laki-laki tua sedang menyembelih untaku, rupanya untaku terlepas dan merusak kebun yang menjadi milik laki-laki tua itu. Sungguh, aku sangat marah, segera ku cabut pedangku dan kubunuh ia (lelaki tua tadi). Ternyata ia adalah ayah dari kedua pemuda ini."

"Wahai, Amirul Mukminin, kau telah mendengar ceritanya, kami bisa mendatangkan saksi untuk itu.", sambung pemuda yang ayahnya terbunuh.
"Tegakkanlah had Allah atasnya!" timpal yang lain.

Umar tertegun dan bimbang mendengar cerita si pemuda lusuh.
"Sesungguhnya yang kalian tuntut ini pemuda shalih lagi baik budinya. Dia membunuh ayah kalian karena khilaf kemarahan sesaat", ujarnya.

"Izinkan aku, meminta kalian berdua memaafkannya dan akulah yang akan membayarkan diyat (tebusan) atas kematian ayahmu", lanjut Umar.

"Maaf Amirul Mukminin," sergah kedua pemuda masih dengan mata marah menyala,
"Kami sangat menyayangi ayah kami, dan kami tidak akan ridha jika jiwa belum dibalas dengan jiwa".
Umar semakin bimbang, di hatinya telah tumbuh simpati kepada si pemuda lusuh yang dinilainya amanah, jujur, dan bertanggung jawab.

Tiba-tiba si pemuda lusuh berkata :
"Wahai Amirul Mukminin, tegakkanlah hukum Allah, laksanakanlah qishash atasku. Aku ridha dengan ketentuan Allah", ujarnya dengan tegas.
"Namun, izinkan aku menyelesaikan dulu urusan kaumku. Berilah aku tangguh 3 hari. Aku akan kembali untuk diqishash".

"Mana bisa begitu?", ujar kedua pemuda yang ayahnya terbunuh.
"Nak, tak punyakah kau kerabat atau kenalan untuk mengurus urusanmu?", tanya Umar.
"Sayangnya tidak ada, Amirul Mukminin".
"Bagaimana pendapatmu jika aku mati membawa hutang pertanggung jawaban kaumku bersamaku?", pemuda lusuh balik bertanya kepada Umar.

"Baik, aku akan memberimu waktu tiga hari. Tapi harus ada yang mau menjaminmu, agar kamu kembali untuk menepati janji." kata Umar.

"Aku tidak memiliki seorang kerabatpun di sini. Hanya Allah, hanya Allah-lah penjaminku wahai orang-orang beriman", rajuknya.

Tiba-tiba dari belakang kerumunan terdengar suara lantang :
"Jadikan aku penjaminnya, wahai Amirul Mukminin".
Ternyata Salman al-Farisi yang berkata.
"Salman?" hardik Umar marah.

"Kau belum mengenal pemuda ini, Demi Allah, jangan main-main dengan urusan ini".
"Perkenalanku dengannya sama dengan perkenalanmu dengannya, yaa, Umar. Dan aku mempercayainya sebagaimana engkau percaya padanya", jawab Salman tenang.

Akhirnya dengan berat hati, Umar mengizinkan Salman menjadi penjamin si pemuda lusuh. Pemuda itu pun pergi mengurus urusannya.
Hari pertama berakhir tanpa ada tanda-tanda kedatangan si pemuda lusuh. Begitupun hari kedua. Orang-orang mulai bertanya-tanya apakah si pemuda akan kembali. Karena mudah saja jika si pemuda itu menghilang ke negeri yang jauh.

Hari ketiga pun tiba. Orang-orang mulai meragukan kedatangan si pemuda, dan mereka mulai mengkhawatirkan nasib Salman, salah satu sahabat Rasulullah S.A.W. yang paling utama.

Matahari hampir tenggelam, hari mulai berakhir, orang-orang berkumpul untuk menunggu kedatangan si pemuda lusuh. Umar berjalan mondar-mandir menunjukkan kegelisahannya. Kedua pemuda yang menjadi penggugat kecewa karena keingkaran janji si pemuda lusuh.

Akhirnya tiba waktunya penqishashan. Salman dengan tenang dan penuh ketawakkalan berjalan menuju tempat eksekusi. Hadirin mulai terisak, karena menyaksikan orang hebat seperti Salman akan dikorbankan.
Tiba-tiba di kejauhan ada sesosok bayangan berlari terseok-seok, jatuh, bangkit, kembali jatuh, lalu bangkit kembali.

”Itu dia!” teriak Umar.
“Dia datang menepati janjinya!”.
Dengan tubuhnya bersimbah peluh dan nafas tersengal-sengal, si pemuda itu ambruk di pangkuan Umar.

”Hh..hh.. maafkan.. maafkan.. aku, wahai Amirul Mukminin..” ujarnya dengan susah payah,
“Tak kukira... urusan kaumku... menyita... banyak... waktu...”.
”Kupacu... tungganganku... tanpa henti, hingga... ia sekarat di gurun... Terpaksa... kutinggalkan... lalu aku berlari dari sana..”

”Demi Allah”, ujar Umar menenanginya dan memberinya minum,
“Mengapa kau susah payah kembali? Padahal kau bisa saja kabur dan menghilang?” tanya Umar.

_*”Aku kembali agar jangan sampai ada yang mengatakan... di kalangan Muslimin... tak ada lagi ksatria... menepati janji...”*_ jawab si pemuda lusuh sambil tersenyum.

Mata Umar berkaca-kaca, sambil menahan haru, lalu ia bertanya :
“Lalu kau, Salman, mengapa mau- maunya kau menjamin orang yang baru saja kau kenal?"

Kemudian Salman menjawab : _*Agar jangan sampai dikatakan, dikalangan Muslimin, tidak ada lagi rasa saling percaya dan mau menanggung beban saudaranya”.*_

Hadirin mulai banyak yang menahan tangis haru dengan kejadian itu.
”Allahu Akbar!”, Tiba-tiba kedua pemuda penggugat berteriak.
“Saksikanlah wahai kaum Muslimin, bahwa kami telah memaafkan saudara kami itu”.
Semua orang tersentak kaget.

“Kalian...” ujar Umar.
“Apa maksudnya ini? Mengapa kalian..?” Umar semakin haru.
Kemudian dua pemuda menjawab dengan membahana :
_*”Agar jangan sampai dikatakan, di kalangan Muslimin tidak ada lagi orang yang mau memberi maaf dan sayang kepada saudaranya”.*_

”Allahu Akbar!” teriak hadirin.
Pecahlah tangis bahagia, haru dan sukacita oleh semua orang.

MasyaAllah..., saya bangga menjadi muslim bersama kita ksatria-ksatria muslim yang memuliakan al islam dengan berbagi pesan nasehatnya untuk berada dijalan-Nya..
Allahu Akbar ... 😭😭😭

Beginilah layaknya contoh umat islam yg sebenarnya, bukan malah saling menghujat satu sama lainnya...

Post By.
Fahri Mulyana

DUNIA MENGALAHKAN AKHIRAT***Setelah memilih belanjaannya pada sebuah supermarket di Perancis, seorang wanita bercadar la...
06/11/2019

DUNIA MENGALAHKAN AKHIRAT
***

Setelah memilih belanjaannya pada sebuah supermarket di Perancis, seorang wanita bercadar langsung berdiri mengantri di kasir untuk membayar.

Saat gilirannya tiba, petugas kasir yg adalah wanita muda Arab tak berhijab itu pun mulai mengecek menggunakan scanner barang belanjaan wanita bercadar tersebut satu per satu.
Setelah beberapa saat, sang kasir itu pun memandangnya dengan arogan lalu berkata, "Kami punya banyak masalah di negeri ini dan salah satunya adalah cadar anda. Kami para imigran datang kesini untuk berdagang saja dan tidak memamerkan agama atau sejarah kami. Jika anda ingin mempraktekkan agama anda dan memakai cadar, maka kembalilah ke negara Arab anda dan berbuatlah sesuka hati anda."

Muslimah berhijab ini pun berhenti memasukkan belanjaannya kedalam kantong belanja lalu membuka cadarnya.
Petugas kasir itupun benar-benar terkejut.
Wanita bercadar yang ternyata berambut pirang dan bermata biru itu berkata, "Saya perempuan Perancis, bukan imigran Arab. Ini adalah negara saya dan inilah Islam saya. Anda terlahir muslimah, menjual agama anda, dan kami disini justru telah membelinya dari anda."

Sang Pen*sta
02/11/2019

Sang Pen*sta

Address

Jln. Industri Asahi Ubrug, Kp. Cikuya, Jatiluhur
Purwakarta
41152

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Darul Iman - DRI Cikuya / Jatiluhur posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share