Agen Prudential Payakumbuh-Lima Puluh Kota

Agen Prudential Payakumbuh-Lima Puluh Kota Agent Prudential menawarkan kebebasan finansial dan waktu anda serta mendapatkan reward terbaik di industri asuransi-unit link.

PERENCANAAN PENGELUARANSalah satu cara mengelola gaji dan mengerem pengeluaran adalah dengan membuat atau melakukan Pere...
03/04/2013

PERENCANAAN PENGELUARAN


Salah satu cara mengelola gaji dan mengerem pengeluaran adalah dengan membuat atau melakukan Perencanaan Pengeluaran !!! Bagaimana Caranya..? Berikut langkah-langkahnya :

1. Banyak juga lho yang berpendapat buat apa bikin perencanaan pengeluaran. Padahal setiap rupiah dihasilkan dari keringat dan energi energi, yang harus dihargai

2. Pernah menghhitung berapa harga kita per hari..? Coba deh hitung jumlah gaji dibagi dengan total hari kerja per bulan.

3. Contoh : Kalau Gaji Rp 5 Juta per bulan, dalam seminggu 5 hari kerja, berarti energi kita dihargai Rp 250 ribu per hari. Jadi kalau beli baju Rp 500 ribu, butuh 2 hari bekerja.

4. Nah, sekaranng setiap kali gajian, apa hal pertama yang biasa dilakukan? Apakah Belanja bulanan? Bayar utang? Zakat? Atau..?

5. Perencana pengeluaran = Sebagai PENGINGAT saat pengeluaran berlebih. Langkah awal , kita harus tahu KBUTUHAN dasar per bulan.

6. Perlu diingat-iangat perbedaan Butuh vs Ingin ! Jadi nonton bioskop ,ngafe itu diluar angka kebutuhan dasar hidup

7. Butuh = u can’t live without it. Dapet angkanya? Nah berapa % biaya kebutuhan hidup tersebut dari total pendapatan?

8. Kalau angkanya diatas 50% artinya gajinya yg kekecilan atau kebutuhan yang berlebihan? Apa yang bisa dilakukan? Apakah masih bisa diturunkan kebutuhan atau keinginannya?

9. Sekarang hitung cicilan hutang. Mulai dari kpr, kpm, kta, kartu kredit, hutang semua temen..semua deh! Berapa total cicilan per bulan.?

10. Ketemu angka total cicilannya? Berapa % tuh dari gaji ? kalau lebih dari 30% hmmm….butuh debt management nih!

11. Selama ini sudah investasi belum ? Berapa % dari pendapatan.? Inget loh ,invest buat pensiun itu palingg ideal dilakukan sejak pertama kali bekerja !

12. Zakat, infaq, sedekah bagaimana? Sdh dialokasikan tiap bulan apa belum? 2.5% wajibnya….Giving nya?

13. Butuh bersenang-senang..? Buat perencanaan juga d**g, biar ga kebablasan. Idealnya maksimal 10% dari pendapatan itu bida dipake buat bersenang-senang.

14. Nah, berarti ada kebutuhan hidup, cicilan hutang, giving, senang-senang dan investasi. And amasih punya pos lain yang harus punya rencana pengeluaran sendiri?

15. Post diluar tadi misalnya hobi yang ngabisin duit, biaya pengembangan diri (buku,seminar,kursus), dan lain-lain.

16. Berarti ada 5-6 pos utama dalam membuat perencanaan pengeluaran. Sekarang kita urutkan berdasarkan prioritas ya. Mana yang paling wajib sampai sunah.

17. Kalau saya pribadi urutannya seperti ini. Tuhan, masa depan, utang, pengembangan diri, fun, kebuuhan hidup

18. Jelas zakat no 1 soalnya ga bisa ditawar. Kalau kebutuhan paling akhir, Kenapa..? Karena paling flexible. Bukankah kalau kita makan, tak ada daging tempe pun jadi. Betul apa betul..?

19. Kenapa investasi masa depan dulu baru bayar hutang? Ini yang disebut prinsip pay yourself first! Brp pun besar utang, selalu gaji diri sendiri terlebih dahulu.

20. Secara keseluruham proporsi persentase setiap post pengeluaran untuk setiap individu berbeda. Rulenya adalah : Zakat minimal 2,5%, investasi >10%, Upayakan cicilan < 30%, untuk senang-senang < 10% dan sisanya untuk kebutuhan hidup.
Selamat merencakan pengeluaran untuk masa depan sejahtera.

Sumber : https://twitter.com/bundawita

The latest from Dwita Ariani (). At the end financial planning is not about numbers,but it s about peace of mind-A Mom-ZELTS Financial Educator-PropertyDeveloper http://t.co/aWMnxkNr. Jakarta, Indonesia

08/03/2013

Prudential Indonesia Sudah Bayar Klaim Rp 4,4 Triliun

Liputan6.com, Jakarta: Perusahaan asuransi, PT Prudential Life Assurance (Prudental Indonesia) melaporkan penerimaan premi perusahaan di kuartal III-2012 mencapai Rp7,7 triliun atau naik 28 persen dibandingkan posisi setahun yang lama.

Pada periode yang sama, perusahaan asuransi asal Inggris ini mengaku telah membayarkan klaim dan manfaat hingga mencapai Rp4,4 triliun. Pembayaran ini naik hampir separuh atau 41,2 persen dibandingkan setahun sebelumnya.

"Hal ini tentunya berkat fondasi bisnis serta kepercayaan nasabah yang kuat,” kata Presiden Direktur Prudential Indonesia, William Kuan, dalam keterangan tertulisnya, Selasa (27/11/2012).

Prudential mengungkapkan, perusahaan telah menggaet sekitar 300 ribu nasabah baru. Dengan tambahan ini, total nasabah yang dimiliki Prudential telah mencapai 1,6 juta orang.

Pada kuartal III-2012, Prudential Indonesia mencatat peningkatan dana kelolaan sebesar 32 persen menjadi Rp34,4 triliun. Peningkatan ini memicu kenaikan total aset perusahaan menjad Rp38,7 triliun.

Dengan pertumbuhan aset perusahaan ini, Prudential mengklaim kondisi kesehatan keuangan perusahaan jauh melebihi keyentuan minimum dari regulator perasuransian di Indonesia. Rasio kecukupan modal yang telah memperhitungkan aspek risiko (risk based capital/RBC) mencapai 376 untuk portofolio konvensional dan 75,6 persen untuk syariah.

Tak hanya itu, Prudential juga mengklaim perusahaan telah menjadi pemimpin dalam bisnis unit link di tanah air. Namun, perusahaan berjanji akan terus mengembangkan portofolio produk tradisional dan manfaat tambahan lainnya. (IGW)

MARKET SURVEY1. Menurut pendapat Anda, apa yang menjadi “pembunuh” No.1 di Indonesia ?A. Jantung B. Kanker C. Tumor D. S...
08/03/2013

MARKET SURVEY

1. Menurut pendapat Anda, apa yang menjadi “pembunuh” No.1 di Indonesia ?
A. Jantung B. Kanker C. Tumor D. Stroke E. Kecelakaan
2. Apakah Anda sependapat bahwa semakin banyak orang indonesia yang menderita penyakit kritis seperti Jantung, Kanker, Tumor, Stroke atau kritis disebabkan Kecelakaan?
A. Ya B. Tidak
3. Berapa biaya pengobatan penyakit kritis di Rumah Sakit ?
A. < Rp. 100 JT B. Rp. 100 JT s/d 200 JT C. Diatas 200 JT
4. Berapa biaya pengobatan Kecelakaan kritis di Rumah Sakit ?
A. < Rp. 100 JT B. Rp. 100 JT s/d 200 JT C. Diatas 200 JT
5. Apabila salah satu anggota keluarga teman kita terkena penyakit kritis seperti serangan jantung, kanker, tumor, stroke, atau mengalami kritis karena kecelakaan di Rumah sakit. Apakah keluarganya akan mengalami masalah keuangan ?
A. Ya B. Tidak
6. Jika tabungannya tidak mencukupi untuk biaya pengobatan, apa cara terbaik untuk mengatasi masalah keuangan tersebut ?
A. Menjual harta B. Meminjam C. Minta Sumbangan
7. Setujukah Anda bahwa pada umumnya orang mencari uang selain untuk memenuhi biaya hidup juga untuk Dana Pendidikan Anak, Dana Hari Tua, Dana Darurat Keluarga?
A. Setuju B. Tidak setuju
8. Menurut pendapat Anda bagaimana cara terbaik merencanakan keuangan keluarga Anda?
A. Asuransi B. Investasi C. Menabung di Bank D. Lain-lain
9. Jika ada satu perencanaan keuangan, yang dapat memberikan Dana Pendidikan Anak, Dana Pensiun, dan kalau sampai sakit ada Dana Darurat yang bisa keluar tanpa mengurangi tabungan Kita. Menurut Bapak/ Ibu, tabungan jenis itu bagus atau tidak ?
A. Baik B. Tidak
10. Menurut Anda, Perlukan perlindungan Asuransi untuk melindungi Anda dan Keluarga sekaligus dalam perencanaan keuangan Anda?
A. Ya B. Tidak

03/03/2013

Seberapa mahal harga pekerjaan anda

Pada akhirnya kita semua bekerja untuk merenggut sejumput nafkah. Disana yang segera terbentang adalah berapa penghasilan yang bisa kita bungkus dan bawa p**ang setiap akhir bulan tiba. Receh demi receh kita dekap setelah sebulan lamanya kita memeras peluh, berjibaku menggantang pikiran dan menebarkan segenap dedikasi.
Pertanyaannya adalah : apakah gaji atau penghasilan yang kita ringkus setiap bulan demi anak dan keluarga sudah cukup memadai? Apakah jumlahnya sudah sebanding dengan pekerjaan yang hari demi hari kita lakoni dengan sepenuh asa dan pengabdian? Atau sebenarnya berapa sih harga yang paling pantas untuk pekerjaan kita?
Pertanyaan tentang harga sebuah pekerjaan dikenal p**a dengan sebutan measuring job value. Inilah sebuah konsep yang hendak memberi informasi mengenai berapa harga yang paling tepat untuk sebuah jabatan. Proses untuk menelisik job value kemudian sering disebut sebagai job evaluation. Istilah ini merujuk pada sebuah ikhtiar untuk mengevaluasi segenap komponen yang melekat dalam suatu jabatan, dan kemudian menghitung berapa harga yang paling pantas untuk pekerjaan itu.
Untuk melakukan job evaluation, biasanya kita mesti menetapkan dulu sejumlah kriteria baku yang akan digunakan untuk menghitung harga sebuah jabatan. Kriteria ini biasanya berjumlah antara empat hingga lima faktor, dan lazim juga disebut sebagai compensable factors.
Berikut ini akan coba dipetakan contoh empat compensable factors yang acap digunakan sebagai kriteria untuk menilai value sebuah jabatan. Faktor yang pertama biasanya berkaitan dengan aspek kompetensi teknis yang dibutuhkan untuk melakukan sebuah pekerjaan. Makin tinggi kualifikasi yang dibutuhkan, tentu makin mahal harga jabatan itu.
Faktor yang kedua adalah job complexity. Aspek ini merujuk pada sejauh mana level kompleksitas yang dibutuhkan dalam mengelola suatu jabatan. Kompleksitas disini mengacu baik pada aspek teknis operasional ataupun dalam aspek konsep dan kedalaman analisa untuk menuntaskan sebuah pekerjaan.
Faktor yang ketiga adalah impact of decisions. Apakah dampak keputusan yang dihasilkan oleh jabatan ini bersifat signifikan dan lintas sektoral ataukah hanya sekedar punya pengaruh yang terbatas? Disini yang diuji adalah seberapa ekspansif dampak keputusan yang dihasilkan oleh sebuah jabatan.
Faktor yang keempat adalah responsibility of others. Disini yang diuji adalah rentang kendali dan tanggung jawab dari suatu jabatan. Apakah ia memiliki jumlah anak buah yang banyak dan masing-masing memiliki jenis pekerjaan yang variatif; atau sebaliknya? Dan sampai dimana tingkat otoritas dan tanggungjawab jabatan ini dalam menggerakkan orang lain.
Demikianlah, berdasar empat faktor diatas lantas dihitung nilai setiap jabatan yang ada dalam organisasi; biasanya mewujud dalam skala skor. Masing-masing skala skor ini juga disertai dengan deskripsi yang jelas dan terukur sehingga proses penghitungan menjadi lebih obyektif. Berdasar hasil skor inilah kemudian dipetakan berapa harga setiap jabatan yang ada di organisasi itu. Dari sinilah kemudian akan muncul skala gaji yang berbeda untuk setiap jabatan.
Sejatinya, makin tinggi skor sebuah jabatan tentu akan makin mahal harganya, dan tentu kian besar p**a gaji yang bisa dibawa p**ang. Meski demikian segera harus dikatakan bahwa hal ini sangat tergantung dengan 1) kondisi keuangan perusahaan dan 2) kebijakan manajamen dan pemilik perusahaan (baca : tergantung pelit tidaknya, atau serakah tidaknya sang pemilik perusahaan).
Tempo hari, salah seorang klien saya bilang kalau gaji Manajer SDM di perusahaannya berkisar pada angka Rp 25 juta per bulan, sementara menurut dia gaji Manajer SDM di perusahaan kompetitor hanyalah sekitar Rp 15 juta per bulan. Padahal kedua perusahaan ini punya bisnis yang sama, skala yang sama, dan job des Manajer SDM di kedua perusahaan itu sama persis. Tentu ini terjadi karena mungkin kondisi keuangan kedua perusahaan itu berbeda, atau mungkin juga pemilik kedua perusahaan itu punya kebijakan yang berlainan. Atau ada kemungkinan yang lain : ini memang sudah suratan takdir (doh!)
Jadi kembali pada pertanyaan judul tulisan ini : apakah pekerjaan Anda sekarang sudah dinilai dengan harga yang pas, atau terlalu murah? Alias di-diskon gede-gedan? Kalau pekerjaan Anda diobral terlalu murah, ya ndak usah terus bersedih dan tenggelam dalam duka lara.
Keep on moving. Have a positive mindset. Sebab esok kan masih ada harapan.

disadur dari : strategimanajemen.net

Mengapa Saya Pilih Asuransi dari pada tabungan ?Dibanding dengan tabungan dari Bank yang banyak diminati oleh calon kons...
03/03/2013

Mengapa Saya Pilih Asuransi dari pada tabungan ?

Dibanding dengan tabungan dari Bank yang banyak diminati oleh calon konsumen, lebih baik saya ikut produk unit link yang keuntungannya jelas ada yaitu proteksi dan investasi; sedangkan di bank tidak ada sama sekali.
Sebagai contoh (dari kompas)
Sepeti berSaldo Makin Merosot, Penabung Kecil Pun Terkecoh

Safitri, ibu rumah tangga yang tinggal di kawasan Depok, Jawa Barat, tidak habis pikir. Nilai tabungannya yang sekitar Rp 4 juta sudah dua bulan ini terus merosot saldonya. Padahal, ia menabungkan uangnya di bank semata-mata untuk mendapatkan bunga sehingga uangnya beranak-pinak.

“Kalau begini caranya, mending uangnya saya simpan di celengan atau di bawah bantal,” kata ibu tiga anak ini menggerutu.

Kisah Safitri ini juga menjadi persoalan banyak orang yang punya tabungan bernilai kecil, katakanlah di bawah Rp 5 juta.

Banyak orang awam sulit memahami mengapa nilai tabungan mereka terus tergerus. Yang mereka tahu, jika menabung, uang akan bertambah karena berbunga. Pemahaman ini terpatri sejak masa sekolah dasar saat diajarkan untuk menabung.

Saat ini, jangan pernah berharap duit membukit jika hanya punya tabungan tak lebih dari Rp 5 juta.

Ambil contoh B , bank yang memiliki jumlah penabung paling banyak di Indonesia. Untuk tabungan Tahapan Silver, B mengenakan biaya administrasi Rp 10.000 per bulan. Adapun suku bunga untuk tabungan bersaldo Rp 1 juta-Rp 10 juta sebesar 2 persen per tahun.

Dengan asumsi nilai tabungan awal Rp 5 juta dan tidak pernah ditambah selama setahun, nasabah akan mendapat bunga Rp 100.000 per tahun. Setelah dipotong pajak 20 persen, pendapatan nasabah tinggal Rp 80.000. Padahal, biaya administrasi yang harus dibayar selama setahun mencapai Rp 120.000. Alhasil, dana berkurang Rp 40.000 dalam setahun.

Penabung kian cepat kehilangan uangnya jika nilai tabungan di bawah Rp 1 juta. Sebab bunganya nol persen. Penabung tidak akan tergerus uangnya jika saldonya minimal Rp 6 juta. Pada level itu, biaya administrasi dan bunga mencapai titik keseimbangan.

Perbankan umumnya menerapkan bunga rendah untuk tabungan. Bank Man , bank terbesar di Indonesia, bahkan hanya memberikan bunga 1,75 persen untuk tabungan bernilai Rp 1 juta-Rp 5 juta. Kian tinggi nilai tabungan, bunga akan semakin besar, namun biasanya tak lebih dari 4 persen per tahun. Bank tentu merasa berhak memungut biaya administrasi. Alasannya, mereka harus membangun dan memelihara jaringan seperti ATM, yakni fasilitas untuk para penabung. Bank juga harus membangun infrastruktur teknologi informasi untuk mengelola dan menjaga rekening nasabah tetap aman.

Bank merasa pantas memberi bunga kecil atas tabungan dengan alasan tabungan dapat ditarik setiap saat sehingga bank tidak begitu leluasa menggunakan dana tabungan untuk disalurkan sebagai kredit. Berbeda dengan deposito yang dipatok jangka waktunya sehingga bank mudah mengelolanya.

Bahkan, menurut para bankir, sebenarnya tabungan sudah merupakan jasa yang harus dibeli nasabah. Dengan menabung, nasabah memiliki banyak keuntungan, seperti keamanan dan kemudahan bertransaksi, karena tidak harus membawa uang tunai ke mana-mana.

Di negara maju seperti Jepang hal inilah yang terjadi. Tabungan dipahami bukan lagi tempat menggandakan uang, tetapi hanya sekadar cadangan uang tunai mengantisipasi keperluan transaksi segera atau mendadak. Untuk investasi, dana biasanya ditaruh dalam deposito atau produk pasar modal.

Namun faktanya, perbankan juga kerap memanfaatkan pengetahuan para penabung Indonesia yang umumnya masih awam. Bank tidak pernah menjelaskan kepada nasabah. Misalnya, jika saldonya di bawah Rp 5 juta, dana nasabah tidak akan pernah bertambah.

Tabungan amat berarti bagi perbankan. Sebab, tabungan merupakan dana murah. Bandingkan dengan deposito yang bunganya bisa mencapai 12 persen per tahun. Semakin besar porsi tabungan dalam struktur dana pihak ketiga, maka makin besar p**a margin keuntungan bank. Kasarnya, dengan memberi bunga tabungan hanya 3 persen, bank bisa menjualnya sebagai kredit dengan bunga 14 persen.

Untuk Indonesia yang masyarakatnya belum bankable, bank seyogianya memberikan perhatian kepada penabung kecil. Saat ini ada 82 juta rekening bank di Indonesia, atau baru 35 persen dari total penduduk. Masyarakat perlu didorong menabung.

Namun, jika masyarakat kecil tahu uang tabungan mereka akan berkurang, kemungkinan mereka tak akan menabung di bank. Kalau sudah begini sia-sia saja program Ayo ke Bank yang dicanangkan Bank Indonesia.

www.kompas.com/read/xml/2009/04/14/07320854/saldo.makin.merosot.penabung.kecil.pun.terkecoh

Safitri, ibu rumah tangga yang tinggal di kawasan Depok, Jawa Barat, tidak habis pikir. Nilai tabungannya yang sekitar Rp 4 juta sudah dua bulan ini terus merosot saldonya. Padahal, ia menabungkan uangnya di bank semata-mata untuk mendapatkan bunga sehingga uangnya beranak-pinak.

02/03/2013

MENGHINDARI KECELAKAAN FINANSIAL

Kecelakaan bisa terkait dengan aktivitas keuangan. Kecelakaan keuangan yang paling banyak dialami orang adalah ketika penghasilan dirasa tidak pernah cukup untuk membiayai pengeluaran. Selalu merasa kurang kendati jika mau mengurangi konsumsi, penghasilan yang diperoleh masih mampu untuk membiayai hidup.

Tragisnya, ketidakmampuan mengekang diri mengakibatkan konsumsi jalan terus dengan pembiayaan dilakukan dengan kartu kredit. Alhasil, pengeluaran menjadi lebih besar ketimbang penghasilan. Inilah awal dari kecelakaan finansial yang akan berlanjut dengan kecelakaan-kecelakaan lain.

Contoh konkret, penggunaan kartu kredit akan semakin meningkat, sementara penghasilan relatif tetap. Yang terjadi kemudian bukan lagi aksi gali lubang tutup lubang, melainkan terperangkap di lubang utang yang semakin dalam. Kehidupan pun menjadi tidak tenang.

Orang selalu dikejar-kejar debt collector atau stres berkepanjangan karena masih banyak keinginan yang belum terpenuhi. Bukan tidak mungkin, karena permasalahan semakin kompleks, pekerjaan pun bisa hilang.

Itu baru kecelakaan finansial yang diakibatkan ketidakmampuan ”menginjak rem” konsumsi. Ada lagi kecelakaan finansial lain yang juga menerpa jutaan orang, yaitu ketidakmampuan menyediakan dana untuk membiayai sekolah anak. Dana untuk sekolah anak yang tidak disiapkan bisa mengakibatkan sang anak tidak sekolah.

Kalaupun bersekolah, akhirnya anak hanya bisa di sekolah yang kurang berkualitas. Atau sebenarnya, dana untuk anak sekolah sudah tersedia, tetapi karena dipengaruhi lingkungan sekitar, anak dipaksakan masuk ke sekolah yang super mahal. Demi menjaga gengsi, orangtua terpaksa berutang untuk membiayai sekolah anak.

Kecelakaan finansial bukan hanya dialami orang-orang berusia produktif. Tidak sedikit kecelakaan yang menerpa kalangan yang mestinya sudah dalam usia mapan. Seorang karyawan yang sudah terbiasa diberi fasilitas oleh perusahaan, seperti kendaraan dan rumah dinas, kerap kali lupa membeli rumah sendiri.

Ketika usia pensiun tiba, dia akan mengalami masalah besar karena tidak memiliki rumah ataupun kendaraan. Sebab, sepanjang karier, dia sudah terbiasa menggunakan fasilitas perusahaan. Masa pensiun yang seharusnya dinikmati justru memaksanya tetap bekerja guna memperoleh uang untuk membeli rumah dan kendaraan.

Jurus-jurus

Apa yang mesti dilakukan agar kecelakaan finansial tidak menghampiri diri Anda?

Pertama, jangan pernah berutang kalau tujuannya hanya untuk membiayai nafsu konsumtif. Utang hanya layak dilakukan untuk kegiatan produktif yang bisa memberikan penghasilan. Utang untuk hal konsumtif, seperti kredit rumah dan kredit kendaraan, dapat dipertimbangkan jika angsuran masih terpenuhi dari penghasilan bulanan.

Penggunaan kartu kredit sekalipun bukanlah untuk berutang, melainkan hanya untuk kemudahan transaksi pembayaran. Jadi, bukan karena tidak memiliki uang, tetapi lebih karena faktor kepraktisan belaka.

Kedua, melakukan investasi dan proteksi secara bersamaan. Banyak kalangan beranggapan bahwa kalau sudah berinvestasi, persoalan selesai. Pada kenyataannya tidaklah seperti itu. Dalam berinvestasi pun, banyak kemungkinan terjadi kecelakaan finansial.
Itulah sebab ada istilah ”jangan menempatkan investasi dalam satu keranjang”. Prinsipnya sederhana, kalau seluruh investasi Anda dalam bentuk saham, misalnya, ketika pasar saham anjlok, bukan tidak mungkin seluruh investasi Anda akan menguap.

Oleh karena itu, investasi mesti diproteksi. Bagaimana caranya?

Sebarkan investasi pada berbagai jenis, mulai dari yang berisiko rendah, sedang, dan tinggi. Dengan cara ini, sebenarnya investasi Anda sudah terproteksi. Konkretnya, kalau investasi Anda yang berisiko tinggi mengalami masalah, Anda masih memiliki ”cadangan” investasi di jenis yang berisiko rendah.

Itu adalah proteksi dalam konteks investasi. Di luar itu, proteksi untuk mencegah dampak negatif dari kecelakaan finansial bisa juga dilakukan dengan membeli produk asuransi. Sebagaimana contoh di atas, orang kerap kali mengalami masalah dalam memenuhi biaya anak.

Nah, salah satu cara mudah menghindari kecelakaan finansial yang terkait dengan biaya sekolah anak adalah dengan membeli polis asuransi pendidikan. Selain itu, berbagai produk asuransi lainnya, termasuk asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan kerja, dan asuransi kematian, merupakan ”jurus” mengatasi risiko kecelakaan finansial.

Sebenarnya cukup banyak cara menghindari terjadinya kecelakaan finansial. Seperti kalau mengendarai kendaraan bermotor, sebelum dikendarai, tentu sebaiknya dilakukan pengecekan apakah segala sesuatu masih berfungsi dengan baik . Begitu juga dengan kegiatan finansial. Sebelum melakukan berbagai tindakan, tentunya mesti dipikirkan risiko dan kemungkinan terjadinya kecelakaan finansial.

Elvyn G Masassya, Praktisi Keuangan Dari : www.kompas.co.id

02/03/2013

3 TRIK UNTUK BISA MENYISIHKAN PENGHASILAN

Pada kenyataannya, saya sering menemukan ada banyak orang yang─walaupun penghasilannya besar─sering kali kesulitan untuk menyisihkan uang dari penghasilannya. Bukan satu dua kali saya bertemu dengan orang yang punya gaji hingga sepuluh juta, bahkan dua puluh juta, tapi teteeeeup saja susah buat mereka untuk bisa menyisihkan penghasilan agar bisa diinvestasikan dan diputar menjadi lebih besar lagi.

Oleh karena itu, saya punya 3 trik yang mungkin bisa Anda pakai untuk bisa menyisihkan penghasilan sebelum penghasilan itu habis Anda pakai.

1. Menabunglah dimuka, jangan dibelakang.

Coba lihat, apakah selama ini Anda selalu menabung di belakang setelah membelanjakan semua penghasilan Anda? Bila ya, pantas saja Anda jarang bisa menabung. Kenapa? Oleh karena, uang Anda selalu habis tak berbekas. Maklum, uang memang lebih enak dipakai daripada ditabung. Ya, kan? Jadi, daripada ditabung di belakang setelah membelanjakan semua penghasilan Anda, kenapa tidak mencoba untuk menabung di muka segera setelah Anda mendapatkan penghasilan? Katakan saja Anda dapat penghasilan tiap tanggal 26 setiap bulan.
Cobalah menabung setiap tanggal 26, 27, atau 28 sebelum Anda memakai penghasilan itu. “Loh, nanti penghasilan saya habis d**g?” begitu mungkin kata Anda. Ya biar saja, toh Anda sudah sisihkan dulu sebelum penghasilan itu dipakai, kan? “Lho, nanti uang untuk biaya hidup saya dan keluarga berkurang d**g?”
Hallah, kalaupun penghasilan Anda naik, toh penghasilan itu akan habis juga, kan? Jadi, sebelum habis, kenapa Anda tidak selamatkan dulu sebagian, daripada nabungnya di belakang terus habis? Ya nggak?

2. Minta tolong kantor yang memotongnya untuk Anda.

Pada beberapa kasus, Anda mungkin bisa minta tolong kantor Anda untuk memotong penghasilan Anda dan melakukan proses menabungnya buat Anda.
Saya kasih contoh, kalau Anda punya investasi di reksadana, pembelian reksadana tersebut harus dilakukan dengan mentransfer uang ke rekening bank kustodian mereka. Nantinya uang itu oleh mereka dibelikan unit reksadana. Disini, Anda bisa meminta kantor Anda untuk memotong penghasilan Anda di muka dan melakukan proses transfer itu sehingga Anda tidak perlu lagi repot-repot melakukan proses menabung. Toh, Anda tetap menabung di muka, kan?
Pertanyaannya sekarang, memang bisa kantor melakukannya? Bisa d**g. Cuma, Anda harus ngomong dulu ke mereka. Wong kalau anda punya utang ke kantor saja cara pengembalian yang mereka minta adalah dengan sistem potong gaji, kan? Kalau mereka bisa memotong gaji Anda untuk menutupi utang yang mereka
berikan buat Anda, apalagi kalau Anda cuma minta kantor melakukan proses menabung buat Anda? All you have to do is just ask ….

3. Pakai Celengan.

Eit, jangan kaget, yang namanya celengan itu tidak selalu buat anak kecil, tapi juga untuk orang dewasa. Bedanya adalah apa yang Anda tabung.

Kalau anak kecil nabung koin, entah seratus, lima ratus, atau seribu, Anda bisa nabung katakan lembaran dua puluh ribu rupiah. Lho, bagaimana caranya?
Gampang: setiap kali Anda mendapatkan lembaran uang dua puluh ribu rupiah, tetapkan tekad: JANGAN PERNAH MENGGUNAKAN UANG ITU UNTUK BELANJA. Langsung saja masukkan ke celengan. Jadi, setiap kali bertemu lembaran uang dua puluh ribu, langsung masuk celengan.
Setiap kali bertemu lembaran dua puluh ribu, nabung lagi. Begitu seterusnya. Anda akan kaget begitu tahu berapa jumlah yang bisa Anda kumpulkan di akhir bulan.
Misalnya, Anda belanja barang senilai Rp.15.000,- dengan menggunakan lembaran uang Rp.50.000,-. Berarti, Anda akan punya kembalian sebesar Rp.35.000,-, yang terdiri atas selembar dua puluh ribu dan tiga lembar lima ribu.
Nah, tabungin deh uang dua puluh ribu Anda. Anda toh sudah menetapkan tekad sebelumnya untuk tidak memakai lembaran dua puluh ribu itu, kan?

Sumber : Buku "Siapa Bilang Karyawan Nggak Bisa Kaya"
Karya : Safir Senduk

02/03/2013

CONTOH MANFAAT YANG DIDAPATKAN BILA MENABUNG DI PAA PRUDENTIAL

Nama Nasabah : Nur Amanatul ( Wanita tdk. Merokok )
Usia Nasabah : 25 Thn
Rencana menabung : 500.000,-/bulan atau 6.000.000,-/tahun
Masa menabung hanya: 10 tahun

MANFAAT YANG DIDAPATKAN IBU NUR YAKNI :

1. Apabila mengalami resiko sakit dan masuk rumah sakit manapun di seluruh Indonesia dan sakit apapun yang penting harus Rawat Inap maka Ibu Nur mendapat uang penggantian Rawat Inap sebesar Rp. 600.000,-/hari. Syaratnya minimal Rawat Inapnya 2 hari (2 x 24 jam) dan maksimal 100 hari, berlaku sejak polisnya berusia 30 hari dari polis disetujui. Bila polis disetujui tgl 10 Mei 2011 maka tgl 10 Juni 2011 sudah bisa Klaim.
Contoh Klaim: Ibu Nur ternyata sakit di rumah sakit selama 10 hari dengan biaya total 2 jt atau 200 rb/hr, ternyata di Polis tadi perhari Ibu Nur mendapat 600 rb/hr maka uang penggantian yang didapat dari Prudential adalah 10 hr X 600 rb = 6 jt, walaupun kenyataan Ibu Nur hanya terkena biaya 2 jt.

2. Apabila Ibu Nur mengalami kondisi kritis seperti Jantung, Kanker dan Stroke setelah polis sudah berjalan 90 hari setelah polis disetujui. Bila Polis disetujui tgl 10 Mei 2011 maka tgl 10 November 2011 sudah bisa Klaim.
Contoh Klaim: Ibu Nur ternyata sakit Kanker dan menghabiskan biaya total 30 jt, maka bila di Polis Ibu Nur mendapat santunan 40 jt hanya dengan melampirkan Surat Dokter dan Hasil Lab yang menyatakan sakit kritis tsb Ibu Nur akan mendapat santunan 40 jt, walaupun kenyataan hanya terkena biaya 30 jt.

3. Selanjutnya karena Ibu Nur terkena sakit Kanker, maka sesuai dengan keterangan di Polis Ibu Nur tidak perlu menabung lagi justru Prudential yang akan mengisi tabungan Ibu Nur sebesar 6 jt/thn atau 500 rb/hr.
Contoh klaim: ternyata Ibu Nur setelah menabung selama 4 bulan terkena penyakit kritis, dan setelah mendapatkan Klaim sebesar 40 jt tadi, maka Ibu Nur tidak perlu menabung lagi Justru Prudential akan mengisi tabungan Ibu Nur sebesar 6 jt/thn atau 500 rb/hr mulai bulan ke-5 sampai usia Ibu Nur 65 tahun (bukan hanya sampai 10 tahun).

4. Apabila terjadi musibah kecelakaan 1 hari setelah Polis disetujui maka Ibu Nur juga akan mendapatkan santunan sesuai dengan yg ada di Polis.
Contoh klaim: Tanggal 10 Mei 2011 Polis disetujui Prudential, ternyata tgl 11 Mei 2011 terjadi kecelakaan dan mengakibatkan cacat, maka Ibu Nur akan mendapatkan santunan sebesar 80 jt dengan presentasi yg ada (misal bila patah 1 kaki maka mendapat 50% dari 80 jt, bila 2 kaki 100% dari 80 jt dll)

5. Bila ibu Nur mengalami resiko meninggal dunia maka ahli waris Ibu Nur akan mendapatkan uang pertangungan sebesar 220 jt dan itu berlaku sejak polis di setujui oleh PT. Prudential.
Contoh klaim: Tanggal 10 Mei 2011 Polis disetujui Prudential, maka bila ternyata di tanggal 11 Mei 2011 Ibu Nur meninggal maka Ahli waris Ibu Nur akan mendapat uang pertanggungan sebesar 220 jt.

6. Uang yang ditabungkan tersebut juga akan diinvestasikan ke saham-saham unggulan seperti saham di PERTAMINA, PT TELKOM dll dengan asumsi pengembalian investasi di tahun 2010 mencapai 42% pertahun jadi Ibu Nur tidak usah khawatir uang ibu aman di Prudential asal jangan di ambil di tahun 1 sebab uang ibu habis dikarenakan adanya biaya akuisisi th. 1 = 100 %, th. 2 = 60 %, th. 3 – th. 5 = 15 % jadi apabila ingin mengambil sebaiknya diatas tahun tersebut. Jadi yang namanya investasi itu lebih ke arah jangka panjang, seperti kita investasi pohon jati kan tidak bisa 5 tahun diambil terus untung contoh bila Ibu Nur tadi mengambil di Usia 40 thn atau waktu anaknya mau kuliah, maka tersedia dana sekitar 123 jt dengan asumsi pengembalian 15% (padahal di tahun 2010 diatas 40%).

Menabung di Prudential merupakan Konsep Menabung Modern, banyak manfaatnya maka jangan tunggu lama lagi untuk menabung di Prudential.

01/03/2013

Pentingnya Mencicil Dana Pensiun di Usia Produktif

Sudahkah Anda memikirkan sumber pendanaan ketika memasuki masa pensiun? Sedikit saja orang yang sudah cukup memikirkannya sejak usia produktif. Namun sebagian besar malah beranggapan masalah itu bisa dipikirkan lain waktu.

Padahal, kalau dipikir-pikir pensiun Anda hanya ditanggung oleh negara atau tempat bekerja selama kurang lebih 3 tahun setelah putus masa kerja. Artinya, sumber pendanaan Anda hanya tersedia hingga usia sekitar 58 tahun.

"Bagaimana selanjutnya?" ujar Kepala Bagian Analisis Penyelenggaraan Biro Dana Pensiun Bapepam-LK, Yusman dalam acara di hotel Aston Atrium, Senen, Jakarta).

Menurut Yusman, setiap orang yang bekerja mau tidak mau harus mulai memikirkan sumber pendanaan setelah masa pensiun tanggungan habis.
"Itulah sebabnya sangat penting mulai memikirkan sumber dana pensiun saat usia kita masih produktif bekerja," ujarnya.

Ketua Asosiasi Konsultan Aktuaria Indonesia (AKAI), Haris A Santoso mendukung pernyataan tersebut. Apalagi jumlah pensiunan terus bertambah dari tahun ke tahun seiring meningkatnya pop**asi penduduk.

"Pertumbuhan jumlah pensiunan dari tahun ke tahun terus bertambah, saat ini sekitar 11% dari pop**asi penduduk. Tahun 2015 porsinya diperkirakan bertambah menjadi 15%," ujar Haris.

Oleh sebab itu, keduanya menganjurkan pentingnya memikirkan sumber pendanaan pasca kerja alias pensiun. "Bentuknya bisa tabungan yang dilakukan secara mandiri atau investasi," jelas Yusman.

Menurut Yusman, tidak sulit menyisihkan 10% hingga 20% dari gaji bulanan untuk ditabung secara berkala hingga akhir masa kerja. "Ada pepatah, kalau seseorang bisa hidup dengan Rp 100 per hari, maka ia bisa memaksakan untuk hidup dengan Rp 90 per hari. Itu artinya menyisihkan 10% pasti
bisa dilakukan setiap orang. Lebih bagus kalau bisa 20%," ujarnya.
Menurut Yusman, atas alasan itu juga negara mengesahkan undang-undang yang mengatur soal dana pensiun bagi warga negara Indonesia.
"Disahkannya UU tersebut, sebenarnya merupakan pengakuan negara bahwa negara tidak bisa menjamin sepenuhnya masa pensiun warga negara," ujar Yusman.

Yusman juga menegaskan, dengan diaturnya masalah dana pensiun oleh UU bukan berarti setiap orang yang bekerja sudah bisa bersantai-santai.
"UU tersebut memberikan pesan pada kita, bahwa sumber pendanaan masa pensiun harus dipikirkan oleh warga negara secara proaktif. Sebab ini menyangkut pemenuhan kebutuhan sehari-hari kita setelah memasuki masa pensiun," jelas Yusman.

"Jadi kita tidak bisa menyerahkan nasib kita bukan pada diri kita sendiri. Persiapan dana pensiun harus mulai dilakukan oleh semua orang saat usia
produktif. Bentuknya bisa dengan menabung 10-20% per bulan, atau mulai memikirkan investasi," ujar Yusman.

Haris menimpali, kesadaran masyarakat Indonesia dalam mempersiapkan dana pensiun masih rendah. Hal itu ditunjukkan dengan rendahnya tingkat jaminan sosial di Indonesia.

"Singapura contohnya, porsi social security sudah mencapai 33%. Indonesia baru sekitar 6,64%. Ini menunjukkan rendahnya kesadaran kita dalam mempersiapkan jaminan bagi kehidupan kita sendiri," papar Haris.

Oleh sebab itu, Haris menegaskan kesadaran memikirkan sumber pendanaan di masa pasca kerja harus mulai menjadi bagian dari masyarakat Indonesia terlebih dahulu, sebelum berangan-angan hidup tenang di masa pensiun.

"Lagip**a sudah diatur kok dalam UU, baik yang wajib maupun yang sukarela. Tinggal masalah keinginan dan kesadaran saja untuk bisa mewujudkan dan menjalankan masa pensiun yang tenang tanpa perlu memikirkan sumber pendanaan," ujar Haris.

Jadi sudahkah Anda atau perusahaan Anda peduli soal dana pensiun?

sumber: detik.com

Address

Payakumbuh
26211

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Agen Prudential Payakumbuh-Lima Puluh Kota posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share