02/04/2023
EMAS LM adalah INVESTASI TABUNGAN DAN BISNIS TERBAIK:
Tahukah Anda?
- Saat ini Dolar AS telah kehilangan daya beli lebih dari 97,5% sejak tahun 1971...
- Euro (mata uang Uni Eropa) telah merosot tak kurang dari 77% sejak diperkenalkan tahun 2001...
- Dan ehm, Rupiah Indonesia juga tak ketinggalan, telah anjlok nilainya melebihi 99,99% sejak tahun 1946... ^_^
Padahal...
- Dolar AS adalah mata uang internasional
- Euro digadang-gadang sebagai mata uang persatuan negara-negara Eropa
- Rupiah... tahulah sendiri, adalah mata uang negara kita tercinta, Indonesia
Bahkan... tanpa ada pengecualian satu pun...
Semua, ya SEMUA... MATA UANG FIAT yang biasa kita lihat berwujud KERTAS—atau kini telah mulai bermetamorfosis menjadi sekedar byte komputer—TELAH MENGALAMI PENURUNAN NILAI YANG SANGAT SIGNIFIKAN....
Maksudnya?
Begini...
Cara mudah mengukurnya adalah dengan melihat KEMAMPUAN setiap mata uang fiat tersebut MEMBELI suatu BENDA RIIL dari waktu ke waktu...
Perhatikan fakta ini!
⏳ Ketika saya masih SD, dengan Rp.150 saya sudah bisa membeli sebungkus nasi uduk.
⏰ Kini, 25 tahun kemudian, jumlah rupiah yang sama—jangankan untuk dibelikan nasi uduk—wujudnya saja hampir tidak ada lagi. Betul?
Pernahkah akhir-akhir ini Anda melihat secarik kertas bertuliskan Rp.100 (dulu gambarnya merah) dan koin rupiah Rp.50? Saya rasa TIDAK PERNAH atau jarang sekali.
Satuan-satuan kecil rupiah ini TIDAK LAGI diedarkan, dan kalau pun masih ada, sudah pasti DAYA BELINYA TURUN... Atau bahkan TAK LAGI BERNILAI SAMA SEKALI...
🔖 Hari ini 2021, saat tulisan ini diketik, sepiring nasi uduk PALING MURAH dijual seharga Rp.5.000. (Tentunya dengan kualitas dan kuantitas yang sama dengan nasi uduk Rp.150 zaman dulu, seperti saat saya masih SD tadi).
👉😃 Para ekonom menyebut ini sebagai fenomena INFLASI, yang artinya KENAIKAN HARGA (semata), tanpa penjelasan yang memadai.
Padahal...
👉😥 Faktanya, yang terjadi justru PENURUNAN NILAI sesuatu yang selama ini kita sebut sebagai “UANG.”
Dengan kata lain, DEPRESIASI NILAI mata uang fiat itu sendiri (yang menyebabkan seolah harga-harga naik bila ditakar dengannya).
Informasi seperti ini jarang sekali kita perhatikan, atau bahkan fenomena menurunnya nilai mata uang fiat seolah menjadi sesuatu yang lumrah terjadi...
“Ah masa bodoh? I don’t care.” Gitu kata kebanyakan orang.
Padahal, s**a tidak s**a, kenyataan ini PASTI mempengaruhi KUALITAS (baca: kesejahteraan) HIDUP ANDA dan penduduk dunia pada umumnya.
Lebih parahnya lagi...
Jarang sekali atau bahkan tidak pernah ada seseorang secara sengaja memberitahu Anda tentang kebobrokan “uang” kertas (dan mata uang fiat secara umum).
Oke... Lanjutkan baca! ^_^
Sementara itu...
EMAS (dan pasangannya PERAK) yang dulu pernah menjadi UANG sekaligus MATA UANG, ternyata memiliki nilai yang STABIL atau cenderung mendekati stabil, jika diukur dengan BENDA RIIL—bukan diukur pakai mata uang fiat yang nilainya cenderung turun dari waktu ke waktu tadi.
Bahkan, konon daya beli keduanya justru ada trend KENAIKAN dari tahun ke tahun, alias mengalami APRESIASI NILAI (kebalikan dari “depresiasi”).
Fakta berikut tak terbantahkan:
🎯 1 DINAR (koin EMAS), 1.400 tahun lalu dapat dibelikan 1-2 EKOR KAMBING. (Al-Hadits)
🎯 1 DIRHAM (koin PERAK), bisa dibelanjakan SEEKOR AYAM pada zaman Khalifah Umar bin Khattab
TERNYATA!!!
Hingga hari ini daya beli keduanya TETAP SAMA, alias stabil.
💢 1 DINAR (EMAS), sekarang setara Rp.3,8 jutaan—TETAP MAMPU DIBELIKAN 1-2 EKOR KAMBING
💢 1 DIRHAM (PERAK), hingga detik ini setara Rp.72.000—yang MASIH MAMPU DIBELANJAKAN SEEKOR AYAM.
AJAIB kan?
YA, memang begitu adanya.
KEBETULAN kah?
TIDAK, sebab ALLAH sendiri telah menyebutkan kedua logam ini berulang kali di dalam Al-Qur’an. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga telah menyampaikan banyak hadits tentang penggunaan emas dan perak sebagai “HAKIM YANG ADIL” alias PENAKAR NILAI untuk urusan muamalah.
Bahkan beberapa ketetapan dalam syariat Islam ditakar dengan Dinar (emas) dan Dirham (perak). Misalnya nishab zakat mal, yaitu 20 Dinar atau 200 Dirham.
www.microgold.fun