04/06/2026
Rekap Pasar Pagi – 4 Juni 2026
Pasar keuangan global ditutup melemah pada perdagangan 4 Juni 2026 setelah lonjakan harga minyak dan kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat memicu kekhawatiran inflasi kembali meningkat. Sentimen utama datang dari memanasnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi mengganggu pasokan energi global.
Wall Street terkoreksi cukup dalam. Dow Jones turun 620 poin atau 1,21%, Nasdaq melemah 0,89%, sementara S&P 500 turun 0,74% dan mengakhiri reli sembilan hari berturut-turut. Kenaikan yield Treasury AS, terutama tenor 10 tahun yang mendekati 4,5%, menambah tekanan terhadap aset berisiko.
Bursa Eropa juga bergerak negatif. DAX Jerman turun 1,31%, CAC Prancis melemah 0,71%, dan FTSE Inggris terkoreksi 0,40%. Di Asia, pergerakan bervariasi. Nikkei Jepang melonjak 2,50%, sementara Hang Seng Hong Kong turun 1,56%. Shanghai Composite dan STI Singapura masih mampu mencatat kenaikan tipis.
Tekanan terbesar terjadi di pasar Indonesia. IHSG anjlok 4,11% ke level 5.941, sementara LQ45 turun 4,89% dan IDX30 melemah 4,50%. Hampir seluruh sektor mengalami koreksi tajam, dipimpin sektor energi (-5,61%), infrastruktur (-5,05%), perbankan (-4,20%), kesehatan (-4,36%), transportasi (-4,15%), dan consumer non-cyclical (-3,99%).
Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga mendekati Rp18.000 per dolar AS. Kurs JISDOR berada di Rp17.931 per dolar AS, sementara indeks dolar AS menguat ke 99,53. Kondisi ini menunjukkan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap aset negara berkembang.
Di pasar komoditas, harga minyak menjadi sorotan utama. WTI melonjak 8% ke US$96 per barel dan Brent naik 4,28% ke US$97 per barel. Kenaikan ini dipicu kekhawatiran gangguan pasokan energi akibat konflik geopolitik. Harga batu bara Newcastle turut menguat hingga 3,75%, sedangkan CPO Malaysia naik 3,04%.
Sebaliknya, logam mulia dan logam industri mengalami tekanan. Emas spot turun 1,21%, perak melemah 2,46%, tembaga turun 2,53%, dan nikel terkoreksi 2,19%. Pelemahan ini sejalan dengan penguatan dolar AS dan kenaikan yield obligasi.
Secara keseluruhan, pasar global saat ini berada dalam fase risk-off. Investor memantau perkembangan konflik geopolitik, arah inflasi global, serta kebijakan suku bunga bank sentral. Untuk pasar Indonesia, pergerakan rupiah, harga energi, dan arus dana asing akan menjadi faktor utama yang menentukan arah pasar dalam jangka pendek.
Sumber: Bloomberg, CNBC, Investing.com, IBPA, Bursa Malaysia, Phintraco Sekuritas.
Disclaimer ON:
Informasi ini disusun dari sumber publik yang dianggap terpercaya dan bertujuan sebagai bahan edukasi serta informasi pasar. Bukan merupakan ajakan membeli atau menjual instrumen investasi tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing investor.