30/09/2015
Monexnews - Jepang membutuhkan stimulus ekonomi tambahan untuk mencegah kejutan besar dari China, menurut salah satu penasehat terdekat Perdana Menteri Shinzo Abe. Etsuro Honda, salah seorang arsitek Abenomics dalam perannya sebagai penasehat khusus Abe, mengatakan bahwa mengesahka anggaran tambahan untuk mendorong laju perekonomian yang stagnan merupakan tugas yang mendesak. Menurutku kita belum berada dalam resesi teknikal, namun secara umum perekonomian Jepang berada dalam situasi yang statik, ucap Honda pada Financial Times. Perekonomian Jepang tidak bertumbuh secara positif, tambahnya.
Komentar dari Honda menyoroti kecemasan di Tokyo mengenai negara asal permintaan, seiring pasar ekspor penting di Asia melambat, sementara konsumen domestik terus kesulitan. Abe memberikan sinyal sitmulus tambahan pada presentasi hari Selasa, yang dinyatakan olehnya sebagai awal dari "Abenomics 2.0," sebuah fase baru paket reformasi ekonomi, fiskal, dan moneter miliknya. Saat ditanyakan mengenai resiko dari perlambatan di China, mitra dagang terbesar Jepang, Abe mengatakan dirinya siap merespon.
Honda mengatakan bahwa dirinya lebih semakin banyak alasan dibutuhkannya tambahan QQE dari Bank of Japan. Ia mengatakan gap output telah melebar dengan penurunan GDP dan survey yang menunjukkan penurunan ekspektasi inflasi publik. Honda juga mengatakan bahwa dirinya sendiri masih belum yakin dan tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh BoJ, namun BoJ sedang mempertimbangkan dengan sangat serius mengenai dibutuhkannya tambahan QQE.
(xiang)