10/11/2016
Jakarta - Indonesia kembali menjadi tuan rumah acara the 11th ASEAN Finance Ministers Investors Seminar (AFMIS) 2016 yang akan digelar pada hari Selasa, 15 November 2016 mendatang, bertempat di Hotel Mulia Senayan, Jakarta. Sebelumnya, Indonesia pernah tiga kali menjadi tuan rumah di tahun 2008, 2009, dan 2011.
Acara ini dalam rangka mempromosikan ASEAN sebagai kawasan yang menarik bagi investasi, dan akan menjadi pertemuan antara Menteri dari kawasan ASEAN dengan para investor, baik yang berasal dari dalam maupun luar ASEAN.
"Jadi ini promosi, sifatnya lebih kepada update perkembangan kita. Ini sifatnya sangat terbuka. Kita membuka peluang para investor ketemu dengan direksi BUMN kita. Misal Pertamina mau nawarin kilangnya. Tourism juga, ingin showcase apa yang ingin ditawarkan," ujar Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Suahasil Nazara dalam jumpa pers di Gedung Djuanda I Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (10/11/2016).
Acara yang diselenggarakan oleh Kementerian Keuangan ini nantinya akan dihadiri oleh sekitar 300 partisipan yang terdiri dari 250 investor domestik, regional, dan global, serta 50 partisipan berasal dari anggota Delegasi Pemerintahan negara-negara ASEAN.
"Menteri Keuangan Singapura, Wakil Menteri dan Deputi Menteri dari beberapa negara ASEAN dipastikan datang," ungkapnya.
AFMIS 2016 akan mengangkat tema "ASEAN: Dynamic, Resilient, and Inclusive Growth". Tema ini dianggap relevan untuk merefleksikan capaian perkembangan ekonomi yang telah diraih oleh ASEAN sebagai suatu kawasan maupun di masing-masing negara anggotanya, serta prospek ke depan.
AFMIS sendiri akan menyoroti peluang investasi di kawasan ASEAN, dan mengeksplorasi pengembangan pasar keuangan dan juga potensi ekonomi ASEAN dibandingkan dengan pasar negara berkembang lainnya.
lndonesia akan memanfaatkan kehadiran investor regional dan global dalam pertemuan AFMIS melalui promosi maupun dialog. Forum AFMIS ini juga bermanfaat untuk memposisikan lndonesia sebagai primadona investasi mengingat terfokusnya perhatian investor global kepada stabilitas pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan, reformasi struktural yang terus berjalan untuk meningkatkan daya saing dengan disertai perbaikan iklim bisnis dan investasi yang terus dilakukan.
"Untuk Indonesia sendiri, sebagai tuan rumah, kita rasa akan banyak manfaat, menarik investor domestik-global, termasuk memperkuat ekonomi kita. Kita yang ingin memperbaiki ease of doing business kita juga akan disampaikan di sana," tutur dia.
Selain itu, AFMIS juga diharapkan bisa berdampak bagi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atau sektor swasta dalam rangka promosi, menjalin jaringan kerja sama, serta menjajaki kemungkinan ekspansi usaha ke negara-negara ASEAN lainnya.
Sebagai gambaran, ASEAN adalah kawasan yang dinamis, memiliki daya tahan, dan diharapkan memiliki pertumbuhan yang berkelanjutan.
Hal ini terbukti dengan di tengah kondisi ketidakpastian ekonomi global saat ini, kinerja perekonomian ASEAN tetap baik. PDB ASEAN mencapai sekitar US$ 2,5 triliun tahun 2015, yang didukung oleh pertumbuhan yang solid 4,7% pada 2015.
Pada 2016, konsumsi publik dan swasta diharapkan menjadi kontributor yang signifikan untuk pertumbuhan di kawasan secara keseluruhan, didukung oleh efisiensi yang diperoleh dari percepatan investasi di bidang infrastruktur, perbaikan lingkungan bisnis, dan momentum integrasi ekonomi regional setelah terbentuknya MEA.
Pertumbuhan regional diproyeksikan mencapai 4,5% dan 4,6% pada tahun 2016 dan 2017. Lebih tinggi dibandingkan kawasan lainnya yang mengalami perlambatan.
lndikator ekonomi lainnya di kawasan juga menunjukkan hasil yang positif, ditandai dengan meningkatnya volume perdagangan sekitar US$ 1 triliun sejak road map Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dimulai tahun 2007, yakni dari total perdagangan US$ 1,6 triliun menjadi US$ 2,5 triliun pada tahun 2014.
Perdagangan intra-ASEAN mencapai sekitar 24% dari total perdagangan ASEAN. Mitra dagang utama ASEAN lainnya adalah Tiongkok (15,2%), Jepang (10,5%), Uni Eropa (10%), dan Amerika Serikat (9.3%).
Dalam periode tersebut aliran investasi asing langsung yang masuk ke ASEAN juga meningkat pesat dari US$ 85 miliar tahun 2007 menjadi US$ 120 miliar tahun 2015.
Aliran FDI intra ASEAN mencapai kisaran 18% yang berasal dari intra ASEAN dan luar ASEAN yang utamanya berasal dari Uni Eropa, Jepang, Amerika Serikat, dan Tiongkok. Ini menunjukkan ASEAN menjadi pasar yang sangat menjanjikan untuk berinvestasi.
Acara ini mempromosikan ASEAN sebagai kawasan yang menarik bagi investasi, dan akan menjadi pertemuan antara Menteri dari kawasan ASEAN dengan para