14/02/2018
Surat Cinta Ayah untuk Keluarga
Alkisah ada 6 orang laki-laki yang bersahabat akrab.
Yang pertama, menjadi seorang Rohaniawan.
Yang kedua, menjadi seorang Bankir.
Yang ketiga, menjadi seorang Pengacara.
Yang keempat, menjadi seorang Dokter Spesialis Jantung.
Yang kelima, menjadi seorang Pengusaha.
Yang keenam menjadi Agen Asuransi.
Ditengah kesibukan masing-masing mereka berenam sering meluangkan waktu berkumpul di rumah salah satu diantara mereka secara bergantian.
Suatu ketika secara tiba-tiba si pengusaha mengalami gangguan jantung dan harus segera ditangani dokter. Istri pengusaha ini langsung menghubungi sahabat suaminya yang dokter spesialis jantung. Tetapi Pengusaha ini akhirnya meninggal dunia.
Semua ke 5 sahabat membantu keluarga almarhum sahabat mereka hingga acara pemakaman.
3 hari setelah pemakanan si dokter menghubungi istri almarhum dan bercerita bahwa dialah yang menjadi penjamin seluruh biaya pengobatan almarhum. Diberikan waktu 1 Minggu untuk melunasinya.
Di hari yang sama yang rohaniawan datang untuk menghibur dan menguatkan si istri. Namun dia berkata saya tidak bisa membantu biaya pengobatan almarhum.
Beberapa hari kemudian datanglah sahabat almarhum si Bankir dan memberitahu si istri bahwa suaminya ketika hidup meminjam 10 Milyar untuk mengembangkan bisnisnya. Jika tidak diselesaikan rumah dan aset-aset yang diagunkan ke Bank akan disita. Sang istri almarhum hanya tertunduk lesu dan tidak tau harus bagaimana.
Bisnisnya pun juga terus merugi dan terancam tutup sejak suaminya meninggal.
Lalu kemudian sahabat almarhum yang Pengacara datang bersamaan dengan sahabat almarhum yang berprofesi sebagai Agen Asuransi. Si Pengacara datang, dia hanya bs membantu untuk penangguhan sementara sita aset oleh Bank dan mengajukan permohonan keringanan.
Si istri almarhum menitikkan air mata sambil memeluk kedua anaknya.
Lalu sahabat almarhum yang berprofesi sebagai Agen Asuransi segera menceritakan kepada si istri. Tahun lalu saya bertemu almarhum untuk menawarkan program perlindungan aset, mengingat almarhum mengagunkan semua untuk mendapatkan pinjaman dari bank.
Beliau telah mengambil proteksi sebesar Rp 15 Milyar.
Rp 10 Milyar untuk jaminan pelunasan utang usaha dan Rp 5 Milyar untuk kebutuhan biaya hidup Ibu dan anak-anak.
Lalu istri almarhum meneteskan air mata dan menangis...tak kuasa lagi menahan haru.
Dia berkata ini seperti mimpi. Yang semula sahabat almarhum yang paling saya hindari, yang paling tidak saya harapkan kehadirannya, dan yang saya anggap hanya mengganggu ketenangan saya dan almarhum suami.
Oh Tuhan,.. maafkanlah saya selama ini saya sudah salah besar. Ternyata agen asuransi inilah yang paling bisa membantu kesusahan saya dan anak-anak di saat seperti ini.
Ya,..Surat Cinta terakhir dari Ayah untuk keluarga adalah sebuah Polis Asuransi.
----------------------------------------------------------
# Semoga kisah ini menginspirasi banyak orang untuk memahami misi mulia seorang agen asuransi. Bahwa agen asuransi bukanlah orang yang mendapat keuntungan terbesar dari sebuah Polis Asuransi tetapi keluarga yang ditinggalkan yang mendapatkan manfaat terbesar dari sebuah Polis Asuransi.
# Semoga kisah ini juga memberikan dorongan semangat buat para agen asuransi untuk meneruskan misi mulia ini.
"Happy Valentine's Day ..."
Sahabatmu,
Stephani Destrianita
Financial Consultant
PT. AXA Financial Indonesia