Sahabat Bisnis Interasia

Sahabat Bisnis Interasia Crowd Lending atau Peer to Peer Lending

23/11/2015

Kami sekarang telah mengganti nama menjadi Investree.id, dan dengan begitu telah pindah halaman ke link ini:

https://www.facebook.com/investreeIDPage

Indonesia's leading marketplace lending platform. Kami mendigitalisasi inklusi finansial.

Ingin berinvestasi dalam P2P Lending? Mari kita lihat tips-tipsnya dari para ahli!http://thelendingmag.com/peer-to-peer-...
25/08/2015

Ingin berinvestasi dalam P2P Lending? Mari kita lihat tips-tipsnya dari para ahli!

http://thelendingmag.com/peer-to-peer-lending/

Want to learn the secrets of earning great peer-to-peer lending returns? 30 P2P experts give you advice, experts include Aaron Vermut, Peter Renton and...

https://en.wikipedia.org/wiki/Peer-to-peer_lending
24/08/2015

https://en.wikipedia.org/wiki/Peer-to-peer_lending

Peer-to-peer lending commonly abbreviated as P2PL is the practice of lending money to unrelated individuals, or "peers", without going through a traditional financial intermediary such as a bank or other traditional financial institution. P2PL is not to be confused with peer to peer investing (P2PI)…

-Tabungan dan deposito adalah bentuk investasi yang cukup aman dan paling umum yang memberikan bunga rendah, tetapi bung...
06/08/2015

-Tabungan dan deposito adalah bentuk investasi yang cukup aman dan paling umum yang memberikan bunga rendah, tetapi bunga rendah tersebut termakan oleh inflasi sehingga dari segi ekonomi bukan jadi investasi yang menarik.

-Bond/obligasi juga bisa memberikan hasil besar meskipun tidak sebesar saham. Bond/obligasi juga tidak stabil, tapi tidak separah saham (lebih aman). Obligasi bisa juga merugikan dengan besar jika perusahaan asal obligasi tersebut bangkrut, tapi tidak dengan skala saham yang lebih parah.

-Mutual fund mempunyai metode yang mudah, yaitu memberi uang kepada pada pengelola (satu orang atau satu perusahaan). Tetapi biasanya ada biaya tambahan (biaya pengelola, komisi, dll) yang lumayan besar, dan bisa langsung menguras keuntungan yang didapatkan dari fund tersebut. Dana dalam bentuk ini juga membutuh banyak waktu untuk dicairkan, membuatnya sangat susah untuk dana mendadak.

-Pasar saham bisa memberikan hasil besar, tapi tidak stabil dan bisa juga merugikan dengan besar jika pasar saham anjlok atau peruhaan asal saham tersebut bangkrut.

-Peer to Peer (P2P) Lending adalah cara investasi yang bisa memberikan hasil yang lebih besar dibanding deposito dan obligasi, dengan tingkat resiko yang lebih rendah dari pada mutual fund atau saham.

-AFC adalah sebuah perusahaan P2P lending. Kami telah menganalisa risiko sudah dianalisa dan melalui prosedur credit risk sebagaimana layaknya bank, sehingga investasi Anda sudah diamankan semaksimal mungkin.

===================================================

Peer-to-Peer Lending, Sebuah Alternatif Investasi
Apakah Anda adalah seseorang dengan penghasilan tetap, atau memiliki bisnis pribadi? Apapun jawabannya, tentu Anda ingin mempunyai penghasilan yang bisa bertahan atau bahkan berlipat ganda, bukan?

Bila begitu, mau tidak mau, Anda harus menyimpan uang Anda dalam bentuk tertentu, alias berinvestasi. Apa saja produk investasi yang bisa kita jalankan? Yuk kita bahas satu per satu apa kelebihan dan kekurangan beberapa produk investasi berikut.

1. Tabungan dan Deposito
Contoh paling mudah dari program penyimpanan uang adalah tabungan dan deposito. Dua produk perbankan bank yang paling umum ditemui di Indonesia. Bahkan, sedari kecil kita sudah diajarkan untuk gemar menabung atau menaruh dana berlebih di bank. Sebagai balasannya, bank memberikan bunga yang dapat menambah uang Anda.

Tapi nyatanya, biaya hidup modern saat ini terus meningkat secara signifikan akibat inflasi. Hingga inflasi menjadi momok yang merobek kantong kita semua. Lihat saja kala menjelang Lebaran, seperti sudah dikomando, harga-harga bahan pokok meningkat tajam. Atau jika dulu biaya parkir hanya Rp1.000 per motor per jam, kini menjadi Rp2.000 per motor per jam.

Dari waktu ke waktu, inflasi terus menanjak. Tapi di satu sisi, bank tidak memberikan peningkatan bunga tabungan yang mampu mengimbangi kenaikan harga tersebut. Di sini dapat kita simpulkan, tabungan dan depisoto tidak lagi menjadi produk yang menarik untuk menyimpan uang. Alasannya satu, mereka memberikan bunga yang rendah.

2. Bond/Obligasi
Bila Anda mencari bentuk investasi dengan tingkat risiko yang relatif rendah namun dapat memberikan keuntungan tetap, investasi obligasi bisa menjadi pilihan tepat. Saat ini, di Indonesia tersedia beberapa produk pilihan obligasi, misal Obligasi Negara, Obligasi Negara Ritel (ORI), serta Sukuk Negara Ritel (SUKRI).
Dengan investasi obligasi, Anda bisa memperoleh pendapatan dari kupon reguler yang dibayarkan oleh penerbit obligasi secara berkala, serta dari nilai obligasi saat jatuh tempo.

Khusus untuk ORI, sejumlah pandangan menganggapnya lebih menarik ketimbang deposito sebab memiliki return di atas inflasi. Bahkan potongan pajak ORI lebih rendah dibanding deposito. Anda juga bisa memperjualbelikannya di pasar sekunder, yaitu di Bursa Efek Indonesia. Di pasar sekunder p**a ORI dapat dijual jika Anda ingin mencairkannya sebelum jatuh tempo.

Tapi, tidak semua orang cocok berinvestasi di obligasi negara ini. Sebelum Anda terjun, pastikan tujuan investasi bisa diwujudkan dengan ORI. Kelemahan lain, harga jual sekunder ORI tergantung kondisi pasar, bisa lebih tinggi (capital gain) atau malah lebih rendah. Biasanya, nilai sekunder ORI akan menurun kala mendekati jatuh tempo. Jadi jangan pernah Anda membeli ORI hanya ikut-ikutan tren, ya.

3. Mutual Fund
Bagaimana dengan investasi di mutual fund? Sekilas, investasi ini terlihat mudah dan menjanjikan. Sebab Anda hanya tinggal menaruh dana ke para profesional. Lalu biarkan para profesional tersebut bekerja untuk mengelola Anda.

Untuk investasi ini, Anda pun memiliki banyak pilihan. Misalkan saja reksadana, atau produk campuran antara asuransi dan investasi yang bernama unit-linked.

Tapi jangan salah, investasi ini juga punya kelemahan. Tanpa disadari, Anda harus membayar aneka fee dan komisi ke profesional atau perusahaan pengelolaan dana tersebut. Nilai fee dan komisi itu pun tidak sedikit. Tahu-tahu, dana yang Anda tanam banyak tergerus.

Kerugian lain, Anda tidak bisa menarik begitu saja dana yang ada dalam produk ini. Butuh beberapa hari untuk mengajukan permohonan penarikan hingga pencairan dana. Dan jika butuh dana mendadak, sementara kondisi pasar sedang turun, mau tidak mau Anda harus menjual reksadana dalam kondisi rugi.

4. Pasar Saham
Nah, pasar saham merupakan salah satu area menarik untuk menaruh uang Anda. Bagaimana tidak menggiurkan, tinggal membeli minimal 1 lot saham saja, trading atau perdagangan saham bulanan bisa saja menghasilkan return atau pengembalian 10%. Sementara dalam jangka waktu 10 tahun, kenaikan harga di Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bisa mencapai 915,82%.
Eits, Anda boleh saja tergiur, tapi tidak sembarang orang bisa masuk ke investasi jenis ini loh. Karena butuh pemahaman mendalam dan pengalaman untuk berinvestasi di saham.
Bagaimana tidak, dalam perdagangan saham harian, harga saham bisa naik turun drastis secara tidak menentu alias volatile. Dengan kata lain, bikin sport jantung. Jika dana Anda mepet, bisa saja habis dalam sakian detik. Mengerikan bukan?

5. P2P lending atau crowd-lending
Nah, kini ada skema investasi yang terbilang baru di Indonesia, namanya P2P lending atau crowd-lending. Anda belum pernah dengarnya? Yuk, kita kupas tuntas investasi ini.
P2P lending atau crowd-lending juga sering disebut debt crowdfunding, marketplace lending, atau alternative lending. Skema P2P lending sangat populer di Amerika Serikat, Inggris, dan Tiongkok. Di Indonesia, salah satu perusahaan besar yang menawarkan investasi jenis ini adalah Asia Funding Club, yang bermarkas di Singapura.

Untuk mudahnya, P2P lending ibarat perusahaan yang berperan sebagai biro jodoh. Tapi bukan calon pasangan kasmaran yang mereka pertemukan, melainkan para pemberi pinjaman (lender) dengan para pencari pinjaman (borrower).

Jika Anda adalah pebisnis atau pemilik perusahaan, Anda bisa meminjam sejumlah uang dari pemberi pinjaman, dengan jangka waktu tertentu. Saat jatuh tempo pinjaman, Anda harus mengembalikan pinjaman beserta bunganya. Dan semua proses pengajuan pinjaman jauh lebih singkat ketimbang Anda memohonnya ke bank.

Sementara bagi pemberi pinjaman atau investor, konsep P2P lending memberikan banyak keuntungan. Karena bank tidak lagi terlibat dalam pemberian pinjaman, maka Anda akan mendapatkan hasil lebih baik dalam jangka waktu lebih singkat.
Tapi Anda pun harus berhati-hati, walaupun investasi P2P lending ini menarik, ada p**a risikonya, terutama bagi Anda yang berperan sebagai investor pemberi pinjaman. Tetapi di perusahaan P2P yang satu ini, Asia Funding Club, risiko sudah dianalisa dan melalui prosedur credit risk sebagaimana layaknya bank, sehingga investasi Anda sudah diamankan semaksimal mungkin.

Kabar baiknya lagi, portal Asia Funding Club sudah memenuhi berbagai ketentuan regulasi di ASEAN dan transparan. Sebagai perusahaan P2P lending di Indonesia, Asia Funding Club juga menyediakan kontrak persetujuan sesuai dengan hukum yang berlaku. Jadi, investasinya bisa dipertanggungjawabkan. Menarik bukan?

-Peer to peer (P2P) lending membantu mempertemukan para pemberi pinjaman (lender) dengan para pencari pinjaman (borrower...
06/08/2015

-Peer to peer (P2P) lending membantu mempertemukan para pemberi pinjaman (lender) dengan para pencari pinjaman (borrower)
-proses aplikasi untuk pinjaman lewat P2P lending jauh lebih cepat dari pada bank, dan dananya bisa dicairkan dalam 12 hari dibanding 3-6 bulan dari bank, termasuk waktu untuk memproses aplikasi.
-Tingkat pengembalian Bunga untuk borrower lebih besar di system P2P dari pada bunga deposito. 12%-18% dibanding dengan 8% dari deposito.

===================================================

Peer-to-Peer Lending Vs Pinjaman Bank

Pernah mendengar kata Peer-to-Peer (P2P) lending? Bila belum, tak mengapa. Sebab bagi kalangan masyarakat Indonesia, P2P lending merupakan barang baru.

Secara singkat, P2P lending merupakan istilah untuk pinjaman antar orang, yang dilakukan melalui internet. Sementara dari sisi praktik, P2P lending bisa dibayangkan sebagai sebuah perusahaan yang mempertemukan para pemberi pinjaman (lender) dengan para pencari pinjaman (borrower) jadi satu.
Jangan diibaratkan seperti biro jodoh saja ya, sebab selain jadi tempat bertemu antara lender dan borrower, P2P lending ini juga menjadi tempat para lender untuk mengetahui lebih mendalam bahwa para borrower yang dipasang di website P2P lending adalah peminjam dengan kualitas terbaik.

Perusahaan P2P lending dengan sangat baik telah menyaring dan menganalisa para borrower ini. Dengan demikian, para lender akan merasa nyaman dengan produk pinjaman dari perusahaan P2P lending ini, dan itu p**a sebabnya perusahaan P2P lending seperti Asia Funding Club (AFC) juga menaruh uang mereka dalam produk pinjaman yang ditawarkan (3%-5%).

Pemberi pinjaman ini bisa saja semua lapisan masyarakat yang merasa memiliki uang lebih untuk dipinjamkan. Sementara peminjam ini bisa saja semua lapisan masyarakat atau pun UMKM yang membutuhkan dana untuk perkembangan usahanya.

Nah, melalui platform P2P lending ini, si perusahaan ini, bertugas mengumpulkan para calon peminjam kemudian menyortirnya berdasarkan kelayakan bisnisnya. Di sisi lain, si perusahaan juga mengumpulkan para calon pemberi pinjaman yang kredibel.
Selanjutnya, perusahaan akan menawarkan profil si peminjam kepada para pemberi pinjaman. Pemberi pinjaman yang merasa cocok dan tertarik, tentu saja akan langsung klik memberikan pinjaman. Peminjam pun, juga bisa dengan cepat mencairkan pinjamannya.

Jadi dalam skema P2P lending ini, si perusahaan bisa memberikan kesempatan untuk para pencari pinjaman dan para pemberi pinjaman untuk bertemu dengan cepat, tepat, akurat, aman, serta kapan saja. Bahkan dibandingkan dengan perjodohan ala bank.

Hasilnya, pencari pinjaman dapat akses keuangan cepat dan mudah. Sementara pemberi pinjaman bisa mendapatkan pendapatan bunga bersama dengan pengembalian pinjaman. Mau tahu apa saja kelebihan P2P lending ketimbang bank? Yuk, kita telusuri bersama-sama.

Mari kita mulai dari proses aplikasinya. Bayangkan Anda adalah pemilik bisnis kecil yang ingin mengakses pinjaman untuk pertumbuhan usaha Anda. Jika Anda memilih skema P2P lending, langkah awal yang dilakukan adalah memilih perusahaan P2P lending yang cocok atau sesuai dengan kriteria. Pemilihan dilakukan melalui pencarian di internet.

Langkah berikutnya, Anda harus melakukan profiling bisnis yang Anda miliki dengan baik untuk mempermudah proses aplikasi. Investor bisa melihat lihat data dan informasi yang ada kemudian menyetujui untuk turut didalam memberikan pinjaman terhadap invoice tertentu.

Nah, jika pinjaman sudah disetujui, hanya dalam waktu tiga hari saja pinjaman dapat Anda cairkan. Langkah berikutnya, Anda harus menumbuhkan bisnis Anda seiring dengan pembayaran pinjaman.

Bagaimana bila dibandingkan sistem aplikasi di bank? Anda yang meminati pinjaman bank, langkah pertama yang harus dilakukan adalah memilah produk pinjaman apa yang cocok dari sisi suku bunga, kriteria dan persyaratannya. Langkah kedua, kumpulkan informasi mengenai diri pribadi Anda serta bisnis Anda. Jangan lupa cantumkan rencana bisnis, perencanaan anggaran serta pernyataan kepemilikan aset.

Berikutnya, Anda harus memberikan data dan bukti bahwa bisnis Anda memiliki prospek baik. Misal dengan memberikan estimasi cash flow, serta akun yang terbaharui minimal dua tahun. Langkah keempat, Anda harus memberikan gambaran berapa pinjaman yang dibutuhkan dan untuk apa saja?

Langkah kelima, isi formulir aplikasi. Beberapa bank memperbolehkan pengisian aplikasi secara online tapi kebanyakan harus bertemu dengan bankir khusus. Setelah mengisi formulir, tunggu beberapa lama sampai pihak bank merespon Anda.

Di proses selanjutnya, yakni menunggu respon bank, bisa memakan waktu hingga 3 bulan. Pada proses ini, tidak jarang bank menginginkan informasi tambahan mengenai Anda dan bisnis Anda. Jadi, Anda harus siap siaga!

Selanjutnya, jika aplikasi sudah disetujui bank, Anda masih harus menunggu pencairan dananya. Biasanya, lamanya 14 hari waktu kerja.

Dari sisi aplikasi saja, meminjam di bank lebih ribet ketimbang meminjam di P2P lending. Kalau diadu dari sisi waktu atau lama proses aplikasi, rata-rata pinjaman skema P2P lending hanya butuh waktu 12 hari saja. Bandingkan dengan bank yang butuh waktu 3 bulan-6 bulan! Jika dihitung dari sisi biaya, tentu saja P2P lending lebih murah karena Anda melakukannya secara online, bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja.

Bagaimana jika Anda adalah pemberi pinjaman? Nah, ketimbang menyimpan uang di bank, ternyata skema P2P lending ini bisa memberikan anda return atau tingkat pengembalian bunga lebih tinggi dibanding bunga deposito bank. Dari pengalaman pemberi pinjaman di beberapa perusahaan P2P lending di luar negeri, para pemberi pinjaman bisa menikmati return antara 12%-18% per tahun dalam kurun waktu 3-5 bulan tergantung tenor invoice, dibanding return deposito yang hanya 8%.

Tentu saja ada risiko yang bisa saja ditanggung oleh Anda sebagai pemberi pinjaman, yang paling nyata, si peminjam tersendat atau gagal mengembalikan pinjaman. Tapi, biasanya ada kontrak khusus antara peminjam dan pemberi pinjaman yang disahkan dengan pengikatan perjanjian tertentu.

Di Indonesia, Anda bisa saja kesulitan mencari perusahaan P2P lending. Tapi jangan khawatir. Bagi Anda calon pemberi pinjaman atau calon peminjam yang tertarik dengan skema P2P lending, bisa mempertimbangkan penawaran di Asia Funding Club (AFC), perusahaan P2P Lending besar yang bermarkas di Singapura. Tahun ini, AFC masuk ke Indonesia, Thailand dan Singapura. Layanan AFC akan tersedia di seluruh ASEAN pada 2016.

29/07/2015

Address

Jakarta
12910

Telephone

0215252892

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Sahabat Bisnis Interasia posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share