27/02/2026
Pusat Oleh-Oleh: Motor Pertumbuhan UKM & Sektor Informal
Pusat oleh-oleh bukan sekadar tempat berbelanja, tetapi menjadi ruang distribusi penting bagi ribuan pelaku UKM dan usaha sektor informal. Dari produsen makanan rumahan, pengrajin lokal, hingga usaha keluarga berskala kecil, banyak di antaranya bergantung pada pusat oleh-oleh sebagai kanal penjualan utama.
Data yang dikutip dari ANTARA News menyebutkan bahwa per Februari 2025 sekitar 59,40% tenaga kerja Indonesia atau 86,58 juta orang bekerja di sektor informal. Angka ini menunjukkan betapa besarnya peran usaha kecil dan mandiri dalam menopang ekonomi nasional.
Dalam konteks ini, pusat oleh-oleh memiliki peran strategis. Ia menjadi jembatan antara pelaku usaha kecil dengan pasar yang lebih luas, termasuk wisatawan dan konsumen luar daerah. Skema kemitraan dan sistem titip jual memberi kesempatan bagi UKM untuk berkembang tanpa harus memiliki toko sendiri.
Pertumbuhan pusat oleh-oleh secara langsung mendorong perputaran ekonomi lokal. Setiap produk yang terjual tidak hanya menguntungkan pengelola pusat oleh-oleh, tetapi juga menggerakkan rantai pasok di belakangnya, mulai dari produsen bahan baku, tenaga kerja, hingga distributor kecil.
Dari perspektif investasi, model bisnis seperti ini menarik karena berbasis pada ekonomi riil dan kebutuhan konsumsi yang stabil. Sektor informal yang terorganisir dengan baik memiliki potensi ekspansi, terutama ketika didukung manajemen yang solid dan strategi distribusi yang kuat.
Salah satu contoh bisnis yang berkembang melalui model pusat oleh-oleh adalah Sari Barokah, yang membuka akses pendanaan melalui penerbitan Sukuk Sari Barokah. Melalui instrumen ini, investor dapat berpartisipasi dalam mendukung pertumbuhan usaha yang secara langsung terhubung dengan penguatan UKM dan sektor informal di Indonesia.
Temukan informasi selengkapnya mengenai Sukuk Sari Barokah di website FundEx.id atau di aplikasi FundEx Mobile!