Greenlite Harmony Land

Greenlite Harmony Land Greenlite Harmony Land adalah Pengembang Profesional, anak perusahaan dari PT. Greenlite Internasional yang berinisiasi dengan PT. Harmony Land Group

Apakah Indonesia Mengalami Bubble Properti ? Bubble Property, atau dalam bahasa indonesia diartikan sebagai fenomena gel...
08/05/2016

Apakah Indonesia Mengalami Bubble Properti ?

Bubble Property, atau dalam bahasa indonesia diartikan sebagai fenomena gelembung adalah sebuah fenomena harga yang terus naik ibarat gelembung yang terbang ke atas, hingga suatu saat gelembung tersebut akan pecah dan jatuh kebawah. Inilah yang terjadi pada Amerika Serikat saat krisis ekonomi tahun 2008. Harga properti di Amerika Serikat relatif datar pada tahun 1990 an. Memasuki tahun 2000 harga terus mengalami kenaikan dan semakin drastis pada tahun 2007. Lonjakan kenaikan harga pada tahun 2006 ke 2007 mencapai 100% bahkan lebih. Namun, ternyata lonjakan harga yang drastis pada tahun 2006 diikuti penurunan yang drastis p**a diakhir tahun 2007.

Inti dari terjadinya Fenomena Bubble Property ini, adalah adanya peningkatan permintaan yang besar yang disambut oleh tingkat penawaran yang terus membesar, yang pada akhirnya malah melebihi tingkat permintaan yang ada. Sebagaimana hukum keseimbangan pasar berlaku, ketika permintaan lebih besar dari penawaran, maka harga akan naik, dan ketika tingkat permintaan lebih kecil dari tingkat penawaran maka harga akan turun.
Yang menarik dari industri properti adalah penentuan harga jual yang cenderung didominasi oleh faktor opini publik. Secara umum, harga properti ditentukan oleh beberapa hal
1. Tangible Measurement, yaitu penentuan harga properti yang bisa diukur. Pengukuran ini biasanya digunakan untuk properti yang bersifat komersil seperti ruko, kios, toko, kos, hingga apartemen. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan analisa investasi pendapatan berulang (recurring income), dengan nilai yield yang setidaknya harus lebih dari bunga deposito yang berlaku.
2. Intangible Measurement, yaitu penentuan harga properti yang tidak ada ukuran pastinya. Ketiadaan ukuran pasti ini, dikarenakan harga ditentukan oleh asumsi atau opini publik belaka. Pengukuran seperti ini biasanya berlaku untuk properti yang digunakan sebagai hunian non komersil, seperti perumahan, dan rumah second.
Dari kedua model penentuan harga properti, sebagian besar masyarakat menggunakan intangible measurement yang mendasarkan penilaianya pada asumsi atau opini publik. Hal ini lah yang berkontribusi besar pada aktivitas bubble. Sebagai contoh, adanya pembangunan jalan tol Depok-Antasari menyebabkan beberawa wilayah sepanjang jalan tol tersebut naik secara drastis. Dalam hal ini, opini yang menyebutkan bahwa jalan tol membuat harga naik, secara serta merta mendorong pemilik properti untuk menaikan harganya, padahal belum tentu lokasi tersebut akan semakin ramai akibat adanya jalan tol. Bahkan ada beberapa titik yang akhirnya makin sepi akibat aksesnya terputus oleh jalan tol.
Contoh lain adalah daerah Beji terutama wilayah Kukusan. Saat ini harga tanah per m2 di wilayah tersebut berkisar antara 3 juta hingga 6 juta. Padahal rata-rata harga tanah di depok untuk wilayah kelas 3, yaitu area sepanjang jalan utama yang hanya bisa dilalui 1 mobil 2 motor (lebar jalan 5 m2) berkisar antara 1 hingga 2 juta per m2. Perbedaan harga yang mencolok tersebut, selain dikarenakan potensi pendapatan berulang (recurring income) berupa persewaan kamar kos yang besar, juga disebabkan oleh opini publik bahwa harga properti diwilayah tersebut akan terus naik karena sangat dekat dengan Universitas Indonesia, padahal pada titik tertetu bisa jadi nilai investasi sudah tidak sebanding lagi dengan recurring income yang bisa didapatkan dari menyewakan kamar kos.
Jika sebuah properti dalam suatu wilayah terus mengalami kenaikan harga hingga melebihi batas pendapatan berulang (recurring income) dengan tingkat yield yang lebih rendah dari deposito, maka wilayah tersebut terindikasi memiliki peluang terjadinya bubble, atau bisa disebut sebagai Over Value. Walaupun demikian, di Indonesia, kondisi pecahnya bubble sangatlah kecil kemungkinanya. Hal ini disebebakan oleh beberapa hal berikut
1. Kenaikan harga yang signifikan hanya terjadi di segmen menengah atas. Dan itupun terjadi di beberapa lokasi. Sehingga tidak menggambarkan pasar properti secara menyeluruh.
2. Nonperforming Loan (NPL) masih dibawah 3% dengan rasio kredit properti terhadap keseluruhan kredit masih dibawah 15% sehingga terlalu dini menyebutkan pasar properti sudah mengalami bubble.
3. Pasar properti di Indonesia didominasi oleh pasar lokal yang kuat. Berbeda dengan pasar Singapura, China, dan Vietnam yang mengalami bubble karena pasar properti lebih banyak dikuasai oleh asing sehingga ketika terjadi krisis di negara asalnya, maka akan terpengaruh terhadap nilai properti di negara tersebut.
4. Harga properti di Indonesia masih tergolong di bawah rata-rata harga properti negara-negara ASEAN
Dari beberapa penjelasan diatas, dapat kita tarik simp**an bahwa kondisi properti Indonesia masih jauh dari fenomena pecah bubble, yaitu kondisi meletusnya gelembung harga sehingga harga properti mengalami penurunan drastis. Kondisi naiknya harga properti di beberapa wilayah yang melebihi batas pendapatan berulang (recurring income) dengan tingkat yield yang lebih rendah dari deposito hanyalah gejala bubble yang bisa kita sebut sebagai kondisi over value. Kondisi ini hanya terjadi pada properti kelas menengah ke atas dan hanya untuk wilayah tertentu saja. Hal tersebut akan berakibat adanya titik keseimbangan pasar baru yang beralih ke titik yang lain. Selama masih ada wilayah lain yang menjadi opsi pembelian atau investasi properti, maka Indonesia tetap akan jauh dari fenomena pecah bubble.

Cara Ampuh Menyiasati Properti yang Lesu “Selalu ada Kesempatan disetiap Kesempitan”Sudah menjadi topik dimana-mana bahw...
08/05/2016

Cara Ampuh Menyiasati Properti yang Lesu
“Selalu ada Kesempatan disetiap Kesempitan”
Sudah menjadi topik dimana-mana bahwa saat ini kondisi perekonomian Indonesia masih lesu. Angka rupiah terhadap dolar terus naik, kondisi perpolitikan indonesia yang belum stabil dan naiknya berbagai kebutuhan pokok menjadi sumber semakin lesunya berbagai sektor di Indonesia. Salah satu yang terkena imbasnya adalah properti. Berdasarkan survei dari Bank Indoesia (BI), penjualan rumah pada kuartal II-2015 hanya tumbuh 10,84%, sedangkan pertumbuhan penjualan pada kuartal I-2015 mencapai dua kali lipatnya, yaitu sebesar 26,2%. Penurunan penjualan paling banyak terjadi pada rumah kelas menengah. Hanya rumah tipe kecil saja yang mengalami kenaikan walaupun tidak sebesar kenaikan pada kuartal sebelumnya. Kondisi ini diprediksi akan terus berlanjut hingga kuartal II-2016.
Kondisi penurunan penjualan properti juga dikeluhkan oleh sebagian besar pebisnis properti, baik dari pemain kecil hingga pemain besar. Salah satunya adalah Mitra Mugi Property. Tim Mitra Mugi Property menyebutkan bahwa pada kuartal I-2015, rata-rata tiap minggunya ada 40 hingga 60 konsumen yang menanyakan properti di daerah Depok. Namun, saat ini permintaan turun secara drastis menjadi hanya 20 hingga 30 penelpon tiap minggu.
Berbagai keluh kesah bermunculan dari para pelaku usaha. Tidak hanya developer, usaha-usaha turunan lainnya juga terkena imbasnya, seperti kontraktor, arsitek, toko material, toko furniture, agensi properti dan berbagai jenis usaha lainnya. “Harga kebutuhan pokok naik, harga material naik bahkan upah tukang juga turut naik, tapi harga properti jika dinaikan penjualan semakin melambat” ucap Ibnu Abdul Aziz, Direktur Harmony Land pada Selasa (6 Oktober 2015).
Dalam menghadapi kondisi ini, kita tetap harus tenang dan berpikir jernih. Seperti nasehat nenek moyang kita “selalu ada kesempatan disetiap kesempitan”, maka pasti ada celah yang bisa digunakan untuk menghadapi tantangan industri properti saat ini.
Jika kita mengacu pada hukum permintaan dan penawaran, ketika permintaan rendah yang diikuti dengan penawaran yang tinggi, maka harga akan mengalami penurunan. Akibat pertumbuhan properti yang sangat drastis pada tahun 2011 hingga 2013 kemarin (permintaan terus meningkat), berdampak pada semakin banyaknya pelaku usaha properti yang bermunculan. Salah satu contohnya adalah property club TDA Depok, dua tahun terakhir anggotanya meningkat sangat drastis hingga tiga kali lipat, dari sekitar 30 an menjadi 100 an pengembang perumahan. Namun disisi lain, pada tahun 2015 ini angka rupiah terhadap dolar melejit naik hingga menembus angka 14 ribu per dolarnya. Kondisi ini mengakibatkan berbagai komoditas juga terseret naik harganya. Kenaikan kebutuhan pokok ini berdampak pada menurunya tingkat permintaan properti secara nasional. Dengan tingkat penawaran semakin tinggi akibat semakin banyaknya pelaku usaha properti, bertemu dengan tingkat permintaan yang rendah akibat naiknya kebutuhan pokok, maka untuk mendapatkan titik equilubrium harga jual properti harus turun. Hal ini memang berdampak negatif bagi para developer. Namun disisi lain, jika kita lebih cermat lagi, akan muncul berbagai peluang yang menggiurkan. Untuk itu, kita terlebih dahulu harus menggarisbawahi hal-hal berikut
1. Kondisi properti yang lesu adalah siklus dekade yang juga memiliki titik jenuh. Artinya industri properti akan kembali segar setelah melewati titik jenuh penurunan properti
2. Ketika kebutuhan pokok meningkat dan pendapatan tidak mengalami peningkatan, maka sebagian besar orang akan menjual asetnya
Dari kedua poin di atas, kita bisa mengambil satu benang merah dalam menghadapi tantangan properti saat ini, yaitu ketika kondisi perekonomian makin turun, maka akan ada banyak orang yang menjual asetnya. Namun, dikarenakan sebagian orang lainnya juga masih wait and see terhadap dunia investasi dan sebagian orang lainya masih berjibaku pada kebutuhan pokok, maka menjual aset properti memiliki tantangan tersendiri. Karena itu, dengan semakin mendesaknya tingkat kebutuhan seseorang, maka akan banyak bermunculan penawaran properti under value, yaitu ketika harga properti dibawah harga pasar normal saat ini. Disinilah kita akan bermain. Dalam kondisi ini malah kita harus sebanyak-banyaknya mengakuisisi properti-properti under value. Dengan membeli properti yang murah tersebut, ditambah pengolahan yang tepat akan memunculkan ledakan keuntungan yang luar biasa saat sektor properti kembali segar.
Kapan Kita Membeli Aset sehingga bisa masuk kategori Under Value ?
Bagaimana Mendapatakan Properti Under Value ?
Kapan kita menjual Kembali Properti yang kita Miliki ?
Bagaimana Caranya melakukan Pengolahan yang tepat terhadap Momentum ini ?

NB. Informasi lebih jelasnya, tunggu tulisan kami berikutnya
Salam

Address

Abadijaya
Depok

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Greenlite Harmony Land posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Greenlite Harmony Land:

Share