08/12/2017
Setepis angin, membawa cahaya dan menepis debudebu dari ujung derita.
Assalamualayka yaa Rasululallah..
Salamku, bergema selayak angin yang menggelepar dalam senandung sholawat airmata.
Mendera bakup yang gaib,
Memagari tiaptiap renungan.
Pada gelisah angin dan bumi
Pada langit yang menghujamkan airmata,
Duhai denting jam, menit dan detik.
Sungguh kaupun tentu ingin melamban, menjalani syahdunya hari ini.
Sungguh.
Berjuta kata terserak, kupungut satu persatu, kurangkai, kupilah.
Bergetar, maka yang terjadi adalah dinding kamar menguap melalui kata menyanjungnya,
Tempat cinta dan bahasa mengucur merinduinya, mengaduk segala riuh ketakjuban padanya, Nabiku.
Beribu kalimat pun sembunyi di garba jantungku, berdesak-desakan menyusun kursinya, berebut memuji-muji.
Dia, kekasih Tuhan.
Manusia mulia, berkilau cahaya.
Karena engkaulah yang membentangkan jalan tak bertikung,
Kutelusuri di serpihan waktu,
Mengenalmu, mencintaimu ya Nabi Allah.
Sementara kabut ini, bersukutu dalam fana, mengutukku menjadi debu.
Lihatlah noktah hitam disepanjang jidatku
Duhai kekasih Tuhan,
Kekasih alam
Kekasih perempuan-perempuan syurga.
Tengadahku menumpuk doa yang melayanglayang menembus langitNya menujumu.
Dia, Muhammad.
Manusia sempurna.
Namun, hanya Tuhan yang setegak Alif.
~Puja Kusuma
Jum'at, 01 Desember 2017