11/04/2017
Federal Reserves Telah Menggeser Fokus Kebijakannya
Posted By: Wisnu Dewojation:
11 April 2017 | 12:19In: Market Reviews
Saat ini telah terjadi pergeseran fokus dari Federal Reserve, untuk melaksanakan satu tujuan yang mengacu kepada kemajuan setiap sendi perekonomian di AS. Hal ini disampaikan oleh Fed’s Chair Janet Yellen dalam pidatonya di Gerald R. Ford School of Public Policy di University of Michigan, yang mana Yellen menegaskan bahwa bank sentral bertujuan untuk lebih fokus kepada pencapaian pasar tenaga kerja dan target inflasi 2% melalui dua kali kenaikan suku bunga. Sebelumnya para pejabat The Fed lebih terfokus kepada langkah pemulihan ekonomi pasca krisis moneter, pada masa Bernanke masih menjabat sebagai Gubernur The Fed, melalui stimulus untuk menopang sektor keuangan yang mengalami kejatuhan pada saat itu. Yellen dinilai cukup berhasil dalam memacu pasar tenaga kerja yang pada akhirnya memberikan dampak positif bagi belanja konsumen, sebagai penyumbang terbesar bagi ekonomi AS. Yellen berharap bahwa ekonomi akan terus memberikan bukti pertumbuhannya dalam laju yang moderat, sehingga mereka mampu untuk menentukan kenaikan suku bunga secara bertahap. Sementara menanggapi tingkat pengangguran yang terus menunjukkan penurunan yang stabil, Yellen menganggap bahwa hal ini terus mengindikasikan hal yang lebih positif bila mendapatkan dukungan dari pertumbuhan upah. Dalam kesempatan tersebut Yellen, yang masa jabatannya akan berakhir awal tahun depan, juga menanggapi gencarnya kritik yang dilayangkan oleh pemerintahan Donald trump. Dalam hal ini beliau menyampaikan bahwa perubahan demografis serta rendahnya pertumbuhan produktivitas telah menimbulkan hambatan bagi ekonomi AS, serta menyatakan bahwa kinerja bank sentral dalam melakukan pengawasan ketat telah membuat sistem keuangan yang lebih aman, akan tetapi beberapa undang-undang yang diusulkan di Kongres berpotensi memberikan ancaman bagi independensi The Fed dalam melakukan langkah-langkah kebijakannya.
Harga Minyak Masih Mendapatkan Dukungan Dari Sentimen Geopolitik
Minyak terus mendapatkan dukungan seiring semakin tingginya tensi ketegangan geopolitik serta shutdown yang sempat terjadi di ladang minyak terbesar di Libya. Selain itu ekspektasi kuatnya permintaan di AS pada musim panas ini turut menjadi dukungan tambahan bagi harga minyak. Minyak jenis West Texas Intermediate diperdagangan 6 sen lebih tinggi, atau naik sekitar 0.1% di $53.14 per barrel, setelah sempat menguat ke level tertingginya dalam lima minggu di $53.23 per barrel di awal sesi perdagangannya. Brent Crude mencatat kenaikan dalam tujuh sesi berturut-turut, sementara WTI Crude berhasil membukukan kenaikan dalam enam hari beruntun. Ladang minyak el Sharara, ladang terbesar di Libya, ditutup di akhir pekan kemarin setelah terjadi pemblokiran p**a minyak yang terhubung ke terminal minyak yang berlokasi di padang pasir Murzuq. Meskipun saat ini dilaporkan telah beroperasi kembali, namun sentimen pasar masih memberikan dorongan bagi kenaikan harga minyak di minggu ini. Sedangkan kondisi geopolitik semakin panas terkait konfirmasi armada angkatan laut AS yang bergerak ke semenanjung Korea untuk bergabung dengan armada angkatan laut Korea Selatan dalam menghadapi potensi ancaman dari Korea Utara yang terus memprovokasi dengan uji coba rudal balistiknya. Keuntungan yang diraih oleh harga minyak nampaknya masih akan bertahan di pekan ini, di tengah meningkatnya produksi US Shale Oil.