Finanza Contabilita Consulenza Consulting

Finanza Contabilita Consulenza Consulting For those who seeks advices on how to manage their business well. We provide various type of consul

The government is trying to lower down US$ rate by increasing import taxes.  It seems that this imbacile government is t...
30/08/2018

The government is trying to lower down US$ rate by increasing import taxes. It seems that this imbacile government is trying to destroy its own industry since they should obviously know that most of the raw materials needed for industry have to be imported overseas... pathetic...

Nilai tukar rupiah mengalami gejolak terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Berikut pergerakan dolar AS di era Presiden Joko Widodo (Jokowi).

These so called experts in economics are practically clowns.  They are too busy bickering about their achievements yet i...
24/08/2018

These so called experts in economics are practically clowns. They are too busy bickering about their achievements yet in fact they have no idea as to how in fixing Indonesia economic situation. The solution is simple, start producing goods and services, cut down tax rate and give more tax holidays to increase economic activity, and uphold law without government intervention to increase investor’s confidence. Without these solutions, Indonesia’s economic will slump down into oblivion...

Perselisihan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dengan Ketua MPR Zulkifli Hasan membuat Ekonom Senior Rizal Ramli ikut berkomentar.

21/06/2018

Peringkat Utang Lippo Turun, Analis Lebih Was-was Soal Meikarta
Danang Sugianto - detikFinance
Share 0Tweet 0Share 013 komentar
Foto: Tri Aljumanto
Foto: Tri Aljumanto
FOKUS BERITAApa Kabar Proyek Meikarta?
Jakarta - Moody's Investors Services menilai PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) tengah menghadapi persoalan keuangan hingga rating perusahaan dan obligasi senior yang terbitkan anak usahanya turun. Namun pelaku pasar menilai Lippo menghadapi hal lain yang lebih penting, kelanjutan proyek Meikarta.

Meikarta sendiri merupakan proyek milik anak usaha LPKR yakni PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK). Tahun ini perusahaan menargetkan bisa membangun 18 tower dari total 92 tower yang akan dibangun.

Menurut Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee hal itu menimbulkan pertanyaan bagi pelaku pasar. Bagaimana perusahaan memperoleh dana untuk memenuhi kebutuhan dana untuk membangun 18 tower tersebut.

"Menurut teman-teman pengembangan 18 tower itu butuh Rp 5-6 triliun. Sementara isu yang beredar di pasar katanya investor Tiongkok menarik diri karena cost marketing-nya besar sekali. Itu memang harus dikonfirmasi," tuturnya di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (20/6/2018).

Besarnya kebutuhan dana untuk proyek Meikarta dipandang Hans tidak sejalan dengan prospek bisnis Meikarta ke depannya. Sebab dengan harga apartemen mulai dari Rp 127 juta dianggap terlalu murah.

Baca juga: Moody's Turunkan Peringkat Lippo Karawaci

"Waktu awal harga jualnya terlalu murah, margin tipis. Mungkin ingin agar laku diawal baru ambil keuntungan di akhir. Tapi ini kan ada yang harus di-delivery 18 tower," tuturnya.

Sebelumnya pada 1 Juni 2018, Moody's Investors Services telah menurunkan peringkat obligasi senior atau senior note yang diterbitkan anak usahanya Theta Capital Pte Ltd sebesar US$ 75 juta atau setara Rp 1,04 triliun (kurs Rp 13.900) dari B1 ke B2.

Penurutan peringkat obligasi senior itu seiring dengan penurunan rating perusahaan LPKR dari B1 menjadi B2 dengan outlook negatif.

Riset Moody's juga mencatat pada 31 Maret 2018, 79% total utang Lippo Karawaci tidak dijamin. Mayoritas pinjaman Lippo Karawaci berada di perusahaan induk.

Baca juga: Penampakan Kampung yang Terjepit Proyek Meikarta

Melansir data RTI, saat ini total liabilitas LPKR mencapai Rp 27,71 triliyn dengan ekuitas Rp 29,93 triliun. Dengan catatan itu maka Debt Equity Ratio (DER) perusahaan di level 0,92 kali. Hans menilai rasio utang tersebut masih dalam batas aman.

"Tapi mungkin yang dicatat Moody's hanya utang yang terlihat di buku tapi ini ada kewajiban delivery (pembangunan 18 tower Meikarta)," tegasnya

18/06/2018

What are the Biggest 28 Lessons you will learn in Corporate world.

You are not there to make friends.
What you do doesn’t really matter if you can’t show what you have been doing. Have a good presence at office.
Always dress properly. It’s a confidence booster.
Don’t mix your office group and personal groups. Never.
Say no to things that you are not capable to do or you don’t have time to do.
You can’t please all the colleagues. Trying to do so is the waste of time.
Everyone is replaceable. Only thing that matters is the time and effort that is required to replace that person.
People will break your trust and backstab you and use you to climb ladders. Don’t take it personally but keep your eyes open.
You must pay for every resource or service that you use one way or another.
Don’t argue with your manager or try to prove them. In case you don’t already know, your boss is always right.
Treat people with respect and don’t lose your cool easily. Always have positive attitude.
Follow the rules and respect the organizational policy. You might feel like rebel by not doing so but trust me it will impact you in longer run.
Don’t spend too much time with colleagues. 8 hours a day is more than enough.
Don’t share your next move with anyone. Keep it a secret.
Don’t share your weakness with anyone. You never know who is going to use it against you.
Use politically correct language to avoid any harassment cases.
Always do your job even if no one is watching or noticing you. You work should be your first priority. Anything else can always wait during your office hours. This is a habit and it will take you a long way in life.
Your office will fire you any day they don’t require you. So, make yourself ready to sell in market. Learn new skills and keep networking with people.
You are more likely to get promoted if you switch departments or office rather than waiting on same position.
Don’t try to be the smart ass person who keeps throwing sarcastic comments all the time. Be helpful and people will love you.
Share your knowledge with colleagues and they will most probably do the same and help you to increase your overall knowledge.
Don’t ever talk about your other colleagues and managers. You never know who is on whose side and people easily change their side based on their interest.
Find the person who bi***es a lot about people and keep yourself away from this person.
Don’t give everything you know at once. Play it like a card game.
Never date anyone from the same office. Disaster.
Don’t let anyone to make fun of you. Repond to bullies and don’t back out. You have to fight for yourself.
You can’t expect everything to be fair at office. Brilliant people will be stuck at low level job and idiots will be managing them. Deal with it.
Never settle and never stop learning.
Corporate jobs are enjoyable and it’s not as bad as people think. Do what you are supposed to do and you will do great. Cheers!!!

br />

07/06/2018

Lending clampdown sparks fears of an economic chilling effect

06/11/2017

Ritel dan Daya Beli Lesu, Bagaimana Ekonomi RI Kuartal III-2017?
Hendra Kusuma - detikFinance
Ritel dan Daya Beli Lesu, Bagaimana Ekonomi RI Kuartal III-2017?
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini akan merilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2017. Patut ditunggu lantaran pemerintah menargetkan satu tahun penuh sebesar 5,2% dalam APBN Perubahan (APBN-P) 2017.

Hingga semester I-2017, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,01%, setelah pada kuartal I-2017 berada di level 5,01%, dan kuartal II-2017 pun sama di sebesar 5,01%. Pada enam bulan pertama di tahun ini, data ekonomi makro yang cukup tinggi ternyata masih menimbulkan berbagai pertanyaan.

Salah satunya terkait dengan ritel atau toko serba ada (toserba) banyak berguguran dan daya beli masyarakat khususnya kelas menengah bawah yang turun.

Baca juga: Senjakala Toko Serba Ada

Lalu bagaimana ekonomi di kuartal III-2017?

Ekonomi Indonesia pada kuartal III-2017 masih diproyeksikan di kisaran 5% oleh para ekonom. Seperti ekonom dari Bank Permata, Josua Pardede, meramalkan ekonomi nasional tumbuh ke level 5,06% di kuartal III-2017.

"Pertumbuhan ekonomi kuartal III-2017 diperkirakan membaik dari 2 kuartal sebelumnya pada tahun ini," kata Josua saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Senin (6/11/2017).

Baca juga: Tentang Anjloknya Ritel dan Isi Kantong Orang RI

Prediksi pertumbuhan ekonomi kuartal III-2017 sebesar 5,06% ini ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang berada di angka 4,95%-4,99% (YoY). Konsumsi ini dikonfirmasi oleh peningkatan pertumbuhan penjualan mobil penumpang, peningkatan impor barang konsumsi, serta perbaikan penjualan ritel.

Konsumsi pemerintah diperkirakan tumbuh sekitar 2,0%-3,0% (YoY), yang didukung oleh realisasi penyerapan belanja barang, bantuan sosial (bansos) dan belanja pegawai yang meningkat. Sementara, investasi diperkirakan tumbuh sekitar 5,3%-5,4%yoy, untuk ekspor diperkirakan tumbuh sekitar 5-6% (YoY).

"Jadi secara keseluruhan PDB kuartal tiga diperkirakan sekitar 5,06% (YoY.) Dari sisi sektoral, sektor pertanian, manufaktur dan perdagangan masih menjadi pendorong/kontributor utama pertumbuhan ekonomi kuartal III," jelas dia.

Baca juga: Penghasilan Seret Bikin Masyarakat RI Makin Irit, Ini Buktinya

Peneliti di Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira, memperkirakan ekonomi nasional pada kuartal III-2017 tumbuh 5,1%.

"Pertumbuhan ekonomi triwulan ke III diperkirakan akan tumbuh sebesar 5,1% (yoy)," kata Bhima.

Dia menjelaskan, motor pertumbuhan berasal dari belanja pemerintah yang bergeser dari triwulan II ke triwulan III. Untuk konsumsi rumah tangga diharapkan tumbuh stabil di level 5%.

"Motor pertumbuhan lainnya berasal dari komponen ekspor yang terdorong harga batu bara, minyak kelapa sawit, dan minyak mentah. Ekspor sampai akhir tahun diprediksi positif. Sementara Investasi masih belum menunjukkan taji karena realisasi masih tergolong lambat khususnya investasi PMA (Penanaman Modal Asing). Januari-September 2017 pertumbuhan realisasi PMA hanya 7,9% (yoy) berdasarkan data BKPM," tambah dia.

Dia memprediksi p**a jika perekonomian nasional sampai akhir tahun sebesar 5,1% atau masih di bawah target APBN-P yang sebesar 5,2%.

"Untuk mengejar pertumbuhan, kepastian kebijakan khususnya perpajakan harus kondusif sampai akhir tahun. Orang kaya harus didorong untuk mulai belanja lagi. Mereka punya uang tapi masih disimpan di perbankan. Ini salah satu faktornya karena pajak makin agresif," ungkap Bhima. (wdl/wdl)

14/10/2017

Ini Strategi DJP Capai Target Penerimaan Pajak
Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Ini Strategi DJP Capai Target Penerimaan Pajak
Foto: Rachman Haryanto
Depok - Hingga September 2017 penerimaan pajak negara baru mencapai 60%. Kementerian Keuangan RI mengungkapkan memiliki strategi mengamankan dana dari penerimaan yang sudah didapatkan.

Direktur Potensi, Kepatuhan, dan Penerimaan Pajak Kementerian Keuangan Yon Arsal menjelaskan melalui Direktorat Jenderal Pajak akan dilakukan pemeriksaan hingga penagihan.

"Strategi penerimaan pajak kami akan kejar kegiatan extra effort pemeriksaan, penagihan dan pengawasan, tindak lanjut pasca tax amnesty kan jalan terus, kami usahakan maksimal," kata Yon usai kuliah umum di FISIP UI, Depok, Sabtu (14/10/2017).

Kemudian, Ditjen pajak juga akan melakukan perluasan basis pajak. "Kami fokuskan sekarang tidak ada kebijakan baru. Masih ada tax amnesty kita fokus maintenance dan pastikan semua lapor SPT," imbuh dia.

Yon menjelaskan, sisa 3 bulan menuju akhir 2017 akan dilakukan dengan mengejar data valid seperti data wajib pajak. "Jadi data valid yang kita yakini kebenarannya akan kami turunkan ke kantor pusat pratama yang akan follow up by sistem ya," jelas dia.

Dia mengaku masih optimis target bisa tercapai hingga akhir tahun. Masih ada sinyal positif untuk penerimaan. Yon menjelaskan saat ini penerimaan mencapai 60% namun jika dilihat dengan posisi yang sama tahun sebelumnya masih lebih tinggi 2%.

Kemudian yang kedua, jika dilihat faktor penerapan tax amnesty sebenarnya masih bisa tumbuh sekitar 13%.

"Masih sangat bagus ya tahun ini, sebenarnya kalau kita komparasi dengan pertumbuhan alami ekonomi yang sekitar 8-9%. Artinya menurut saya 3 bulan ini memang menjadi challenging untuk kita," imbuh dia.

Yon menjelaskan, tantangan terbesar untuk penerimaan pajak adalah optimalisasi data yang ada dan tanpa menimbulkan gangguan ke perekonomian.

Sebelumnya Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati melaporkan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait dengan penerimaan pajak hingga September 2017 telah mencapai 60% dari target yang ditetapkan dalam APBN-P 2017.

Target penerimaan pajak dalam APBN-P 2017 sebesar Rp 1.283,6 triliun, jika sudah mencapai 60% maka nilainya sekira Rp 770,16 triliun.

(ang/ang)

05/10/2017

Setoran Pajak Masih Kurang Rp 513 Triliun, Pengusaha Was-was
Hendra Kusuma - detikFinance
Setoran Pajak Masih Kurang Rp 513 Triliun, Pengusaha Was-was
Foto: Tim Infografis: Zaki Alfarabi
Jakarta - Pemerintah memastikan penerimaan pajak hingga September 2017 telah mencapai 60% atau setara Rp 770,16 triliun dari target dalam anggaran pendapatan dan belanja negara perubahan (APBN-P) yang sebesar Rp 1.283,6 triliun. Artinya ada kekurangan sebesar Rp 513 triliun.

Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Suryadi Sasmita mengatakan, di sisa waktu tiga bulan biasanya pengusaha selalu dikejar-kejar oleh para petugas pajak.

"Iya jelas, karena mereka kan ingin mengejar target, dengan menerbitkan peraturan-peraturan yang mana hampir semua diperiksain," kata Suryadi di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (5/10/2017).

Baca juga: Sri Mulyani Lapor ke Jokowi, Setoran Pajak Sudah Rp 770 Triliun

Dia mencontohkan, pengejaran para petugas pajak kepada pelaku usaha mulai dari hal-hal teknis seperti kelebihan pembayaran, hingga melihat data-data perusahaan untuk mencari potensi pajak.

"Dikejar, seperti lebih bayar langsung dikejar, terus setiap perusahaan itu langsung dilihat ada apa yang bisa diperiksa, meskipun banyak keluarkan peraturan sehingga bisa dikejar, tapi kalau dikejar karena mereka salah ya kita dukung, jangan kalau tidak salah, malah disalah-salahin," ungkap dia.

Baca juga: Ini Alasan Pengusaha Sebut Pajak Seperti Berburu di Kebun Binatang

Dengan demikian, Suryadi memberikan masukan kepada Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dalam penyusunan Rancangan Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP) untuk meningkatkan sistem teknologi dan informatika (IT) serta peningkatan kualitas SDM. (mkj/mkj)

Kapan pemerintah Indon bisa kasih kenyamanan pada dunia usaha kalau setiap tahun ceritanya selalu begini? Daripada mencari wajib pajak baru, malah selalu menyalahkan dan mencari2 uang pada
wajib pajak yang sudah ada? 💩

03/10/2017

Dolar AS Tembus Rp 13.500, Ini Analisa Penyebabnya
Hendra Kusuma - detikFinance
Dolar AS Tembus Rp 13.500, Ini Analisa Penyebabnya
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan beberapa hari terakhir melemah tajam. Dolar AS menguat cukup tajam dan menembus Rp 13.500.

Beberapa ekonom menyebutkan, perkasanya dolar AS karena pemerintah negeri paman sam akan menerapkan kebijakan reformasi di bidang perpajakan.

Ekonom dari PT Bank Permata, Josua Pardede, mengatakan menguatnya dolar AS juga karena ekspektasi normalisasi kebijakan moneter bank sentral AS yaitu Federal Reserve (The Fed), dan pelemahan bilai tukar euro akibat referendum Catalonia yang ingin merdeka dari Spanyol.

"Penguatan dolar AS terhadap mata uang utama dan mata uang Asia dipengaruhi oleh beberapa faktor," kata Josua, saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Selasa (3/10/2017).

Baca juga: Dolar AS Tembus Rp 13.500, Rupiah Dianggap 'Lampu Kuning'

Faktor lainnya, juga adanya kejadian teror penembakan di Las Vegas, lalu rencana pencalonan Gubernur The Fed untuk menggantikan Janet Yellen, yang memiliki pandangan berbeda terkait arah kebijakan moneter AS.

"Dari kombinasi beberapa faktor tersebut, kinerja dolar AS terhadap mata uang utama, dolar index, terapresiasi (menguat) ke level tertinggi dalam satu tahun, diikuti juga oleh kenaikan yield US Treasury (imbal hasil obligasi pemerintah AS) ke level 2,37%. Penguatan dolar AS ini mendorong pelemahan rupiah bersama mata uang Asia lainnya," jelas dia.

Sementara itu, Ekonom dari INDEF, Bhima Yudhistira, rencana Donald Trump untuk melakukan pemangkasan pajak meningkatkan pembelian dolar AS. Karena, Trump berencana memangkas pajak korporasi dari 35% menjadi 20%.

"Insentif fiskal Trump ini menjadi daya tarik investor global untuk menanamkan uangnya di AS," kata Bhima.

Bhima menyebutkan, rencana Trump menggairahkan para pengusaha dan investor yang ingin menanamkan modalnya di AS, khususnya di sektor industri manukfaktur.

"Jadi ketika insentif pajak di AS menarik, banyak pengusaha dan investor yang ingin menanam modal di AS khususnya di industri manufaktur. Ini memicu pembelian dolar dan dana keluar dari pasar modal Indonesia meningkat," jelas dia.

Bhima mengakui, efek kebijakan ini cepat ditanggapi para pelaku pasar lantaran kebijakan pemangkasan pajak di AS berkorelasi positif. Kejadiannya mirip dengan November 2016, di mana ketika Donald Trump terpilih menjadi Presiden AS yang membuat nilai tukar rupiah lesu, bahkan cadangan devisa terkuras US$ 3,5 miliar padahal tidak ada tanda-tanda gejolak ekonomi.

"Jadi kebijakan di AS responsnya lebih cepat dari negara lain," ungkapnya.

Tidak hanya itu, menguatnya dolar AS juga karena antisipasi perubahan neraca bank sentral di beberapa negara khususnya AS. Oktober ini The Fed akan memulai tahap pertama normalisasi neraca. Dampaknya, likuiditas yang sebelumnya banjir p***a krisis ekonomi 2008 kembali berkurang. Kebijakan The Fed membuat capital outflow meningkat tetutama di negara berkembang seperti Indonesia.

Selanjutnya, situasi politik global juga berpengaruh, yang terbaru adalah referendum Catalonia yang ingin merdeka dari Spanyol. Ketidakpastian politik di Spanyol menambah risiko global akan masa depan Uni Eropa.

"Dari sisi domestik hasil rilis inflasi masih ditanggapi beragam oleh investor. Inflasi sebesar 0,13% dengan deflasi bahan makanan 0,53% menunjukkan bahwa permintaan rumah tangga belum pulih sepenuhnya," tukas dia. (wdl/wdl)

05/09/2017

Cara Penggabungan NPWP Istri ke Suami
Hendra Kusuma - detikFinance
Cara Penggabungan NPWP Istri ke Suami
Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - Direktorat Jenderal Pajak (Ditjen Pajak) Kementerian Keuangan menjelaskan kepada masyarakat agar tetap patuh atas kewajiban pajaknya, meskipun sudah mengubah status sebagai suami istri.

Melalui akun Twitter , Jakarta, Selasa (5/9/2017). Dijelaskan tentang tata cara istri ikut atau menggabungkan data pajaknya dalam nomor pokok wajib pajak (NPWP) sang suami.

Dalam video yang berdurasi sekitar 24 detik ditunjukkan, seorang pasangan yang baru saja menikah bisa menggabungkan NPWP. Jadi NPWP istri digabungkan ke suami.

Cara yang pertama dilakukan adalah datang ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP) terdaftar secara langsung, atau bisa juga melalui perusahaan jasa antar seperti Pos, jasa ekspedisi atau jasa kurir terkait dengan NPWP, lalu isi formulir penghapusan NPWP.

Saat mengisi formulir penghapusan NPWP, jangan lupa untuk dilampirkan fotokopi buku nikah atau dokumen sejenisnya, lalu surat pernyataan tidak membuat perjanjian pemisahan harta dan penghasilan.

Ataupun surat pernyataan tidak ingin melaksanakan hak dan memenuhi kewajiban perpajakannya terpisah dari suami. Hanya dengan memenuhi persyaratan tersebut, penggabungan NPWP istri ke suami pun sudah bisa dilakukan. (wdl/wdl)

22/08/2017

Selasa 22 Aug 2017, 21:30 WIB
Turunkan Suku Bunga Acuan, BI Ingin Dongkrak Ekonomi RI
Maikel Jefriando - detikFinance
Turunkan Suku Bunga Acuan, BI Ingin Dongkrak Ekonomi RI
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta - Bank Indonesia (BI) akhirnya menurunkan suku bunga acuan BI 7-days repo rate sebesar 25 basis poin menjadi 4,5% dari sebelumnya 4,75%. Penurunan ini dilakukan setelah BI menahan suku bunga selama 9 bulan.

Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengatakan, sampai kuartal II-2017 pertumbuhan ekonomi mencapai 5,01%, atau lebih rendah dari perkiraan saat awal tahun. Maka dari itu BI menurunkan kebijakan moneter untuk memacu pertumbuhan ekonomi.

"Kami melihat ada ruang pelonggaran, sehingga bisa untuk mendorong perekonomian nasional," kata Mirza dalam konferensi pers di Gedung BI, Jakarta, Selasa (22/8/2017).

Dengan kebijakan BI, maka diharapkan bisa diikuti oleh penurunan bunga kredit perbankan. Sehingga bisa mendorong penyaluran kredit perbankan dan aktivitas ekonomi secara keseluruhan.

BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan 2017 tetap dalam kisaran 5,0-5,4% dan akan meningkat menjadi 5,1-5,5% pada tahun 2018.

Namun dia mengatakan stabilitas moneter dan makro ekonomi memiliki dua ukuran yakni inflasi dan neraca pembayaran Indonesia (NPI). "Maka BI melihat dulu bagaimana inflasi dan current account deficit (CAD)," jelasnya.

Inflasi terkendali pada level yang lebih rendah dari perkiraan semula, sehingga mendukung pencapaian sasaran inflasi sebesar 4 plus minus 1% tahun 2017 dan 3,5+1% tahun 2018. Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Juli 2017 tercatat 2,60% (ytd) atau secara tahunan mencapai 3,88% (yoy).

Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) mencatat surplus US$ 700 miliar ditopang oleh surplus transaksi modal dan keuangan sebesar US$ 5,9 miliar melebihi defisit neraca transaksi berjalan sebesar US$ 5 miliar (1,96% PDB). Defisit transaksi berjalan diperkirakan akan tetap terjaga dalam batas aman di bawah 3% PDB, yaitu di kisaran 1,5-2,0% PDB pada tahun 2017

Mirza meyakini faktor gangguan dari luar negeri, seperti kenaikan suku bunga acuan AS Federal Reserve (The Fed) sudah sedikit berkurang. Selain adanya proyeksi bekurangnya rencana The Fed, investor tampaknya sudah bisa menerima kebijakan tersebut.

"Donald Trump waktu itu memperkirakan ekonomi bisa tumbuh lebih cepat, inflasi lebih tinggi. Jadi Fed rate bisa naik, tapi ternyata lebih lambat dari awal tahun maka kenaikan Fed rate diprediksikan akan naik sekali lagi pada Desember 2017," ujar Mirza.

02/08/2017

Home / detikFinance / Detail
Rabu 02 Aug 2017, 12:25 WIB
Pro dan Kontra Ekonomi RI

Jakarta - Ekonomi lesu atau tidak akhirnya jadi perbincangan. Ini tak lepas dari kondisi yang dianggap anomali, ketika data makroekonomi menunjukkan pertumbuhan yang cukup tinggi, akan tetapi kondisi di lapangan berbeda.

detikFinance, Rabu (2/8/2017) merangkum data-data yang menunjukkan ekonomi lesu atau tidak.

Pro

Di awali dengan data dari Asosiasi Semen Indonesia (ASI), yang mencatat konsumsi semen nasional hingga semester I-2017 mencapai sekitar 29 juta ton atau turun 1,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Konsumsi semen salah satu indikator kuat pembangunan berjalan baik atau tidak

Selanjutnya data Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo). Ketua Umum Aprindo, Tutum Rahanta, menyatakan industri ritel melemah. Tingkat pelemahan berbeda-beda tergantung produk, paling signifikan adalah pakaian dengan penurunan 15% pada lebaran 2017 dibandingkan tahun sebelumnya.

Sektor properti melambat berdasarkan data Rumah.com. Volume suplai properti mengalami penurunan signifikan di kuartal II-2017, yakni sebesar 9,6%. Capaian tersebut berbanding terbalik jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang mencatatkan kenaikkan sebesar 11,4%.

Data lainnya dari Lembaga konsultan properti asal Australia, Savills. Risetnya menunjukkan tingkat kekosongan (vacancy) pasar perkantoran di area CBD, Jakarta mencapai 18,4% atau naik 2,7% dibanding semester sebelumnya.

Direktur Pemasaran PT Indomarco Pristama (Indomaret), Wiwiek Yusufjuga mengungkapkan kondisi daya beli nasional sedang lesu. Terbukti dengan laba PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET) pada semester I-2017 hanya mampu meraup laba bersih Rp 30,5 miliar atau turun drastis 71,03% dari laba bersih di periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 105,5 miliar.

PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) juga ternyata bernasib hampir serupa. Sepanjang semester I-2017 perseroan hanya mampu mengantongi laba bersih sebesar Rp 75,5 miliar. Angka itu turun 16,38% dibanding laba bersih pada periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 90,37 miliar.

"Ekonomi tetap tumbuh tapi tidak diikuti oleh kegiatan usaha yang harusnya bisa tumbuh lebih cepat, bukan bagian dari perlambatan," kata Ekonom Samuel Aset Manajemen, Lana Soelistianingsih, menyampaikan analisanya kepada detikFinance.

Kontra

Meski berbagai data, khususnya dari sektor rill menunjukkan pelemahan, akan tetapi pemerintah bersikukuh ekonomi masih tumbuh baik. Acuan sederhana dari indikator makro ekonomi, pertumbuhan di atas 5%, inflasi 3,88% (year on year/yoy), dan nilai tukar stabil Rp 13.300/US$.

"Secara umum sektor keuangan dalam posisi normal. Kita melakukan report dari keseluruhan sektor keuangan, dari sisi makroprudensial, dari sisi fiskal, dan bagaimana interaksi mereka. Jadi hal yang sifatnya positif adalah ekonomi tetap berjalan baik, kondisi sektor keuangan dalam posisi normal stabil. Namun kita tetap waspada terhadap faktor dari luar maupun dari dalam," kata Sri Mulyani mewakili Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).

KSSK beranggotakan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan dihadiri oleh Sri Mulyani, Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo, Ketua LPS Halim Alamsyah, dan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso dan jajarannya.

Sri Mulyani mengakui adanya perlambatan dari beberapa sektor, tapi tentunya tidak bisa dipakai dalam kesimp**an ekonomi secara keseluruhan.

"Indikasi yang harus kita teliti lagi dari sektor keuangan adalah pertumbuhan kredit, dari sisi sektor riil adalah denyut atau komposisi dari kegiatan ekonomi apakah itu dari retail yang barangkali lebih membuat headline tapi juga sektor lain seperti pertambangan dan kemudian sektor seperti ekspor. Kita juga perlu lihat daya beli masyarakat walau dalam hal ini inflasinya cukup rendah kalau dibandingkan lebaran tahun lalu," terang Sri Mulyani.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Yunita Rusanti, mengatakan sepinya pergerakan ekonomi di sektor ritel dikarenakan adanya perubahan pola berbelanja yang dilakukan masyarakat. Bukanlah karena ekonomi lesu.

"Menurut saya Jakarta di beberapa mal agak turun karena ada online. Orang beli online. Bisa jadi sekarang sedang pembangunan infrastruktur, macet di mana-mana, orang cenderung malas ke luar jadi pada beli online," kata Yunita.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, Suahazil Nazara, melengkapi dengan data realisasi Pajak Pertambahan Nilai (PPN) hingga semester I-2017, yang tumbuh 13,5%. Tingkat perolehan PPN merupakan cermin tingkat transaksi yang terjadi di masyarakat. Artinya, semakin tinggi perolehan PPN, semakin tinggi p**a transaksi belanja yang terjadi di masyarakat.

"PPN Semester I dibanding 2016 (yoy) naik 13,5%. Artinya transaksi naik enggak tuh? Naik. Kalau enggak ada transaksi enggak naik PPN," terang Suahasil.

Ekonom PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede, menilai ada penurunan konsumsi. Akan tetapi bukan karena daya beli lemah, namun masyarakat yang lebih memilih untuk menabung. Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan tumbuh 11,18%, lebih tinggi jika dibandingkan periode yang sama di tahun lalu yang hanya sebesar 9,87%.

"Porsi pendapatan yang digunakan untuk konsumsi juga menunjukkan tren menurun sejak Desember 2016 hingga Juni 2017, sementara itu porsi pendapatan yang digunakan untuk tabungan cenderung meningkat," kata Josua.

Menunggu Laporan BPS

Sementara itu Menko Perekonomian, Darmin Nasution, masih dalam kondisi bingung. Menurutnya, ritel tak bisa jadi rujukan kondisi daya beli masyarakat secara umum, meskipun Ia tidak menapik adanya pelemahan sektor tersebut.

Bila disebutkan beralih ke transaksi online, Darmin juga belum mendapatkan data yang lengkap. Sehingga tidak begitu saja bisa mengambil kesimp**an. Ia lebih memilih menunggu laporan BPS awal pekan nanti.

"Apakah belanja turun atau pertumbuhannya turun apa enggak? Jangan buru-buru menyimpulkan, tunggu datanya selesai," kata Darmin. (mkj/dnl)

Rumah.com adalah Situs Pencarian Properti Terkemuka di Indonesia. Temukan Rumah, Rumah Baru, Ruko, Tanah, Pabrik, Apartemen, Properti Komersial Lainnya di Sini Secara Lengkap

Address

Situ Aksan
Bandung

Telephone

+62 813 2020 7109

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Finanza Contabilita Consulenza Consulting posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share