Aneuk Nanggroe

Aneuk Nanggroe memberi pengalaman yang terkadang terlupakan

14/11/2021

*KISAH RASULULLAH ﷺ*

Bagian 1.0

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد

*Kelahiran Nabi Muhammad ﷺ*

Pada hari Senin pagi tanggal 12 Rabiul Awwal pada tahun yang sama dengan penyerbuan Abrahah (tahun gajah), Aminah melahirkan seorang bayi laki-laki. Saat itu bertepatan dengan bulan Agustus tahun 570 Masehi. (Sebagian pendapat mengatakan bahwa Aminah melahirkan pada tanggal 20 atau 21 April tahun 571 Masehi).

Aminah mengutus seseorang sambil berkata, "Pergilah kepada Abdul Muthalib dan katakan, 'Sesungguhnya telah lahir bayi untukmu. Oleh karena itu, datang dan lihatlah '."

Abdul Muthalib bergegas datang. Ketika mengambil bayi itu dari pelukan Aminah, dadanya bergemuruh dipenuhi rasa sayang.

"Kehadiranmu mengingatkan aku kepada ayahmu. Sungguh, di hatiku kini dirimu hadir sebagai pengganti Abdullah."

Dengan penuh rasa syukur, orangtua itu menggendong cucunya berthawaf, mengelilingi Ka'bah. Kali ini tidak kepada berhala, tetapi kepada Allah. Abdul Muthalib berdoa dan bersyukur.

"Aku memberimu nama Muhammad," kata Abdul Muthalib.

*Muhammad* berarti *terpuji*, sebuah nama yang tidak umum di kalangan masyarakat Arab, tetapi cukup dikenal.

Kemudian, ia memerintahkan orang untuk menyembelih unta dan mengundang makan masyarakat Quraisy.

"Siapa nama putra Abdullah, cucumu itu?" tanya seseorang kepada Abdul Muthalib.

"Muhammad."

"Mengapa tidak engkau beri nama dengan nama nenek moyang kita?"

"Kuinginkan ia menjadi orang yang terpuji, bagi Tuhan di langit dan bagi makhluk-Nya di bumi," jawab Abdul Muthalib.

*Cahaya Aminah*

Ketika Aminah mengandung Nabi Muhammad, ia melihat seberkas sinar keluar dari perutnya dan dengan sinar tersebut ia melihat istana-istana Busra di Syam.

Saat itu di kalangan bangsawan Arab sudah berlaku tradisi yang baik, yakni mereka mencari wanita-wanita desa yang bisa menyusui anak-anaknya.

Anak-anak disusukan di pedalaman agar terhindar dari penyakit, memiliki tubuh yang kuat dan agar dapat belajar bahasa Arab yang murni di daerah pedesaan.

Tidak lama kemudian ke Mekah datanglah serombongan wanita dari kabilah bani Sa'ad mencari bayi untuk disusui. Di antara mereka ada seorang ibu bernama Halimah binti Abu Dzu'aib.

"Suamiku," Panggil Halimah "tahun ini sungguh tahun kering tak ada tersisa sedikit pun hasil panen di kampung halaman kita. Lihat unta tua kita tidak lagi menghasilkan susu sehingga anak-anak menangis pada malam hari karena lapar."

"Semoga kita mendapat bayi seorang bangsawan kaya yang dapat memberi kita upah yang layak untuk menanggulangi kesengsaraan ini," jawab sang suami.

Namun harapan mereka tak terkabul, hampir semua bayi bangsawan kaya telah diambil oleh teman-teman serombongan mereka. Hanya ada satu bayi dalam gendongan ibunya yang mereka temui.

"Namanya Muhammad" kata Aminah kepada pasangan tersebut "ia anak yatim tinggal aku dan kakeknya yang merawatnya." Halimah dan suaminya, Al-Harits bin Abdul Uzza saling berpandangan.

Mereka enggan menerima anak yatim karena tidak ada Ayah yang dapat memberi mereka upah yang layak. Pasangan tersebut menggeleng dan pergi mencari bayi lain, Aminah memandangi bayi dalam dekapannya dengan sendu. Setiap wanita Bani Saad yang mendapat tawaran untuk menyusui Muhammad, selalu menolaknya karena anak yatim.

*Tsuwaibah*

Sebelum kedatangan para wanita Bani sa'ad, Muhammad disusui Tsuwaibah budak perempuan Abu Lahab.
Hanya beberapa hari Muhammad disusui oleh Tsuwaibah.

Akan tetapi, di kemudian hari, di sepanjang hidupnya Muhammad selalu memperlakukan Tsuwaibah dengan baik.

Bersambung

26/06/2021

📚🖋﷽

Saat berkunjung seorang teman bertanya, “Berapa gaji mu sebulan kerja di tempat itu?"

Ia menjawab, "1.300.000 ".

"Hah... Hanya 1.300.000 ? Sedikit sekali ia menghargai keringat mu.
Apa cukup untuk memenuhi keperluan hidup mu? Kenapa engkau tidak meminta kenaikan gaji ?"

Sejak saat itu ia pun merasa benci dengan tempat kerjaannya, lalu ke esokan harinya ia meminta kenaikan gaji pada pemilik tempat kerja, pemilik itu menolak dan akhirnya ia di pecat.
Kini akhirnya ia tidak ada sumber pendapatan dan menganggur.
__

Saat arisan seorang ibu bertanya,
"Rumah mu ini apa tidak terlalu sempit? bukankah anak-anak mu banyak?
Kenapa engkau tidak mencoba kredit rumah baru ?"

Sejak saat itu rumah yg tadinya terasa lapang dan menyenangkan mulai ia rasakan sempit. Dan ketenangan pun semakin hilang saat keluarga ini mulai sering stres terlilit hutang, dan karena ia tidak sanggup membayar cicilan, akhirnya rumahnya pun di sita oleh bank.
__

Saat menjenguk seorang saudara laki-laki bertanya kepada adik perempuannya yg baru saja melahirkan,
"Hadiah apa yang diberikan suami mu setelah engkau melahirkan?"

"Tidak ada", Jawab adiknya pendek.

Saudara laki-lakinya berkata lagi, "serius, apa engkau tidak berharga disisi suami mu?
Aku saja sering memberi hadiah istriku walau pun bukan di hari-hari istimewanya".

Siang itu, ketika suaminya lelah pulang dari bekerja meja makan pun kosong, dan ia mendapati istrinya murung di dalam kamar, keduanya lalu terlibat pertengkaran.
Sebulan kemudian, suami-istri ini akhirnya bercerai karena si istri berpikir suaminya tidak mampu membahagiakannya.
__

Saat bermain kerumah seorang tetangga bertanya pada nenek tua,
"Berapa kali anak mu mengunjungi mu dalam sebulan?"

"Sebulan sekali". Jawab sang nenek.

Sang tetangga pun menimpali
"Wah keterlaluan sekali anak mu itu.
Di usia senja seperti mu ini seharusnya ia mengunjungi mu lebih sering, kenapa engkau tidak memintanya setiap seminggu ? ".

Hati si nenek itu pun menjadi sedih, padahal tadinya ia amat rela jika hanya dikunjungi sebulan sekali oleh anaknya, sebab anaknya sibuk bekerja di luar kota, kini sang nenek jadi sering menangis dan tertekan, hingga akhirnya sakit, anaknya pun terpaksa kini harus pulang pergi ke tempat kerja meski jauh, dan karena sering telat, akhirnya ia di pecat.
...

Sejujurnya, apa sebenarnya keuntungan yang diperoleh ketika kita bertanya seperti pertanyaan-pertanyaan di atas itu?

Jagalah ucapan kita saat bertemu atau berkunjung kepada seseorang, dan jangan mencampuri kehidupan orang lain.
Jangan mengecilkan dunia mereka.
Jangan menjadi provokasi, sehingga menanamkan rasa tak rela pada yang mereka miliki.

Maka masuklah ke rumah orang lain dalam keadaan buta dan Keluarlah dari rumah orang lain dalam keadaan bisu.
Apa yg kamu lihat dan dengar di dalam rumah mereka BUKANLAH URUSAN MU !!

Sebab bila ada bom pertengkaran yg meledak, Bisa jadi, kitalah sebenarnya yg menyalakan sumbunya.

_____________

✍ Habibie Quotes, 10 Maret 2017

Sumber: diterjemahkan ulang dari akun Mohammed Osman dlm bentuk bhs arab.

01/05/2021

Bayangkan bila kisah ini terjadi kepada diri anak-anak kita

Bocah Lelaki di Tepi Kubur “Assalamualaikum, Bu,” ucapnya pelan. Nada merendah karenanya. “Maaf ... Adam baru sempat jenguk, Ibu,” lirihnya. Napasnya tersengal, tangis pun akhirnya pecah! “Ibu apa kabar? Adam ada kabar gembira buat, Ibu.” Setengah tawa bercampur tangis. Mata yang sayu mulai berembun. Semua karenanya.

Lelaki kecil bernama Adam, tersendu pilu memeluk kedua lututnya. “Maaf ...,” lirihnya tertahan. Air matanya kian berlinang. “Aaa ... Adam ... Adam.” Sesak! Dadanya kian bergemuruh. “Adam puasanya lancar, Bu. Hiks ... hiks.”

Adam, anak yang malang. “Semua teman Adam di kasih hadiah, Bu,” lirihnya, seiring dengan tangan mengusap wajahnya. “Adam istimewa ya, Bu? Kata Nenek, Adam spesial di mata Allah.” Ia curahkan semua kepada ibunya. Entah dengan sang ibu. Apakah ia mendengarnya?

“Adam sudah berubah, Bu. Tidak lagi ngerepotin Nenek. Nenek bilang baju Adam masih bagus semua. Makanya Adam nggak beli.” Tersenyum getir. Padahal, hatinya bergetar. “Kalo Ibu gimana? Apakah Allah memberikan baju baru? Kalau iya, Adam mau menyusul Ibu.” Tak ada tisu untuk mengusap. Yang ada, hanya tangan kumal yang setia menghapus air matanya.

Adam berbalik. Menghadap nisan di sebelahnya. “Assalamualaikum, Ayah.” Ia bersihkan rerumputan yang mulai tumbuh di nisan ayahnya. “Maafkan Adam, Yah. Adam belum bisa menjalankan amanat yang Ayah berikan. Adam masih saja cengeng, terus mengeluh. Padahal, Ayah melarang itu semua.” Hanya bisa menangis! Untuk berhenti pun ia tak mampu.

“Adam rindu, Yah. Rindu bermain sama Ayah. Kapan bisa diulang? Adam tidak pengen sepeda beroda ... yang Adam mau hanya pundak Ayah yang bisa membuat Adam tertawa.” Rintik hujan mulai terasa. Awan hitam mulai terlihat. “Adam pulang dulu, ya. Minal Aidin Wal Faidzin. Adam sayang Ayah dan Ibu.” Setelahnya, lelaki itu pulang dengan sejuta kerinduan.

Tak ada kata yang mewakili rasa selain do'a. Semoga ayah ibu, bahagia di surganya. "Jika kamu masih memiliki sayap yang utuh. Jaga, dan sayangi mereka sebelum terlambat.

Catatan :
Lihatlah disekitar rumah kita, adakah anak-anak yatim bila ada bersegeralah santuni anak-anak yatim piatu tersebut jadikanlah diri anda sebagai orang tua pengganti.

26/01/2021

Sering kita mendengarkan syair atau pujangga dari aceh tentang got got panyang iku geulungku panyang mata, dst.
Ternyata makna dari syair tersebut sangat lah bermakna. Untuk lebih lanjut mari nonton sampai habis.

31/12/2020

Barangsiapa mebgikuti suatu kaum maka dia termasuk bagian kaum tersebut

Address

Jalan Iskandar Muda
Banda
23243

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Aneuk Nanggroe posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share