18/11/2014
Bagaimana hukumnya tahlil?
Mengapa hukumnya tahlil ditanyakan? Bukankah tahlil itu
sighat masdar dari madzi hallala yg artinya baca Laa Ilaaha
Illa Allah.
Bukan.... Yang saya maksud adalah tahlil menurut istilah yg
berlaku di kampung2 itu.
Tahlil menurut istilah yg berlaku di kampung2, kota2
bahkan seluruh penjuru adalah berisi bacaan Laa Ilaaha
Illa Allah,Subhaana Allah wa bi Hamdihi, Astaghfirullah al
Adzim, sholawat, ayat-ayat al Quran, fatihah,
Muawwidzatain dan sebagainya apakah juga masih
ditanyakan hukumnya?
Tetapi apakah ada aturan berdzikir secara jamaah
sebagaimana dilakukan jamaah NU?
ﻭﺍﺻﺒﺮ ﻧﻔﺴﻚ ﻣﻊ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻳﺪﻋﻮﻥ ﺭﺑﻬﻢ ﺑﺎﻟﻐﺪﺍﺓ ﻭﺍﻟﻌﺸﻲ ﻳﺮﻳﺪﻭﻥ
ﻭﺟﻬﻪ ﻭﻻ ﺗﻌﺪ ﻋﻴﻨﺎﻙ ﻋﻨﻬﻢ
Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang
yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan
mengharap keridlaan NYA; dan janganlah kedua matamu
berpaling dari mereka…
Di samping ayat disebutkan diatas, diantara ayat yg biasa
anda dan kyai NU pahami sebagai anjuran dzikir
berjama’ah adalah
{ ﺍﻟﺬﻳﻦ { ﻧﻌﺖ ﻟﻤﺎ ﻗﺒﻠﻪ ﺃﻭ ﺑﺪﻝ } ﻳﺬﻛﺮﻭﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻗﻴﺎﻣﺎ ﻭﻗﻌﻮﺩﺍ
ﻭﻋﻠﻰ ﺟﻨﻮﺑﻬﻢ { ﻣﻀﻄﺠﻌﻴﻦ ﺃﻱ ﻓﻲ ﻛﻞ ﺣﺎﻝ، ﻭﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ
ﻳﺼﻠﻮﻥ ﻛﺬﻟﻚ ﺣﺴﺐ ﺍﻟﻄﺎﻗﺔ } ﻭﻳﺘﻔﻜﺮﻭﻥ ﻓﻲ ﺧﻠﻖ ﺍﻟﺴﻤﺎﻭﺍﺕ
ﻭﺍﻷﺭﺽ { ﻟﻴﺴﺘﺪﻟﻮﺍ ﺑﻪ ﻋﻠﻰ ﻗﺪﺭﺓ ﺻﺎﻧﻌﻬﻤﺎ ﻳﻘﻮﻟﻮﻥ } ﺭﺑﻨﺎ ﻣﺎ
ﺧﻠﻘﺖ ﻫﺬﺍ { ﺍﻟﺨﻠﻖ ﺍﻟﺬﻱ ﻧﺮﺍﻩ } ﺑﺎﻃﻼ { ﺣﺎﻝ، ﻋﺒﺜﺎ ﺑﻞ ﺩﻟﻴﻼ ﻋﻠﻰ
ﻛﻤﺎﻝ ﻗﺪﺭﺗﻚ } ﺳﺒﺤﺎﻧﻚ { ﺗﻨﺰﻳﻬﺎ ﻟﻚ ﻋﻦ ﺍﻟﻌﺒﺚ } ﻓﻘﻨﺎ ﻋﺬﺍﺏ
ﺍﻟﻨﺎﺭ } .
“(Yaitu) orang2 yg mengingat Allah sambil berdiri atau
duduk atau dalam keadaan berbaring & mereka
memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya
berkata), “Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini
dengan sia-sia Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami
dari siksa neraka.” (QS. 3:191)
Ayat di atas, dianggap sebagai dalil yg membolehkan dzikir
berjamaah karena menggunakan sighat (konteks)
jama’ (plural) yaitu yadzkuruna. Menurut kyai NU jama’
berarti banyak dan banyak artinya bersama-sama.
Pengambilan dalil semacam ini menurut saya adalah tidak
benar, karena tidak setiap kalimat yang disampaikan dalam
bentuk jama’ harus dipahami bahwa itu dilakukan dengan
bersama-sama.
Selain itu jika sighat (konteks) jama’ dalam ayat tersebut
dipahami sebagai anjuran untuk melakukan dzikir secara
berjama’ah atau bersama2 maka kita akan kebingungan
dalam memahami kelanjutan ayat tersebut. Disebutkan
bahwa dzikir itu dilakukan dengan cara berdiri (qiyaman),
duduk (qu’udan) dan berbaring (’ala junubihim). Nah
bagaimanakah praktek dzikir bersama-sama dengan cara
berdiri, duduk dan berbaring itu? Apakah ada dzikir
berjama’ah dengan cara seperti ini? Permasalahan lainnya
adalah bahwa ayat ini turun kepada Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam dan para shahabat berada di samping
beliau. Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan
para shahabat memahami ayat tersebut sebagai perintah
untuk dzikir bersama-sama satu suara?
Kalau anda menyatakan bahwa lafadz jama’ itu tidak selalu
bersama-sama, maka bisakah anda menunjukkan bahwa
lafadz jama’ itu tidak mungkin dimaknakan bersama?
Bagaimanakah dengan kisah para sahabat yang berdoa
bersama Rasul saw dengan melantunkan syair (Qasidah/
Nasyidah) di saat menggali khandaq (parit) Rasul saw dan
sahabat2 radhiyallhu ‘anhum bersenandung bersama
sama dengan ucapan:
“HAAMIIIM LAA YUNSHARUUN..” (lihat Kitab Sirah Ibn
Hisyam Bab Ghazwat Khandaq).
Perlu anda ketahui bahwa sirah Ibn Hisyam adalah buku
sejarah yg pertama ada dari seluruh buku sejarah, yaitu
buku sejarah tertua. Karena ia adalah Tabi’in. Sehingga
akurasi sumber datanya lebih valid. Begitu juga pada
waktu para sahabat membangun saat membangun
Masjidirrasul : mereka bersemangat sambil bersenandung:
“Laa ‘Iesy illa ‘Iesyul akhirah, Allahummarham Al Anshar
wal Muhaajirah”
Setelah mendengar ini maka Rasul saw pun segera
mengikuti ucapan mereka seraya bersenandung dengan
semangat:
“Laa ‘Iesy illa ‘Iesyul akhirah, Allahummarham Al Anshar
wal Muhajirah …” (Sirah Ibn Hisyam Bab Hijraturrasul saw-
bina’ masjidissyarif hal 116)
Ucapan ini pun merupakan doa Rasul demikian
diriwayatkan dalam shahihain. Mengenai makna berdiri
(qiyaman), duduk (qu’udan) dan berbaring (’ala
junubihim). Tidakkah anda pernah shalat berjamaah?
Bukankah shalat juga melafalkan dzikir? Bukankah shalat
itu bisa berdiri, duduk dan tidur miring? Menafsiri ayat
tersebut diatas Ibn Katsir mengutip hadits Nabi riwayat
Bukhari:
ﻋﻦ ﻋﻤﺮﺍﻥ ﺑﻦ ﺣﺼﻴﻦ، ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ، ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ
ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ“ :ﺻﻞ ﻗﺎﺋﻤﺎ، ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﺗﺴﺘﻄﻊ ﻓﻘﺎﻋﺪﺍ، ﻓﺈﻥ
ﻟﻢ ﺗﺴﺘﻄﻊ ﻓﻌﻠﻰ ﺟﻨﺒﻚ ﺃﻱ: ﻻ ﻳﻘﻄﻌﻮﻥ ﺫﻛﺮﻩ ﻓﻲ ﺟﻤﻴﻊ
ﺃﺣﻮﺍﻟﻬﻢ ﺑﺴﺮﺍﺋﺮﻫﻢ ﻭﺿﻤﺎﺋﺮﻫﻢ ﻭﺃﻟﺴﻨﺘﻬﻢ
Jadi ayat tersebut di atas lebih dititikberatkan kepada
bagaimana tata cara orang shalat, namun secara umum
dapat juga diartikan dzikir secara laf-dziy. Seseorang dapat
berdzikir kepada Allah dengan segala tingkah sesuai
kemampuannya. Kalau anda memaknakan bahwa dzikir
berjamaah dengan tidur semua, duduk semua atau berdiri
semua, manakah point yang menunjukkan itu? Bagaimana
kalau dimaknakan bila dzikir itu dibaca berjamaah, kita
dapat berdiri, duduk dan tiduran sesuai dengan kondisi
kita? Berdiri karena tidak lagi kebagian tempat, tiduran
karena kondisi tubuhnya tidak memungkinkan.
Sahabat Rasul radhiyallahu’anhum mengadakan shalat
tarawih berjamaah, dan Rasul saw justru malah
menghindarinya, mestinya andapun shalat tarawih sendiri
sendiri, kalau toh Rasul saw melakukannya lalu
menghindarinya, lalu mengapa Generasi Pertama yg
terang benderang dg keluhuran ini justru mengadakannya
dengan berjamaah. Sebab mereka merasakan ada
kelebihan dalam berjamaah, yaitu syiar, mereka masih
butuh syiar dibesarkan, apalagi kita dimasa ini.
Kalau anda tidak mau memaknakan kalimat jama’ dengan
arti bersama-sama, dari makna apa anda shalat tarawih
berjamaah? Berdasar hadits dan ayat al Quran yang mana?
Kita Ahlussunnah waljama’ah berdoa, berdzikir, dengan
sirran wa jahran, di dalam hati, dalam kesendirian, dan
bersama sama. Sebagaimana Hadist Qudsiy Allah swt
berfirman :
ﺇﻥ ﺫﻛﺮﻧﻲ ﻓﻲ ﻧﻔﺴﻪ ﺫﻛﺮﺗﻪ ﻓﻲ ﻧﻔﺴﻲ ﻭﺇﻥ ﺫﻛﺮﻧﻲ ﻓﻲ ﻣﻠﺈ
ﺫﻛﺮﺗﻪ ﻓﻲ ﻣﻠﺈ ﻫﻢ ﺧﻴﺮ ﻣﻨﻬﻢ
Bila ia (hambaKu) menyebut namaKu dalam dirinya, maka
Aku mengingatnya dalam diriku, bila mereka menyebut
namaKu dalam kelompok besar, maka Akupun menyebut
(membanggakan) nama mereka dalam kelompok yg lebih
besar dan lebih mulia”. (HR Muslim).
Kita di majelis menjaharkan lafadz doa dan munajat untuk
menyaingi panggung-panggung maksiat yg setiap malam
menggelegar dengan dahsyatnya menghancurkan telinga,
berpuluh ribu pemuda dan remaja MEMUJA manusia
manusia pendosa dan mengelu elukan nama mereka..
menangis menjilati sepatu dan air seni mereka.., suara
suara itu menggema p**a di televisi di rumah rumah
muslimin, di mobil2, dan hampir di semua tempat,
Salahkah bila ada sekelompok pemuda mengelu-elukan
nama Allah Yang Maha Tunggal? Menggemakan nama
Allah? Apakah Nama Allah sudah tak boleh
dikumandangkan lagi dimuka bumi? Mewakili banyak
hadits tentang dzikir berjamaah ini, perhatikan dan
camkanlah hadits ini:
ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺇﻥ ﻟﻠﻪ ﻣﻠﺎﺋﻜﺔ ﻳﻄﻮﻓﻮﻥ
ﻓﻲ ﺍﻟﻄﺮﻕ ﻳﻠﺘﻤﺴﻮﻥ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺬﻛﺮ ﻓﺈﺫﺍ ﻭﺟﺪﻭﺍ ﻗﻮﻣﺎ ﻳﺬﻛﺮﻭﻥ
ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻨﺎﺩﻭﺍ ﻫﻠﻤﻮﺍ ﺇﻟﻰ ﺣﺎﺟﺘﻜﻢ ﻗﺎﻝ ﻓﻴﺤﻔﻮﻧﻬﻢ ﺑﺄﺟﻨﺤﺘﻬﻢ ﺇﻟﻰ
ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻗﺎﻝ ﻓﻴﺴﺄﻟﻬﻢ ﺭﺑﻬﻢ ﻭﻫﻮ ﺃﻋﻠﻢ ﻣﻨﻬﻢ ﻣﺎ ﻳﻘﻮﻝ
ﻋﺒﺎﺩﻱ ﻗﺎﻟﻮﺍ ﻳﻘﻮﻟﻮﻥ ﻳﺴﺒﺤﻮﻧﻚ ﻭﻳﻜﺒﺮﻭﻧﻚ ﻭﻳﺤﻤﺪﻭﻧﻚ
ﻭﻳﻤﺠﺪﻭﻧﻚ ﻗﺎﻝ ﻓﻴﻘﻮﻝ ﻫﻞ ﺭﺃﻭﻧﻲ ﻗﺎﻝ ﻓﻴﻘﻮﻟﻮﻥ ﻟﺎ ﻭﺍﻟﻠﻪ ﻣﺎ
ﺭﺃﻭﻙ ﻗﺎﻝ ﻓﻴﻘﻮﻝ ﻭﻛﻴﻒ ﻟﻮ ﺭﺃﻭﻧﻲ ﻗﺎﻝ ﻳﻘﻮﻟﻮﻥ ﻟﻮ ﺭﺃﻭﻙ ﻛﺎﻧﻮﺍ
ﺃﺷﺪ ﻟﻚ ﻋﺒﺎﺩﺓ ﻭﺃﺷﺪ ﻟﻚ ﺗﻤﺠﻴﺪﺍ ﻭﺗﺤﻤﻴﺪﺍ ﻭﺃﻛﺜﺮ ﻟﻚ ﺗﺴﺒﻴﺤﺎ
ﻗﺎﻝ ﻳﻘﻮﻝ ﻓﻤﺎ ﻳﺴﺄﻟﻮﻧﻲ ﻗﺎﻝ ﻳﺴﺄﻟﻮﻧﻚ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻗﺎﻝ ﻳﻘﻮﻝ ﻭﻫﻞ
ﺭﺃﻭﻫﺎ ﻗﺎﻝ ﻳﻘﻮﻟﻮﻥ ﻟﺎ ﻭﺍﻟﻠﻪ ﻳﺎ ﺭﺏ ﻣﺎ ﺭﺃﻭﻫﺎ ﻗﺎﻝ ﻳﻘﻮﻝ ﻓﻜﻴﻒ
ﻟﻮ ﺃﻧﻬﻢ ﺭﺃﻭﻫﺎ ﻗﺎﻝ ﻳﻘﻮﻟﻮﻥ ﻟﻮ ﺃﻧﻬﻢ ﺭﺃﻭﻫﺎ ﻛﺎﻧﻮﺍ ﺃﺷﺪ ﻋﻠﻴﻬﺎ
ﺣﺮﺻﺎ ﻭﺃﺷﺪ ﻟﻬﺎ ﻃﻠﺒﺎ ﻭﺃﻋﻈﻢ ﻓﻴﻬﺎ ﺭﻏﺒﺔ ﻗﺎﻝ ﻓﻤﻢ ﻳﺘﻌﻮﺫﻭﻥ
ﻗﺎﻝ ﻳﻘﻮﻟﻮﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺎﺭ ﻗﺎﻝ ﻳﻘﻮﻝ ﻭﻫﻞ ﺭﺃﻭﻫﺎ ﻗﺎﻝ ﻳﻘﻮﻟﻮﻥ ﻟﺎ
ﻭﺍﻟﻠﻪ ﻳﺎ ﺭﺏ ﻣﺎ ﺭﺃﻭﻫﺎ ﻗﺎﻝ ﻳﻘﻮﻝ ﻓﻜﻴﻒ ﻟﻮ ﺭﺃﻭﻫﺎ ﻗﺎﻝ ﻳﻘﻮﻟﻮﻥ
ﻟﻮ ﺭﺃﻭﻫﺎ ﻛﺎﻧﻮﺍ ﺃﺷﺪ ﻣﻨﻬﺎ ﻓﺮﺍﺭﺍ ﻭﺃﺷﺪ ﻟﻬﺎ ﻣﺨﺎﻓﺔ ﻗﺎﻝ ﻓﻴﻘﻮﻝ
ﻓﺄﺷﻬﺪﻛﻢ ﺃﻧﻲ ﻗﺪ ﻏﻔﺮﺕ ﻟﻬﻢ ﻗﺎﻝ ﻳﻘﻮﻝ ﻣﻠﻚ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﻠﺎﺋﻜﺔ
ﻓﻴﻬﻢ ﻓﻠﺎﻥ ﻟﻴﺲ ﻣﻨﻬﻢ ﺇﻧﻤﺎ ﺟﺎﺀ ﻟﺤﺎﺟﺔ ﻗﺎﻝ ﻫﻢ ﺍﻟﺠﻠﺴﺎﺀ ﻟﺎ
ﻳﺸﻘﻰ ﺑﻬﻢ ﺟﻠﻴﺴﻬﻢ ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻯ
Sabda Rasulullah saw: “Sungguh Allah memiliki malaikat yg
beredar dimuka bumi mengikuti dan menghadiri majelis
majelis dzikir, bila mereka menemukannya maka mereka
berkumpul dan berdesakan hingga memenuhi antara
hadirin hingga langit dunia, bila majelis selesai maka para
malaikat itu berpencar dan kembali ke langit, dan Allah
bertanya pada mereka dan Allah Maha Tahu : “darimana
kalian?” mereka menjawab : kami datang dari hamba
hamba Mu, mereka berdoa padamu, bertasbih padaMu,
bertahlil padaMu, bertahmid pada Mu, bertakbir pada Mu,
dan meminta kepada Mu,
Maka Allah bertanya: “Apa yg mereka minta”, Malaikat
berkata: mereka meminta sorga, Allah berkata: apakah
mereka telah melihat sorgaku? Malaikat menjawab: tidak,
Allah berkata: “Bagaimana bila mereka melihatnya”.
Malaikat berkata: mereka meminta perlindungan Mu, Allah
berkata: “mereka meminta perlindungan dari apa?”
Malaikat berkata: “dari Api neraka”, Allah berkata: “apakah
mereka telah melihat nerakaku?” Malaikat menjawab tidak,
Allah berkata: Bagaimana kalau mereka melihat neraka Ku.
Malaikat berkata: mereka beristighfar pada Mu, Allah
berkata: “sudah kuampuni mereka, sudah kuberi
permintaan mereka, dan sudah kulindungi mereka dari
apa apa yg mereka minta perlindungan darinya, malaikat
berkata: “wahai Allah, diantara mereka ada si fulan hamba
pendosa, ia hanya lewat lalu ikut duduk bersama mereka,
Allah berkata: baginya pengampunanku, dan mereka (ahlu
dzikir) adalah kaum yg tidak ada yg dihinakan siapa siapa
yg duduk bersama mereka