09/05/2024
*Memahami Keutamaan Bulan Dzulqo'dah*
📆 Kamis, 30 Syawal 1445 H/ 09 Mei 2024
📚 *Khutbah Jum'at*
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الْمَلِكِ الْقَهَّار، مُكَوِّرِ الَّليْلَ عَلَى النَّهَار، وَجَعَلَهُمَا مَوَاقِيْتَ لِلْأَعْمَال، وَمَقَادِيْرَ لِلْأَعْمَار
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَه، تُبَوِّئُ قَائِلَهَا دَارَ الْقَرَار، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه، خَيْرَ الَّذِيْ أَعْطَى عَطَاءَ مَنْ لَا يَخْشَى الْإقْتَار.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ الْأَطْهَار، وَأَصْحَابِهِ الْأَخْيَار، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ مَا تَعَاقَبَ الَّليْلُ وَالنَّهَار.
أَمَّا بَعدُ؛
فَيَا عِبَادَ الله، أُوصِيكُم وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَد فَازَ المُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: أعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: «يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ»
Jamaah sidang Jumat rahimakumullah.
Dalam sepekan ke depan, Insya Allah kita segera memasuki bulan Dzulqa’dah. Sebagian besar umat Islam pasti sangat mengenal bulan-bulan, seperti Ramadhan, Rajab, Syawal, Dzulhijjah, serta Muharram. Namun, mungkin ada sebagian yang tidak begitu mengenal bulan Dzulqa’dah. Padahal, bulan yang diapit oleh bulan Syawal dan bulan Dzulhijjah ini termasuk salah satu dari empat bulan yang dimuliakan atau asyhurul hurum, sebagaimana yang diinformasikan dalam Alquran. Pada bulan-bulan ini dilarang keras melakukan tindak kejahatan, dosa, dan maksiat. Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah 12 bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya 4 bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu." (Q.s. At-Taubah: 36)
Terkait penamaan bulan haram, Al-Qodhi Abu Ya’la rahimahullah menjelaskan adanya dua makna yang perlu diketahui kaum muslimin.
Pertama, pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orang-orang Jahiliyah pun meyakini demikian.
Kedua, pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan itu. Demikian p**a pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan.” (Lihat Zaadul Masiir, tafsir surat At-Taubah ayat 36).
Sedangkan mengenai empat bulan yang dimaksud pada ayat di atas, disebutkan dalam hadis dari Abu Bakroh, Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:
الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ
"Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada 12 bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqa'dah, Dzulhijjah, dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadal (akhir) dan Sya'ban." (H.r. Bukhari dan Muslim).
Jamaah sidang Jumat rahimakumullah ...
Nama Dzulqa’dah berasal dari dua kata, yaitu dzu berarti “pemilik” dan qa’dah yang berarti “tempat yang diduduki”. Dzulqa’dah berarti bulan duduk-duduk. Maksudnya adalah dahulu orang-orang Arab sebelum kehadiran Islam memilih duduk-duduk berdiam di rumah dan menahan diri dari peperangan pada bulan tersebut. Demikian pendapat al-Biruni dalam kitabnya.
Di antara keistimewaan bulan Dzulqa'dah adalah sebagai berikut:
Pertama, diharamkan berperang dan mendzalimi diri sendiri. Bulan Dzulqa'dah juga diagungkan karena dalam bulan tersebut Allah Subhanahu wa ta'ala melarang umat manusia untuk berperang. Hal ini senada dengan makna secara harfiyah dari "Dzulqa'dah", yaitu "bulan duduk-duduk, tidak ada aktivitas peperangan".
Disebut dengan bulan haram karena pada bulan tersebut diharamkan maksiat dengan keras, begitu p**a pembunuhan. Demikian kata pendapat As-Sa'di dalam kitab tafsir Taisir Al-Karimir Rahman. Keyakinan pengharaman ini juga sudah dipegang oleh orang-orang Arab Jahiliyah. Dalam Tafsir Al Jalalain disebutkan, “Janganlah menzalimi diri kalian sendiri”, yaitu janganlah berbuat maksiat pada bulan-bulan haram karena dosanya lebih besar.
Kedua, bulan Dzulqa’dah merupakan salah satu bulan haji. Dzulqa'dah merupakan satu dari bulan-bulan haji yang dijelaskan Allah Subhanahu wa ta'ala dalam firman-Nya:
الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ
"(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklum." (Q.s. Al-Baqarah: 197).
Dalam tafsir Ibnu Katsir dikemukakan bahwa asyhurun ma’lumat merupakan bulan yang tidak sah ihram untuk menunaikan ibadah haji, kecuali pada bulan-bulan ini. Disebutkan p**a bahwa bulan-bulan tersebut adalah Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.
Ibnu Rajab menyatakan dalam kitab Lathaaiful Ma'arif bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam melaksanakan ibadah umrah sebanyak empat kali dalam bulan-bulan haji. Sementara itu, Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa menunaikan umrah pada bulan-bulan haji sama halnya dengan menunaikan haji di bulan-bulan haji.
Bulan-bulan haji ini dikhususkan oleh Allah Subhanahu wa ta'ala dengan ibadah haji, dan Allah Ta'ala mengkhususkan bulan-bulan ini sebagai waktu pelaksanaannya. Sementara umrah merupakan haji kecil (hajjun ashghar). Maka, waktu yang paling utama untuk umrah adalah pada bulan-bulan haji, termasuk di antaranya adalah bulan Dzulqa'dah.
Jamaah sidang Jumat rahimakumullah ...
Ketiga, bertemunya Nabi Musa dengan Allah Ta'ala. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah Subhanahu wa ta'ala:
وَوَاعَدْنَا مُوسَى ثَلَاثِينَ لَيْلَةً وَأَتْمَمْنَاهَا بِعَشْرٍ فَتَمَّ مِيقَاتُ رَبِّهِ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً وَقَالَ مُوسَى لِأَخِيهِ هَارُونَ اخْلُفْنِي فِي قَوْمِي وَأَصْلِحْ وَلَا تَتَّبِعْ سَبِيلَ الْمُفْسِدِينَ
"Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu 30 malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan 10 (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya 40 malam. Dan berkata Musa kepada saudaranya yaitu Harun: 'Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan' (Q.s. Al A'raf: 142).
30 malam itu adalah satu bulan Dzulqa’dah dan 10 malam itu maksudnya adalah 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. (Tafsir al-Manar karya Rasyid Ridha: 9/104)
Keempat, dilipatgandakan balasan amal manusia. Imam At-Thabari menyebutkan dalam tafsirnya bahwa bulan Dzulqa'dah adalah bulan haram, yaitu bulan yang dijadikan oleh Allah Subhanahu wa ta'ala sebagai bulan yang suci lagi diagungkan kehormatannya. Di dalamnya terdapat amalan-amalan baik yang akan dilipatgandakan pahalanya. Sedangkan amalan-amalan buruk juga akan dilipatgandakan dosanya.
Adapun Ibnu ’Abbas berpendapat, "Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan shaleh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.” (Latha’if Al Ma’arif, 207)
Kelima, disunahkan untuk melaksanakan umrah. Karena Rasulullah Saw. melakukan semua umrah beliau di bulan Dzulqa’dah. Sejak diutus menjadi Nabi, Rasulullah Saw. melaksanakan umrah sebanyak empat kali.
Pertama: Umrah Hudaibiyyah yang terjadi pada tahun 6 Hijriah. Nabi tidak menyempurnakan umrahnya karena dihalangi oleh kaum Quraisy untuk memasuki Makkah, dan kemudian menjadi latar belakang ditandatanganinya perjanjian Hudaibiyah.
Kedua: Umrah al-Qadha’, yang dilakukan tahun sesudahnya sebagai pengganti umrah yang tidak sempurna pada tahun sebelumnya. Ketiga: Umrah al-Ji’irranah, yang dilakukan Nabi pada tahun 8 Hijriah dan keempat: Umrah yang dilakukan bersama Haji Wada’ pada tahun 10 Hijriah.
Oleh karena itulah, sebagian ulama berpendapat bahwa umrah di bulan Dzulqa’dah lebih utama daripada umrah di bulan Ramadhan, karena semua umrah Rasulullah Saw. dilakukan pada bulan Dzulqa’dah.
Amal-amal ketaatan yang perlu menjadi perhatian kaum muslimin pada bulan Dzulqadah selain umrah adalah puasa, sedekah, memperbanyak doa dan dzikir, serta amalan ketaatan lainnya.
Jamaah sidang Jumat rahimakumullah ...
Demikianlah, semoga pengetahuan kita tentang keutamaan bulan Dzulqa’dah ini akan menambah amal-amal kebaikan dan menjauhi larangan-larangan yang ada di dalamnya.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ في اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
*Khutbah Ke-2*
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ
أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُه.
«يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ»
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا وَحَبِيْبِنَا وَشَفِيْعِنَا وَكَرِيْمِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ اْلأَوَّلِيْنَ وَاْلآخِرِيْن، وَسَلِّمْ وَرَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْ كُلِّ صَحَابَةِ رَسُوْلِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ .
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْن، حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَ يُكَافِئُ مَزِيْدَه، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ كَمَا يَنْبَغِى لِجَلاَلِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
رَبَّناَ اغْفِرْ لَناَ ذُنُوْبَناَ وَ لِوَالِدِيْناَ وَارْحَمْهُم كَمَا رَبَّوْناَ صِغَاراً
اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ حُبَّك، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّك، وَالْعَمَلَ الَّذِى يُبَلِّغُنِى حُبَّك، اللَّهُمَّ اجْعَلْ حُبَّكَ أَحَبَّ إِلَىَّ مِنْ نَفْسِي وَأَهْلِي وَمِنَ الْمَاءِ الْبَارِدِ
اللَّهُمَّ يَا مُصَرِّفَ الْقُلُوْبِ، صَرِّفْ قُلُوْبَنَا عَلَى دِينِكَ
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِي دِينِي الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي، وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي فِيهَا مَعَاشِي، وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِي الَّتِي فِيهَا مَعَادِي، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ
اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاء، وَالْوَبَاء، وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَن، وَسُوْءَ الْفِتَن، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَن، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً، وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. أَقِيْمُوا الصَّلاَة